Fahd Djibrna's Journal

MARI BERGABUNG! :)

print this page
send email


Dear All,

Semoga teman-teman semua baik-baik saja. Anggap saja ini semacam “undangan terbuka”. Atau, jika itu terdengar terlalu serius, sebut saja sebagai “ajakan”. Dengan fasilitas baru yang sangat menarik dari Facebook, yang memungkinkan kita semua bisa berinteraksi satu sama lain secara lebih aktif, saya membuat sebuah grup/milis baru. Namanya RUANG TENGAH. Di grup tersebut kita bisa saling bertukar tanya dan cerita. Tentang apa saja; seperti di ruang tengah rumah kita. Ingat project saya Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa: I Care I Share? Mungkin di grup yang baru ini kita bisa melakukan diskusi online lagi secara lebih interaktif daripada di blog saya (http://www.ruangtengah.co.nr) ini. :)

Tapi, saya masih mempertahankan blog ini kok. Saya masih akan tetap memposting tulisan-tulisan yang agak panjang di blog. Sementara di grup ini kita bisa saling bertanya, bercerita, berdiskusi. Tentang apa saja. Dari mulai hal-hal kecil sampai hal-hal besar.

Kenapa saya membuat grup/milis semacam ini? Baiklah saya akan ceritakan. Pendek saja.

Saya melewati masa remaja dengan banyak pertanyaan di kepala. Banyak sekali. Namun, sayangnya, saya tak punya tempat untuk membukakan keran pikiran saya dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya menemukan salurannya. Akhirnya, berbagai pertanyaan menguap dari kepala, sebagian yang lain membusuk, tetapi hari-hari saya selalu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru—bercecabang, menjadi banyak dan semakin banyak lagi. Ingin sekali saya bertanya dan selalu bertanya, tetapi saya tumbuh di lingkungan sebuah pesantren yang tak begitu mendukung tradisi bertanya. Bertanya lebih sering dianggap sebagai tindakan yang tidak benar, salah, bahkan dosa!

Suatu kali saya keluar dari lingkungan pesantren untuk satu keperluan. Dalam perjalanan, saya bertemu dengan orang berbeda agama yang sangat baik dan sopan, sementara saya menemukan teman-teman dan banyak orang di pesantren berperilaku tidak baik dan tidak sopan; saya mulai mempertanyakan apa hubungan antara agama dan kebaikan perilaku seseorang? Apakah surga hanya untuk orang dengan agama tertentu saja, dan itu berarti Tuhan lebih menghargai tindakan buruk yang dilakukan seseorang yang memeluk agama tertentu daripada tindakan baik seseorang yang tidak memeluk agama tertentu? Mungkinkah Tuhan bersikap tidak adil?

Sesampainya di pesantren, saya bertanya pada beberapa guru dan kakak kelas yang saya anggap memiliki pengetahuan yang memadai soal agama. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru disuruh bertobat. Menurut mereka, saya sudah lancang dan berdosa dengan bertanya demikian. Seratus persen saya tak mendapat jawaban apa pun, saya justru mendapat intervensi kesalahan dan dosa dari apa yang saya lakukan. Bukannya kapok bertanya, pertanyaan lain justru lahir di kepala saya; mungkinkah mereka tak sanggup menjawab pertanyaan saya sehingga mereka merasa perlu mempersalahkan seseorang yang mempertanyakan hal yang tidak mereka ketahui? Lagi-lagi Tuhan tak adil, pikir saya; benarkah Dia lebih menghargai ketaatan yang buta daripada ikhtiar menemukan kemantapan keyakinan?

Sejak saat itu, saya selalu membayangkan sebuah dunia yang memperbolehkan kita mempertanyakan apa saja. Tanpa intervensi rasa bersalah atau rasa berdosa, tanpa kekhawatiran etis atau rasa waswas akan dipersalahkan, dan setrusnya. Memang apa salahnya bertanya? Bukankah bertanya merupakan ikhtiar untuk menemukan “yang benar”—mengonfirmasi segala sesuatu agar seperti “seharusnya”? Jadi, bukankah wajar melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam rangka menemukan “yang benar” atau “yang paling benar”? Rasanya tidak ada yang perlu dipersalahkan.

Pada tahun 2006, saya meniatkan diri untuk mengampanyekan kebebasan bertanya—bukan hanya kebebasan berpendapat yang perlu diperjuangkan, kan? Di rumah, di kampus, di tempat bermain, di lapangan bola, di masjid, di pasar, di terminal, di mana saja saya mendorong semua orang untuk berani bertanya … terutama para remaja, saya tahu mereka punya banyak pertanyaan, maka saya mendorong mereka untuk bertanya dan bertanya. Saya melakukan langkah pertama dengan membuat sebuah blog sederhana berjudul ruang tengah (http://www.ruangtengah.co.nr). Di blog itu saya mulai menuliskan hal-hal yang mendorong siapa saja untuk “berani” bertanya. Tentang kesalahan, tentang kebohongan, tentang dosa, tentang apa saja. Lalu tahun 2008 saya menulis A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa, buku yang dituliskan untuk mempertanyakan hal-hal sederhana di sekeliling kita, yang sering kali disepelekan dan diabaikan, tetapi sebenarnya penting untuk ditinjau ulang. Lalu pada tahun 2009 saya menulis lagi Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Masih seperti A Cat In My Eyes, namun dengan tingkat pertanyaan yang sedikit lebih kompleks. Hehehe. Di tahun 2009 juga saya membuat “kebebasan bertanya” di blog dengan judul Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa: I Care, I Share. Mungkin ada teman-teman yang masih ingat project itu. Bahkan dua buku terakhir saya Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan (Goodfaith, 2010) dan Menatap Punggung Muhammad (Litera, 2010) juga masih dalam nuansa "dunia bertanya".:)

Lalu, mengapa “ruang tengah”?

Ini amsal yang sederhana, seperti di rumah-rumah kita, ruang tengah adalah ruang di mana kita berani menjadi diri kita sendiri. Ruang tempat segala ego dilepaskan, segala kepentingan dinegosiasikan, segala kebohongan dibukakan, semua masalah diselesaikan, semua cerita dibeberkan, semua yang tertunda dituntaskan. Ruang tengah adalah ruang keakraban di mana segala bentuk identitas melebur jadi satu tanpa harus kehilangan makna dan nilainya masing-masing; ayah menjadi ayah, ibu menjadi ibu, kakak menjadi kakak, adik menjadi adik, dan semua orang tetap menjadi dirinya sendiri tetapi berkumpul bersama saling bertukar tawa-melempar cerita.

Bagi saya, barangkali kita butuh “ruang tengah” untuk berani bertanya dan berbicara apa saja, bercerita apa saja. Bagi saya, barangkali kita butuh “ruang tengah” untuk tak merasa canggung, tak merasa sendiri dan kesepian. Ruang tengah adalah tempat di mana setiap orang dari mana saja—depan, belakang, samping kiri-kanan—bisa berkumpul dan mendiskusikan perbedaan-perbedaan mereka sebagai cerita yang selalu dan terus-menerus istimewa. Karena berbeda membuat kita istimewa!

Nah, sekarang, apa nilai tambah grup ini dibanding project-project saya sebelumnya?

Seperti yang saya ceritakan di awal, dengan fasilitas baru yang ditawarkan Facebook, mungkin di grup/milis ini kita bisa lebih aktif berdiskusi dan melakukan tanya-jawab. Sekadar bertanya atau saling bertukar cerita. Di samping itu, yang menarik lagi, Saya juga sudah berbicara pada teman-teman saya yang psikolog, dosen, ustad, penulis, pengacara, aktivis, desainer, ibu rumah tangga, dan teman-teman lintas profesi lainnya untuk bertukar cerita dan membantu kita memecahkan pertanyaan-pertanyaan kita. Tapi, kita sebenarnya, kita semua bisa saling membantu di sana. Siapapun kita, apapun profesi dan latar belakang kita. Semua kita adalah pemilik ruang tengah. Kau dan aku.

Ah, sudahlah, capek juga nulis panjang. Singkatnya, mari bergabung di Ruang Tengah. Ajaklah teman-teman lain untuk bergabung juga. Caranya, klik link ini dan mulailah bergabung ke RUANG TENGAH. Silakan klik di sini.


Salam hangat,

Fahd Djibran

0 comments:

Post a Comment