Suatu kali saya keluar dari lingkungan pesantren untuk satu keperluan, dalam perjalan saya bertemu dengan orang berbeda agama yang sangat baik dan sopan, sementara saya menemukan teman-teman dan banyak orang di pesantren berperilaku tidak baik dan tidak sopan; saya mulai mempertanyakan apa hubungan antara agama dan kebaikan perilaku seseorang? Apakah surga hanya untuk orang dengan agama tertentu saja, dan itu berarti Tuhan lebih menghargai tindakan buruk yang dilakukan seseorang yang memeluk agama tertentu daripada tindakan baik seeorang yang tidak memeluk agama tertentu? Mungkinkah Tuhan bersikap tak adil?
Sesampainya di pesantren, saya bertanya pada beberapa guru dan beberapa kakak kelas yang saya anggap memiliki pengetahuan yang memadai soal agama. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru disuruh bertobat! Menurut mereka saya sudah lancang dan berdosa dengan bertanya demikian. Seratus persen saya tak mendapat jawaban apapun, saya justru mendapat intervensi kesalahan dan dosa dari apa yang saya lakukan. Bukannya kapok bertanya, pertanyaan lain justru lahir di kepala saya; mungkinkah mereka tak sanggup menjawab pertanyaan saya sehingga mereka merasa perlu mempersalahkan seseorang yang mempertanyakan hal yang tidak mereka ketahui? Tuhan tak adil lagi, pikir saya, benarkah dia lebih menghargai ketaatan daripada ikhtiar menemukan kemantapan keyakinan?
Sejak saat itu, saya selalu membayangkan sebuah dunia yang memperbolehkan kita bertanya apa saja. Tanpa intervensi rasa bersalah atau rasa berdosa, tanpa kekhawatiran etis atau rasa waswas akan dipersalahkan, dan setrusnya. Memang apa salahnya bertanya? Bukankah bertanya merupakan ikhtiar untuk menemukan “yang benar”—mengonfirmasi segala sesuatu agar seperti “seharusnya”? Jadi, bukankah wajar melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam rangka menemukan “yang benar” atau “yang paling benar”? Rasanya tidak ada yang perlu dipersalahkan.
Tahun 2006 saya meniatkan diri untuk mengampanyekan kebebasan bertanya—bukan hanya kebebasan berpendapat yang perlu diperjuangkan. Di rumah, di kampus, di tempat bermain, di lapangan bola, di masjid, di pasar, di terminal, di mana saja saya mendorong semua orang untuk berani bertanya… terutama para remaja, saya tahu mereka punya banyak pertanyaan, maka saya mendorong mereka untuk bertanya dan bertanya.
Tahun 2008 saya menulis sebuah buku sederhana tentang “bertanya”, saya menuliskannya dalam format prosa dan cerita, judulnya A Cat in My Eyes, diterbitkan oleh Gagas Media. Dari buku itu, saya dan beberapa orang teman membuatkan semacam tagline yang mengampanyekan kebebasan bertanya: karena bertanya tak membuatmu berdosa.
Buku itu mendapatkan sambutan yang cukup baik dari para pembacanya, melalu e-mail dan beberapa interaksi di acara diskusi buku tersebut, ternyata banyak sekali remaja yang memiliki pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama seperti yang saya pertanyakan di buku tersebut. Tentang apa saja, mulai dari hidup, cinta, sampai tuhan. Ratusan e-mail masuk ke akun saya menyatakan bahwa mereka juga merindukan “dunia” atau paling tidak “ruang” yang memperbolehkan mereka bertanya apa saja.
***
Serasa mendapatkan energi dari buku pertama tentang bertanya, saya memutuskan untuk menulis buku berikutnya, Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Lewat buku ini saya ingin berbagi satu keyakinan: tanpa kita sadari dosalah yang membuat manusia bertumbuh dan semakin dewasa. Bahkan, tanpa bermaksud berlebihan, kadang-kadang institusi dosalah yang membuat manusia kreatif dalam merumuskan langkah-langkah baru yang akan ia tempuh. Bayangkan jika tak pernah ada institusi “salah” dan “dosa”, tentu hidup kita lempang. Sebab, seringkali—untuk tak mengatakan selalu—salah dan dosalah yang membuat kita merenung, berintrospeksi, bertanya-tanya… dan perenungan, introspeksi, serta pertanyaanlah yang membuat kecerdasan kita berkembang, kedewasaan kita tumbuh, dan kemanusiaan kita menemukan maknanya.
Kini, Curhat Setan baru saja terbit dan beredar di took buku. Entah bagaimana respon pembaca pada buku itu, entah bagaimana mereka “menerima” sebuah tawaran untuk merayakan kebebasan bertanya, kebebasan berteguh pada pencarian kebenaran. Sejauh ini, dua band indie asal Bandung sudah membuatkan dua book soundtrack untuk buku itu. Yang pertama datang dari BFDF, band punk-pop-party asal Bandung dengan lagu berjudul Curhat Setan (bida di-download di sini). Yang kedua, The Ma’had, kali ini band beraliran rock and roll. Lagunya sedang dalam proses penggarapan, tapi liriknya kurang lebih begini, judulnya “Hey!”, saya yang menulis liriknya:
Hey!Di samping itu, saya juga membuat sebuah grup di Facebook untuk mengetahui respon pembaca pada buku tersebut. Kita juga bisa berdiskusi, berbagi pengalaman, dan bercerita tentang apa saja di sana. Bergabunglah dengan grup itu. Saya ada di sana dan akan lebih aktif di sana ketimbang di blog. :)
Hey, kau yang hidup di balik cermin
lihatlah aku punya seribu masalah di kepalaku
Samakah duniaku dengan duniamu
Adakah gundah, dosa, gelisah, di duniamu
Hey, kau yang hidup di balik cermin
tataplah aku punya sejuta dosa dalam hidupku
Samakah gelisahku dengan gelisahmu
Adakah aturan, agama, sekolah, di duniamu
Hey siapa saja kau di balik cermin
Culiklah aku pecahkan batas itu
Biarkan aku masuki duniamu
Hey, kau yang hidup di balik cermin
Kini aku di duniamu dan kau di duniaku
Ternyata sama saja duniaku dan duniamu
Seribu gundah, dosa, gelisah, tetap di kepalaku
Hey, kau yang hidup di balik cermin
Oh, bukan dunia yang menentukan hidupku
Ternyata sama saja duniaku dan duniamu
Akulah yang menentukan hidupku
Hey siapa saja kau di balik cermin
Pulankanglah aku tembus lagi batas itu
Biarkan aku kembali ke duniaku
Hey, kau yang hidup di balik cermin
Bukan siapa-siapa yang menentukan hidupmu
Bukan malaikat atau setan, agama atau aturan
Kaulah tuannya, kaulah yang tahu semuanya
Hey siapa saja kau di balik cermin
Biarkan aku masuki lagi kesadaran itu
Biarkan aku tentukan arah hidupku
Tabik!
Fahd Djibran
