Fahd Djibrna's Journal

Saya, Revolvere Project, dan (Gagasan) Fiksi Lintas Media

print this page
send email
| Esai |


Saya dan Fiksi

Sejak saya memutuskan untuk “menulis cerita”, saya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda—baik gaya maupun isi ceritanya. Saya berusaha memposisikan cerita-cerita saya sebagai “jendela”, “pintu”, atau apa saja yang bisa dimasuki pembaca dengan perasaan dan pikirannya masing-masing. Saya ingin cerita, atau lebih jauh tulisan saya, hanya bertugas menstimulasi satu titik dari pikiran atau perasaan pembaca saya untuk kemudian menghadirkan cerita, perasaan, atau pikiran lain di diri masing-masing mereka.

Maka saya selalu berusaha membuat cerita yang serba “minimal”. Tokoh yang minimal—yang mungkin tidak perlu diterangkan secara detail. Setting yang minimal—tanpa deskripsi yang membatasi imajinasi pembaca. Dan tentu saja alur yang minimal—sesederhana mungkin sebagaimana pernah dialami oleh banyak orang yang mungkin akan membaca cerita saya.

Tanpa memiliki konflik yang jelas dan terencana, bagi sebagian orang cerita saya barangkali jelek (karena mungkin memang begitu). Tapi sesungguhnya saya selalu dengan sadar merencanakan bahwa konflik dari semua cerita-cerita saya akan terjadi di hati dan pikiran pembaca-pembacanya. Singkatnya, saya ingin membuat cerita/tulisan yang sangat melibatkan “pembaca sebagai dirinya sendiri”; hingga mereka akan menemukan bahwa bukan orang lain yang saya ceritakan (meski kadang meminjam nama tertentu semisal Zira, Rayya atau Marva) tetapi sebetulnya tentang diri mereka sendiri.


Aha! Moment

Sejak kecil saya selalu tertarik pada bacaan yang membuat saya menemukan “diri saya” ada di dalamnya. Sesuatu yang membuat saya merasa “gue banget”. Cerita yang tak mendikte ke mana pikiran dan perasaan saya ingin pergi—imajinasi yang menyediakan dirinya sebagai pintu atau jendela yang bisa dimasuki siapa saja untuk menemukan Aha! Moment-nya masing-masing. Dengan alasan itulah saya mulai bekerja menulis cerita-cerita yang kadang-kadang lebih mirip puisi panjang, prosa liris, cerpen, esai, atau apapun, tetapi sebetulnya saya tidak tahu saya sedang menulis dalam “jenis apa”. Saya selalu kebingungan menentukan “nama” bagi sesuatu yang saya tulis. Barangkali sintesis dari semuanya? Barangkali.

Apakah cerita/tulisan saya bagus? Saya tidak tahu. Karena saya hanya pembuat “pintu” dan “jendela”, jadi mungkin cerita/tulisan saya memang tidak bagus (tidak baik dan benar). Bagi saya, yang terpenting bukan tulisan saya dinilai bagus atau tidak kok, tetapi bagaimana tulisan saya berhasil menyediakan pintu dan jendela bagi para pembaca saya agar mereka bisa memasuki “dirinya masing-masing”. Menemukan Aha! Moment-nya masing-masing.

Apakah saya berhasil? Masih jauh untuk menjawabnya. Sekarang saya hanya pembuat “pintu” dan “jendela” yang bahagia mendapati banyak orang yang tertarik masuk ke dalamnya. Harus diakui kadang-kadang saya tergoda juga dengan keberhasilan banyak “tukang cerita” menyedot ribuan bahkan jutaan pembaca melalui buku-bukunya. Kadang-kadang saya ingin menjadi mereka. Tetapi saya sadar, tugas saya menulis bukan untuk menjadi terkenal dan membuat buku saya laku terjual. Saya akan jauh lebih bahagia jika banyak orang tertarik memasuki dirinya masing-masing, bukan sebagai orang lain.

Alasan inilah, untuk pertama kalinya saya kemukakan kepada khalayak, yang mendorong saya mengerjakan karya-karya saya selama ini dalam berbagai bentuknya yang barangkali “aneh” atau tidak sejalan dengan apa yang lumrah. Saya beruntung hidup di era blog, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya. Sebab saya bisa membuat “medan” saya sendiri. Saya tidak bisa membayangkan bila saya tumbuh sebagai penulis di era 10 atau 20 tahun lalu, di mana tulisan kita harus dimuat di koran atau majalah jika ingin dibaca publik, pasti sulit bagi saya menemukan ruang untuk menemukan pembaca. Alasannya tentu saja karena tulisan-tulisan saya—dengan tema dan gaya seperti saya ceritakan di atas—tidak suitable dengan selera korhttp://www.blogger.com/img/blank.gifan atau majalah. Saya juga beruntung karena masih ada sejumlah penerbit “gila” yang mau gambling menerbitkan karya-karya saya. Terima kasih pada Mizan, GagasMedia, Kurniaesa Publishing, dan lainnya yang telah menerbitkan buku-buku saya.


Saya dan Fiksi Lintas Media

Kini saya bekerja dengan format yang lain: fiksi-musik-visual. Bukan sesuatu yang sama sekali baru sih, tetapi mungkin memang belum umum. Mas Damar Juniarto, atau kita kenal juga dengan nama Amang Suramang, menyebutnya sebagai “fiksi lintas media”. Apapun namanya, saya senang mengerjakannya, dan tidak ada seorangpun yang akan saya biarkan untuk menghentikan kesenangan saya berkreativitas di jalur ini.

Alasan saya mengerjakan karya-karya fiksi-auvi (fiksi-audio-visual, ini istilah lain yang datang dari Pak Bambang Trimansyah, senior dunia perbukuan Indonesia) karena saya menemukan cara baru menyediakan “pintu” dan “jendela” yang bisa mengajak penikmatnya memasuki dirinya masing-masing. Musik membantu kita menyituasikan perasaan, sementara visual (foto, gambar bergerak, citra, warna) membantu daya imajinasi kita. Jika kedua elemen ini digabung dengan “fiksi” dalam konsep yang saya ceritakan di atas, saya pikir ia akan menjadi sesuatu yang bisa lebih baik lagi mengajak pembaca menemukan Aha! Moment-nya.

Saya membayangkan kelak cerita/fiksi tidak hanya dibaca di buku, majalah, koran, blog, atau media baca lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi, saya membayangkan kelak orang-orang akan memandang komputer, laptop, iPad, tablet, atau smartphone-nya masing-masing dan memasang earphone atau menyalakan speaker untuk menikmati sajian fiksi yang diputar melalui media video, lengkap dengan musik yang mengalir mengisi setiap ruang rasa dan imajinasi, membawa penikmatnya berkelana ke sudut-sudut semesta bahasa. Bagaimana persebarannya? Mudah sekali, tentu saja. Kita punya Youtube, Facebook, atau lainnya yang kelak akan sangat serba-mungkin dan terbuka.

Anda boleh mendebat saya, tentu saja setelah terus membaca tulisan ini.

Barangkali bagi sebagian orang, musik dan visual justru “membatasi” atau “menggiring” pikiran dan perasaan pembaca pada pikiran dan perasaan tertentu. Saya sudah memikirkan kemungkinan itu kok, itulah sebabnya saya memerlukan gambar, foto, atau video yang tidak terlalu “ikonik” dan musik/lagu yang berisi lirik yang tidak letterlijk dan lebih memiliki keterhubungan dengan pikiran dan perasaan banyak orang (saya tahu musik/lagu bekerja lebih baik untuk “mewakili perasaan dan pikiran banyak orang”, buktinya banyak dari kita yang merasa punya soundtrack hidup masing-masing). Singkatnya, saya perlu musik dan visual yang “sejalan” dengan passion tulisan saya.

Pertama-tama, saya mencoba mengerjakan semuanya sendiri. Cerita, musik, dan visualnya. Ternyata saya menemukan banyak kesulitan karena musik dan visualnya milik orang lain (semua hanya saya dapatkan dari Internet). Agak repot menemukan musik dan gambar yang cocok yang sesuai dengan tulisan saya, juga tentu saja persoalan hak cipta: apakah saya boleh menggunakannya? Akhirnya, karya fiksi-auvi saya yang pertama tampil alakadarnya: Perpisan Termanis. Ceritanya saya buat sendiri, gambarnya saya comot sana-sini dari Internet, musik latarnya menggunakan milik orang lain dengan tanpa izin (kecuali lagu Perpisahan Termanis dari Lovarian yang saya dapatkan langsung izinnya dari band-nya dan si pencipta lagu).

Saya tidak puas, tentu. Meskipun fiksi-auvi tersebut sudah dinikmati lebih dari 15.000 orang di Youtube saja dan rata-rata pembaca menyukainya, saya tetap tidak puas. Ia seolah-olah menjadi karya prematur yang masih meragukan “kehalalan”-nya. Di sanalah saya merasa bahwa saya tidak bisa bekerja sendirian untuk membuat karya dalam bentuk fiksi-auvi semacam itu.


Revolvere Project

Ide tentang fiksi-musik-video kemudian saya ceritakan pada adik saya, Futih Aljihadi, yang kebetulan seorang fotografer dan video-maker. Futih menyambut baik ide ini dan ia menunjukkan ketertarikannya untuk bergabung mengerjakannya bersama-sama. Bahkan, Futihlah yang memperkenalkan saya pada Fiersa Besari, musisi kreatif asal Bandung yang sudah lama saya nikmati karya-karyanya tetapi belum pernah saya temui. Ternyata sebelumnya Futih dan Fiersa sudah pernah bekerjasama dalam sebuah karya musik.

Di sanalah tercetus ide untuk membuat “grup-band aneh” (mungkin ini tidak tepat) yang personelnya adalah penulis, musisi, dan videographer. Setelah ngobrol panjang lebar sambil bertukar ide di sebuah kafe di Bandung, kami sepakat untuk membentuk REVOLVERE PROJECT, sebuah project hibrida fiksi-musik-visual.

Di luar dugaan, hasilnya jauh melebihi apa yang kami bayangkan sebelumnya. Karya kolaborasi pertama kami hadir manjadi sesuatu yang menurut kami “seksi”, ia hibrida fiksi-musik-visual yang bahkan melebihi sesuatu yang kami banyangkan sebelumnya. Sejujurnya, di awal, kami tidak menentukan batasan-batasan yang terlalu rigid bagi karya ini, tetapi kemudian kami sadar bahwa dalam perjalanan pelan-pelan kami sudah menemukan formula tersendiri bagi karya REVOLVERE PROJECT berikutnya. Karya pertama disebarkan melalui Youtube, kini sudah dinikmati lebih dari 2.250 orang dalam waktu satu bulan.

Kejutan-kejutan lainnya kemudian berdatangan. Tanpa diduga karya pertama dari REVOLVERE PROJECT ini berkesempatan untuk dipresentasikan di forum The Reading Group dan Leftwriters, Singapura, pada Oktober 2011. Bahkan, setelah selesai presentasi saya, Prof. Azhar Ibrahim Alwee,Ph.D dari National University of Singapore (NUS) sangat tertarik dan ingin mengundang saya untuk bicara di sebuah seminar sastra yang direncanakan terselenggara tahun depan di kampusnya. Kejutan lainnya datang dari Melbourne, Australia. Setelah melihat karya ini di Youtube, rekan saya dari La Trobe University, Australia, Brynna Refferty-Brown mengirim e-mail berisi apresiasi dan keinginannya menerjemahkan karya ini dan karya-kara saya lainnya ke dalam bahasa Inggris! Ah, entah apa yang harus saya katakan? :’)

Bagi yang belum menikmati, silakan menikmati karya pertama kami Kau Yang Mengutuhkan Aku dan tunggu segera kelahiran karya kedua Apologia Untuk Sebuah Nama.



Terakhir, karya-karya saya di REVOLVERE PROJECT tidak terekognisi pada saya sendiri. Tentu saja ada Fiersa Besari dan Futih Aljihadi di sana.

Jadi sebenarnya ini tulisan tentang apa? Entahlah saya juga tidak tahu. Saya menulisnya di sebuah perpustakaan di Denpasar, Bali, di sela-sela waktu tunggu untuk sebuah acara. Tapi, terima kasih banyak sudah membaca cerita dan curhat saya. Hehehe.


Fahd Djibran

1 comments:

  1. bener tuh. gak semua penulis bisa nggak overthink saat menulis. (itu salah satu masalah besar saya kalo mau nulis apapun, btw.) dan saya suka cara tulisan mas fahd cukup menjadi trigger atau bibit2 yang disebar untuk tumbuh sendiri di pikiran pembaca, jadinya kayak menghargai betul imajinasi dan kecerdasan pembacanya. sukses buat projeknya. :D

    ReplyDelete