Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label teman. Show all posts
Showing posts with label teman. Show all posts

Lima Cara Untuk Menghentikan Waktu (Kisah Semu)

Cerita: FAHD DJIBRAN - inspired by one of Craigslist true stories
Lagu: FIERSA BESARI dan NALURI BELLA WATI - Kisah Semu (dari Album 11:11, music and lyrics by Fiersa and Naluri)


Aku pertama kali melihatmu di stasiun kereta Rawa Buntu dan tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Biasa saja, seperti kemeja putihmu yang agak kusut di bagian belakangnya, juga jins birumu yang tak terlalu istimewa. Kita sama-sama memakai kacamata, mungkin itu yang membuatku memerhatikanmu. Sejak SMP, aku selalu berimajinasi untuk suatu saat akan jatuh cinta pada perempuan berkacamata—dengan bingkai kotak yang berwarna hitam menumpuk di sepasang lengkung alis matanya: Waktu itu kamu memakainnya.

Continue Reading...

Terjatuh



Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh. 

***

Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.




FAHD DJIBRAN | 22/05/13

PS. Cerita ini terisnpirasi dari komposisi musik teman saya, Kate Grealy, penyanyi asal Australia, berjudul Nothing’s As it Appears. Saat ini Kate sedang sakit di Jogja. Semoga lekas sembuh, Kate.

Lagu: Kate Grealy – Nothing’s As it Appears
Gambar diambil dari sini.


Continue Reading...

Tua


Hari ini usia saya 26 tahun 8 bulan 9 hari, tapi saya mulai merasa tua. Saya kehilangan banyak ingatan ihwal nama-nama—terutama mereka yang berasal dari masa lalu. Di keseharian, banyak sekali yang terlalu mudah saya lupakan. Sementara perut saya mulai membuncit, penglihatan saya mulai kabur, dan saya jadi pemarah.
Continue Reading...

Menyeberang



Kapan Tuhan mengirimkan jodoh buatku? Itu pertanyaan pribadimu. Keluh rahasiamu. Kadang-kadang kamu gumamkan di saat-saat sepi yang sendiri.





: Untuk seorang sahabat

FAHD DJIBRAN

*Lagu: The Cardigans - Communication (Accoustic)
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

FIERSA BESARI 11:11


Saya mengenal Fiersa Besari lebih kurang tiga tahun lalu, saat itu dia datang ke pesta perkawinan saya diajak adik saya, Futih Aljihadi. Futih jauh lebih dahulu mengenal Fiersa—sebagai teman sekaligus salah satu dari sedikit musisi indie yang ia kagumi. Di pesta perkawinan saya, 25 Desember 2009, dibantu Fiersa, Futih menyanyikan lagu Your Call dari Secondhand Serenade. Sejak saat itu, Futih mulai memperkenalkan karya-karya Fiersa pada saya dan saya menyukainya—lebih tepatnya, sangat menyukainya.

Agustus 2010, ketika gagasan fiksi-lintas-media pertama kali muncul, saat saya mendiskusikan konsep Revolvere Project bersama Futih, saya langsung sepakat ketika Futih mengajukan nama Fiersa untuk mengisi musik dalam Revolvere Project. Sejak saat itu, saya dan Fiersa lebih banyak mengobrol dan berdiskusi. Saya jadi tahu banyak tentangnya; Bukan hanya menikmati dan mengagumi karya-karyanya, saya juga mengagumi bagaimana cara dia berproses dan memperlakukan setiap karyanya.

Bagi saya, Fiersa adalah musisi idealis yang kreatif. Dengan sadar dia tetap memilih jalur indie meskipun banyak pihak yang tertarik pada bakat dan skill-nya menawarinya berkarya di major label. Ia tetap memilih bermusik untuk “bersenang-senang” (atau bermusik untuk menemukan “kebahagiaan”) sambil mengelola studio miliknya sendiri, Tracking Away, yang dijadikan tempat rujukan anak-anak band indie Bandung untuk merekam karya-karya mereka. Fiersa sukses dengan Tracking Away karena kemampuannya sebagai sound engineer yang mumpuni—sekaligus “tempat bertanya dan berbagi” bagi teman-teman sesama “anak band”. “Dia jenius,” kata Futih suatu ketika, “Terutama karena kemampuannya dalam mengkomposisi nada dan referensi musikalnya yang kaya. Salah satu yang terbaik di kalangan anak-anak muda Bandung.

Suatu kali saya berkesempatan menyaksikan Fiersa membuat komposisi musik untuk Revolvere Project yang ketiga, Tentang Kita. Kemampuannya dalam menciptakan lagu, mengatur komposisi nada, hingga membuat lirik membuat saya terkagum-kagum. Dia bahkan bisa dengan jenius memasukkan ketukan sendok pada gelas atau suara-suara lainnya yang tak kita sangka-sangka akan bisa masuk ke dalam sebuah komposisi nada. Dia seorang kreatif yang sesungguhnya karena berkarya dengan dorongan hasrat dan imajinasi—bukan uang atau popularitas.

Namun, dua hal yang saya sebutkan terakhir menjadi kritik saya utuk Fiersa. Dalam era di mana “industri kreatif” akan segera menjadi panglima perekonomian dunia, saya pikir orang-orang seperti Fiersa juga harus bisa mengkonversikan kreativitasnya menjadi uang dan popularitas (tentu dengan cara yang elegan). Kita tengah berada di dunia di mana musisi, seniman, dan kreator lainnya harus dihargai secara memadai oleh para apresiatornya. Setiap kreator tidak hanya dituntut menghadirkan karya yang baik, tetapi sekaligus menghadirkan dirinya sebagai pembuat karya-karya yang baik. Menjadi seniman harus (terlihat) hidup susah adalah keyakinan yang salah.

Untunglah, sebelum sempat saya menyampaikan kritik itu kepadanya, Fiersa sudah terlebih dahulu menyadarinya. Kini ia membuat album solo (indie) yang siap jual dan merencanakan sebuah mini concert gratis untuk para pembeli albumnya, bertajuk FIERSA BESARI 11:11. Sebagai teman, partner, sekaligus pengagum karya-karyanya, tentu saya akan membelinya. Bahkan dengan senang hati saya akan membeli beberapa untuk saya bagikan kepada teman-teman saya di Jakarta. Kelak ketika saya sudah memilikinya, akan saya ceritakan kesan saya tentang album itu.

Kini, saya ingin mengajak Anda berkenalan dengan Fiersa, terutama dengan karya-karyanya. Sebelum Anda memutuskan untuk membeli albumnya, saya akan mempersilakan Anda untuk mendengarkan empat contoh lagu yang diunggah Fiersa ke akun Reverbnation miliknya.

Selamat untuk Fiersa dan selamat mendengarkan untuk semua!

FAHD DJIBRAN | 03/01/2012



ALBUM AVAILABLE ON OCTOBER 01 2012 AT:

KEDAI KOPI MATA ANGIN
Jl. Laswi no.19A, Bandung

TRACKING AWAY STUDIO
Jl. Pasir Jaya IV no.1 Buah Batu, Bandung (work day, 11am to 1pm)

BRAGA CAFE
Jl. Braga no.15, Bandung

(RYAN) CLUTCH MERCH
Jl. Sidomukti no.22 Jalaprang, Bandung (call first: 085721817474)

Album IDR: 35.000 (album will be used as ticket for November 02 2012 launching concert)

Supported by:
Tracking Away Studio | 3Lines Production | Braga Cafe | Braga Insight | Clutch Merch | Kedai Kopi Mata Angin

Download 4 of the songs at:
www.reverbnation.com/fiersa
Continue Reading...

[Revolvere Project] Tentang Kita


Salam,

Sejak ide awal Revolvere Project digulirkan hampir satu tahun lalu, tidak terbayang sebelumnya di benak kami bahwa project hibrida ini akan mendapatkan sambutan baik dari banyak pihak. Saat ini, dua video awal Revolvere Project di Youtube, Vimeo dan Facebook sudah ditonton puluhan ribu orang dengan apresiasi yang sering membuat kami ke-GR-an, sudah tiga skripsi S1 dan satu tesis S2 yang mengapresiasi karya kami dengan pendekatan akademik, beberapa liputan media, dan kami diundang ke berbagai tempat di Indonesia bahkan ke Singapura dan Australia untuk mempresentasikan keisengan kami itu. Tidak sampai di situ, dua teman kami di Australia bahkan menawarkan diri untuk menerjemahkan karya-karya Revolvere Project agar bisa dinikmati apresiator yang lebih luas. Melihat semua itu: Kami semakin yakin pada kekuatan ide dan kami semakin bersemangat untuk berkarya lebih baik lagi.

Sedikit flashback, pada awalnya kami ingin menghadirkan “cara membaca yang baru”. Dengan perkembangan Internet dan teknologi multimedia yang demikian pesat, kami ingin menghadirkan pengalaman “membaca-mendengar-melihat” secara langsung melalui medium kreatif yang baru. Maka terpikirlah gagasan awal Revolvere Project. Dalam proses berkarya, didukung teknologi Internet yang sudah demikian gila-gilaan, kami tidak perlu mengerjakannya di satu tempat secara bersamaan. Dari Bandung dan Jakarta, kami mengkolaborasikan kreativitas kami melalui Internet. Selanjutnya, Internet juga menjadi medium yang sangat pas untuk kami mempublikasikan racikan terakhir Revolvere Project ke hadapan para penikmatnya.

Dan inilah karya ketiga kami, Tentang Kita. Seperti biasa, kami mengangkat tema sederhana yang sering kita jumpai di keseharian. Dengan pendekatan dan sudut pandang yang baru, kami ingin melihat bagaimana hubungan “aku” dan “kamu” seharusnya dirangkum secara setara dalam ketulusan dan keluasan kata “kita”. Dalam video ketiga ini, kami berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda dari dua video sebelumnya. Mudah-mudahan mendapatkan apresiasi yang minimal sama baiknya dengan video pertama dan kedua. Dan mudah-mudahan video tersebut dapat tersebar secara lebih baik dan lebih luas, terima kasih jika Anda berkenan membantu menyebarkannya.

Tanpa berpanjang lebar lagi, selamat menikmati!




Salam baik,

Fahd Djibran | @fahdisme
Fiersa Besari | @fiersa
Futih Aljihadi | @futihfatih

PS: Dua video sebelumnya: Apologia Untuk Sebuah Nama dan Kau Yang Mengutuhkan Aku. Follow Revolvere Project di Twitter: @RevolvereProj
Continue Reading...

Mati


Assalamualaikum.

Bang. Saya muslim.

Saya tidak mengenal dan membaca tulisan Anda sebelum Kang Fiersa yang memulainya. Beliau banyak berbicara tentang Anda dan saya akhirnya memutuskan untuk membaca tulisan-tulisan Anda. Magis. Begitu mengesankan dan membakar semua pesan yang anda tulis, sangat bertujuan dan bergaris bawah atas ilmu, pengetahuan, dan pengalaman Anda. Klasik.

Langsung saja, Bang.

Hal ini belum pernah saya ceritakan ke orang lain, bahkan ibu saya sendiri. Sangat aneh, saya terus bermimpi, berpikiran, berangan, dan mengimajinasikan kematian saya sendiri. Saya merasa kematian sangat dekat tapi saya belum melakukan apa-apa. Mati.

Saya masih kosong, tak berisi, berdosa, malas, bahkan tak mau tahu dengan isi pikiran saya sendiri. Apakah benar seperti apa yang ada dalam Al-Quran bahwa Allah telah membutakan mata, menutup telinga, bahkan membekukan hati saya?

Saya sangat fobia naik pesawat.

Assalamulaikum.

Ucok


:::::::::::::::::::::


Waalaikumsalam…

Ucok,

Salam kenal sebelumnya. Jika mimpi dan pikiran itu selalu datang, ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang benar-benar kamu takutkan sehingga terus mengendap menjadi memori bawah sadarmu. Mungkin kamu punya trauma tersendiri yang aku nggak tahu, tetapi kamu harus berusaha menyembuhkannya. Kedua, jika elmaut terus datang di mimpimu, itu merupakan pesan yang jelas agar kamu ‘memulai hidup yang lebih hidup’. Artinya hidup yang nggak sekadar rutinitas, tetapi hidup yang penuh gairah—hidup yang menghidupkan.

Mors janua vitae, begitu kata pepatah Yunani. Kematian adalah pintu gerbang bagi kehidupan. Bagiku, mimpimu mungkin mengingatkanmu untuk memulai sebuah hidup baru dan menghentikan cara hidupmu yang mungkin selama ini, diam-diam namun pasti, membuatmu malah “mati”.

Soal apa yang dikatakan Tuhan dalam Al-Quran, tentang mereka yang (di)buta(kan)-(di)tuli(kan)-(di)beku(kan)-hatinya, aku yakin kamu tidak termasuk kelompok itu. Buktinya kamu masih mempertanyakan apakah kamu termasuk di dalamnya atau tidak, kan? Artinya ada liang jernih dalam dirimu yang menggeliat-geliat mencari cahaya. Bersyukurlah sebab artinya matamu, telingamu, hatimu masih merindukan keba(j)ikan dan terus menyalakan radar kegelisahan bahwa kamu tak ingin jadi buta, tuli, dan beku hatinya.

Ucok yang baik, tak perlu pesimis dengan judge yang (mungkin) diberikan orang-orang atau dirimu sendiri atas segala hal buruk dalam hidupmu yang selama ini terlanjur terjadi. Percayalah bahwa hidup nggak melulu ditegakkan dengan kebaikan, tetapi juga dari najis dan dosa. Tak ada satu pun manusia di atas dunia yang tak pernah bersalah pada masa lalunya. Maka teruslah berjalan untuk meninggalkan ‘yang gelap di belakang’. Katakan pada diri sendiri bahwa, dalam gelap kau tak pernah punya nama. Dan hanya dengan terus berjalan, hanya dengan terus berjalan... kau akan terus belajar untuk menemukan “namamu yang sesungguhnya”.

Dan, akhirnya, Ucok: BUNUHLAH KEMATIANMU!

Salam,

Fahd Djibran

PS. Aku mengajakmu mendengarkan lagu ini:



How fickle my heart and how woozy my eyes
I struggle to find any truth in your lies
And now my heart stumbles on things I don't know
My weakness I feel I must finally show

Lend me your hand and we'll conquer them all
But lend me your heart and I'll just let you fall
Lend me your eyes I can change what you see
But your soul you must keep, totally free
Ha ha, ha ha
ha ha, ha ha

awake my soul...
awake my soul...

How fickle my heart and how woozy my eyes
I struggle to find any truth in your lies
And now my heart stumbles on things I don't know
My weakness I feel I must finally show
Ha ha, ha ha
ha ha, ha ha

In these bodies we will live,
in these bodies we will die
Where you invest your love,
you invest your life

In these bodies we will live,
in these bodies we will die
Where you invest your love,
you invest your life

awake my soul...
awake my soul...
awake my soul...
For you were made to meet your maker

awake my soul...
awake my soul...
awake my soul...
For you were made to meet your maker
You were made to meet your maker

*Lagu: Awake My Soul - Mumford & Sons
**Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...