Minggu, 15 November 2009

Grup “Curhat Setan”

Saya melewati masa remaja saya dengan banyak pertanyaan di kepala. Banyak sekali. Namun sayangnya, saya tak punya tempat untuk membukakan kran pikiran saya dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya menemukan salurannya. Berbagai pertanyaan menguap dari kepala saya, sebagian yang lain membusuk, tapi hari-hari saya selalu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru—bercecabang, menjadi banyak dan semakin banyak. Ingin sekali saya bertanya dan selalu bertanya, tapi saya tumbuh di sebuah pesantren yang tak begitu mendukung tradisi bertanya. Bertanya lebih sering dianggap sebagai tindakan yang tidak benar, salah dan bahkan dosa.

Suatu kali saya keluar dari lingkungan pesantren untuk satu keperluan, dalam perjalan saya bertemu dengan orang berbeda agama yang sangat baik dan sopan, sementara saya menemukan teman-teman dan banyak orang di pesantren berperilaku tidak baik dan tidak sopan; saya mulai mempertanyakan apa hubungan antara agama dan kebaikan perilaku seseorang? Apakah surga hanya untuk orang dengan agama tertentu saja, dan itu berarti Tuhan lebih menghargai tindakan buruk yang dilakukan seseorang yang memeluk agama tertentu daripada tindakan baik seeorang yang tidak memeluk agama tertentu? Mungkinkah Tuhan bersikap tak adil?

Sesampainya di pesantren, saya bertanya pada beberapa guru dan beberapa kakak kelas yang saya anggap memiliki pengetahuan yang memadai soal agama. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru disuruh bertobat! Menurut mereka saya sudah lancang dan berdosa dengan bertanya demikian. Seratus persen saya tak mendapat jawaban apapun, saya justru mendapat intervensi kesalahan dan dosa dari apa yang saya lakukan. Bukannya kapok bertanya, pertanyaan lain justru lahir di kepala saya; mungkinkah mereka tak sanggup menjawab pertanyaan saya sehingga mereka merasa perlu mempersalahkan seseorang yang mempertanyakan hal yang tidak mereka ketahui? Tuhan tak adil lagi, pikir saya, benarkah dia lebih menghargai ketaatan daripada ikhtiar menemukan kemantapan keyakinan?

Sejak saat itu, saya selalu membayangkan sebuah dunia yang memperbolehkan kita bertanya apa saja. Tanpa intervensi rasa bersalah atau rasa berdosa, tanpa kekhawatiran etis atau rasa waswas akan dipersalahkan, dan setrusnya. Memang apa salahnya bertanya? Bukankah bertanya merupakan ikhtiar untuk menemukan “yang benar”—mengonfirmasi segala sesuatu agar seperti “seharusnya”? Jadi, bukankah wajar melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam rangka menemukan “yang benar” atau “yang paling benar”? Rasanya tidak ada yang perlu dipersalahkan.

Tahun 2006 saya meniatkan diri untuk mengampanyekan kebebasan bertanya—bukan hanya kebebasan berpendapat yang perlu diperjuangkan. Di rumah, di kampus, di tempat bermain, di lapangan bola, di masjid, di pasar, di terminal, di mana saja saya mendorong semua orang untuk berani bertanya… terutama para remaja, saya tahu mereka punya banyak pertanyaan, maka saya mendorong mereka untuk bertanya dan bertanya.

Tahun 2008 saya menulis sebuah buku sederhana tentang “bertanya”, saya menuliskannya dalam format prosa dan cerita, judulnya A Cat in My Eyes, diterbitkan oleh Gagas Media. Dari buku itu, saya dan beberapa orang teman membuatkan semacam tagline yang mengampanyekan kebebasan bertanya: karena bertanya tak membuatmu berdosa.

Buku itu mendapatkan sambutan yang cukup baik dari para pembacanya, melalu e-mail dan beberapa interaksi di acara diskusi buku tersebut, ternyata banyak sekali remaja yang memiliki pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama seperti yang saya pertanyakan di buku tersebut. Tentang apa saja, mulai dari hidup, cinta, sampai tuhan. Ratusan e-mail masuk ke akun saya menyatakan bahwa mereka juga merindukan “dunia” atau paling tidak “ruang” yang memperbolehkan mereka bertanya apa saja.

***

Serasa mendapatkan energi dari buku pertama tentang bertanya, saya memutuskan untuk menulis buku berikutnya, Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Lewat buku ini saya ingin berbagi satu keyakinan: tanpa kita sadari dosalah yang membuat manusia bertumbuh dan semakin dewasa. Bahkan, tanpa bermaksud berlebihan, kadang-kadang institusi dosalah yang membuat manusia kreatif dalam merumuskan langkah-langkah baru yang akan ia tempuh. Bayangkan jika tak pernah ada institusi “salah” dan “dosa”, tentu hidup kita lempang. Sebab, seringkali—untuk tak mengatakan selalu—salah dan dosalah yang membuat kita merenung, berintrospeksi, bertanya-tanya… dan perenungan, introspeksi, serta pertanyaanlah yang membuat kecerdasan kita berkembang, kedewasaan kita tumbuh, dan kemanusiaan kita menemukan maknanya.

Kini, Curhat Setan baru saja terbit dan beredar di took buku. Entah bagaimana respon pembaca pada buku itu, entah bagaimana mereka “menerima” sebuah tawaran untuk merayakan kebebasan bertanya, kebebasan berteguh pada pencarian kebenaran. Sejauh ini, dua band indie asal Bandung sudah membuatkan dua book soundtrack untuk buku itu. Yang pertama datang dari BFDF, band punk-pop-party asal Bandung dengan lagu berjudul Curhat Setan (bida di-download di sini). Yang kedua, The Ma’had, kali ini band beraliran rock and roll. Lagunya sedang dalam proses penggarapan, tapi liriknya kurang lebih begini, judulnya “Hey!”, saya yang menulis liriknya:

Hey!

Hey, kau yang hidup di balik cermin
lihatlah aku punya seribu masalah di kepalaku
Samakah duniaku dengan duniamu
Adakah gundah, dosa, gelisah, di duniamu

Hey, kau yang hidup di balik cermin
tataplah aku punya sejuta dosa dalam hidupku
Samakah gelisahku dengan gelisahmu
Adakah aturan, agama, sekolah, di duniamu

Hey siapa saja kau di balik cermin
Culiklah aku pecahkan batas itu
Biarkan aku masuki duniamu

Hey, kau yang hidup di balik cermin
Kini aku di duniamu dan kau di duniaku
Ternyata sama saja duniaku dan duniamu
Seribu gundah, dosa, gelisah, tetap di kepalaku

Hey, kau yang hidup di balik cermin
Oh, bukan dunia yang menentukan hidupku
Ternyata sama saja duniaku dan duniamu
Akulah yang menentukan hidupku

Hey siapa saja kau di balik cermin
Pulankanglah aku tembus lagi batas itu
Biarkan aku kembali ke duniaku

Hey, kau yang hidup di balik cermin
Bukan siapa-siapa yang menentukan hidupmu
Bukan malaikat atau setan, agama atau aturan
Kaulah tuannya, kaulah yang tahu semuanya

Hey siapa saja kau di balik cermin
Biarkan aku masuki lagi kesadaran itu
Biarkan aku tentukan arah hidupku

Di samping itu, saya juga membuat sebuah grup di Facebook untuk mengetahui respon pembaca pada buku tersebut. Kita juga bisa berdiskusi, berbagi pengalaman, dan bercerita tentang apa saja di sana. Bergabunglah dengan grup itu. Saya ada di sana dan akan lebih aktif di sana ketimbang di blog. :)



Tabik!
Fahd Djibran

Selasa, 27 Oktober 2009

Curhat Setan: Manusia Tentukan Hidupnya!

aturan dan agama keangkuhan
yang hadir setelah kebebasan
surga selalu jadi ekspektasi
meski dosa penuhi hidupmu

setankah alasan bodohnya rutinitasmu
atau pilihan manusia untuk benar dan salah

kau tahu dunia tergerak olehmu
lalu kenapa setan selalu disalahkan

kembalikan semua pada diri kita
hancurkan semua alasan bodoh itu
setan bukanlah penguasa jiwa
manusia tentukan hidupnya

[Curhat Setan, music by BFDF, lyric by Futih BFDF & Fahd Djibran]

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas sambutan yang tak saya sangka-sangka atas buku A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa dari kalian semua. E-mail-e-mail yang datang pada saya, berbagai resensi, komentar di blog, maupun pesan yang masuk melalui Facebook membuat saya yakin dan bersemangat untuk terus “memprovokasi” lebih banyak lagi anak muda untuk “bertanya” dan “berefleksi” pada seluruh persoalan hidup yang sedang kita hadapi.

Apalagi, beberapa dari mereka yang mengirim pesan dan berkomentar atas buku itu menyatakan bahwa mereka mulai tergerak untuk tidak sekadar menerima apa saja yang datang dalam kehidupan mereka. Mereka mulai berani “menunda”, memberi jarak, dan memantul-pantulkannya terlebih dahulu sebelum sesuatu itu diterima dan dijalankan—differance, kata Jacques Derrida.

Jika kita sepakat bahwa sebuah karya, apa pun itu, merupakan formulasi dari pengetahuan, gagasan, nilai, makna-makna, pengalaman, bentuk kognisi dan ekspresi mental dari penciptanya, maka sketsa, prosa, cerita, atau apa pun itu, yang saya hadirkan dalam buku-buku dan seluruh karya saya adalah ikhtiar saya untuk berbagi—dengan cara yang paling mungkin saya lakukan: menulis. Jika “hal-hal yang saya bagikan” itu kelak mampu menghidupi dirinya sendiri, saya sudah merasa cukup. Apalagi, bila “hal-hal yang saya bagikan” itu memiliki “energi-hidup” yang bisa bermanfaat bagi orang lain; saya patut merasa bangga. Tentu saja, hal yang paling berharga bagi penulis atau kreator mana pun adalah ketika karyanya memberikan manfaat bagi siapa pun yang mendekati dan bersentuhan dengannya—meskipun sedikit.

Alasan itulah yang kini mendorong saya kembali menulis “semacam sekuel” untuk A Cat In My Eyes: Karena Bertanya Membuatmu Berdosa. Namun, kali ini, konsep dan pengemasan judulnya dibuat agak berbeda; Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Saya masih menulis dengan gaya yang cenderung pendek, menghadirkan hal-hal sederhana di keseharian, dan tetap berusaha meninjau ulang kelaziman-kelaziman yang sebenarnya patut atau justru harus dipertanyakan dan dirumuskan ulang (pe-)makna(-an)nya.

Kali ini, mungkin semacam “curhat”—dalam curhat tak ada batas yang sepenuhnya harus dipatuhi, bukan? Maka, barangkali kalian akan (kembali) kesulitan menentukan genre buku ini karena disajikan dengan gaya yang saya sendiri tak tahu harus menyebutnya apa. Sebab, “curhat” bagi saya tak butuh gaya atau genre, curhat adalah seni melepaskan sesuatu yang sebelumnya terkurung dalam “rumah keong” diri sendiri untuk menemukan temannya di luar sana—sesuatu yang meski terbaca, terlihat, atau terdengar sederhana, namun sebenarnya berangkat dari semangat, usaha, dan itikad yang sungguh-sungguh.

Karena berdosa membuatmu selalu bertanya; inilah tema diskusi kita dalam buku saya kali ini. Tanpa kita sadari dosalah yang membuat manusia bertumbuh dan semakin dewasa. Bahkan, tanpa bermaksud berlebihan, kadang-kadang institusi dosalah yang membuat manusia kreatif dalam merumuskan langkah-langkah baru yang akan ia tempuh. Bayangkan jika tak pernah ada institusi “salah” dan “dosa”, tentu hidup kita lempang. Sebab, seringkali—untuk tak mengatakan selalu—salah dan dosalah yang membuat kita merenung, berintrospeksi, bertanya-tanya… dan perenungan, introspeksi, serta pertanyaanlah yang membuat kecerdasan kita berkembang, kedewasaan kita tumbuh, dan kemanusiaan kita menemukan maknanya.

Namun, sayangnya selama ini kita didik dan dibiasakan untuk mengkambinghitamkan setan sebagai musabab dari segala salah dan dosa. Tanpa kesadaran, kemampuan, dan keinginan untuk berpikir, merenung, dan mengakui bahwa sebenarnya kitalah yang menentukan arah hidup kita sendiri—benar dan salah, hitam dan putih, baik dan buruk. Setan hanyalah instrumen yang memberi pilihan kesalahan dan kedosaan, ia hanya mengajak, mempersuasi, ia bukan yang menentukan hidup kita. Di sisi lain, ada instrumen lain yang selalu mempersuasi dan menarik kita pada kebenaran-kebenaran dan kebaikan-kebaikan. Manusia ada di tengah-tengah keduanya, memiliki kehendak bebas dan kewenangan untuk menentukan mana yang ingin ia pilih dan ikuti. Seperti kata BFDF:

setankah alasan bodohnya rutinitasmu
atau pilihan manusia tuk benar dan salah
kau tahu dunia tergerak olehmu
lalu kenapa setan selalu disalahkan

kembalikan semua pada diri kita
hancurkan semua alasan bodoh itu
setan bukanlah penguasa jiwa
manusia tentukan hidupnya

Kita melalui institusi agama—terlebih dengan tafsir yang keliru-keliru—justru membuat segalanya menjadi terasa “wajar” ketika kita berbuat salah dan dosa, sebab kita bisa menyalahkan oknum yang mendalangi semuanya: setan. Jadilah kita tak pernah benar-benar belajar mengakui dan menentukan bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar dengan kemampuan dan kesadaran kita sendiri. Inilah pertanyaan kritis yang sedang diajukan BFDF: kau tahu dunia tergerak olehmu, lalu kenapa setan selalu disalahkan?

Inilah Curhat Setan. Sebuah cermin lain yang ingin mengatakan kepadamu bahwa setan bukanlah penguasa jiwamu, tapi kamulah yang memiliki kewenangan, pilihan, otoritas, dan kehendak bebas untuk menentukan benar dan salah hidupmu. Belajarlah untuk mengakui kesalahan dan dosa-dosa. Belajarlah untuk menjadi manusia bebas yang menentukan hidupnya sendiri.

***

No book is an island, and my debts are great. Saya ingin berterima kasih pada GagasMedia yang (sekali lagi) memberi kesempatan untuk saya memprovokasi lebih banyak anak muda untuk “bertanya” dan memaknai ulang hidup yang mereka hidupi dan hidup yang ingin mereka hidup-hidupkan. Terutama untuk Windy Ariestanty, yang begitu baik dan penuh semangat. Gita Romadhona, editor buku ini dan buku saya sebelumnya di GagasMedia. Jeffri Fernando yang membuatkan desain yang sangat “berkonsep” untuk cover buku ini. Dan tentu saja, teman-teman pembaca blog pribadi saya (http://www.ruangtengah.co.nr) yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas support dan apresiasinya selama ini. Dan tentu saja, BFDF, band beraliran melodic punk asal Bandung yang membuatkan soundtrack yang begitu hebat untuk buku ini. Terima kasih untuk Bassit Anugrah (bass), Fahri Abdul Rosyid (drum), Dzikri Ayatullah (melodic guitar) dan tentu saja Futih Aljihadi (guitar, vocal) atas karya musik kalian yang membuat pesan buku ini akan lebih menggema dan didengar sebanyak mungkin orang.

Akhirnya, bagi kalian yang mengira Zira adalah saya. Kalian akan menemukan bahwa Zira ternyata bukan saya dalam buku ini. Dan, bagi kalian yang bertanya-tanya siapa kira-kira J dalam Pertanyaan untuk J, kali ini saya menghadirkan tokoh baru, K, dalam Pertanyaan untuk K. Selamat menebak. Inilah Curhat Setan, selamat mendengarkan!

Salam,
Fahd Djibran

PS. Silakan men-download soundtrack Curhat Setan dari BFDF di sini.

Selasa, 20 Oktober 2009

Segera Gentayangan di Toko Buku!

Judul: Curhat Setan
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: GagasMedia

Inikah Dunia-Antara? Sesuatu di luar hitam-putih realitas, sesuatu di antara jangkauan dua pilihan. Sebuah tempat yang tak pernah dijanjikan dalam kitab suci manapun, sebuah dunia tanpa pahala dan dosa, tanpa benar dan salah, tanpa nilai-nilai, tanpa nama-nama. Begitu saja kutahu dan kuyakini: mungkin semacam alternatif ketiga selain positif dan negatif, benar dan salah, baik dan buruk, harus dan jangan, panas dan dingin, ya dan tidak, dan semua pilihan-pilihan lainnya.

Ruang ini adalah netralitas yang tak terdistorsi nilai-nilai, selalu lolos dari jebakan takdir. Ruang yang mengambang saat sebuah koin dilemparkan di udara, saat rauang pengadilan ditekan tombol pause-nya. Saat kebaikan berdamai dengan kejahatan. Saat Tuhan absen dari kemestian rivalitas setan dan malaikat.

“Perkenalkan, namaku Setan!” Katanya sambil tersenyum. Ramah.

***

Curhat Setan akan mengajakmu berselancar memasuki berbagai sensasi perasaan, badai pikiran, kejutan takdir, kebetulan-kebetulan yang rapi, intervensi pahala dan dosa, dan apa saja yang selama ini membuat kita heran dan bertanya-tanya: ada (si)apa di balik hidup? Apa yang diinginkan hidup?

Curhat Setan akan mengajakmu memasuki Dunia-Antara, saat kamu sendirilah yang menimbang segalanya, memutuskan segalanya. Inilah Curhat Setan, selamat mendengarkan!