Di dunia di mana motif ayam menyeberang jalan tidak dipertanyakan lagi, perempuan-perempuan tahu bahwa jodoh mungkin harus ditemukan—dan bukan ditunggu. Sebab di dunia para ayam, pejantan tak pernah lebih dewasa dari betinanya.
Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts
Monolog Penantian
Di dunia di mana motif ayam menyeberang jalan tidak dipertanyakan lagi, perempuan-perempuan tahu bahwa jodoh mungkin harus ditemukan—dan bukan ditunggu. Sebab di dunia para ayam, pejantan tak pernah lebih dewasa dari betinanya.
Malam Penentuan
: Laylat al-Qadr
bagaimana harus kuhitung malammu, layla
bila seribu bulan selalu gagal
menggenapkan wajahmu
aku membuka halaman-halaman
kudus, mengeja ayat-ayat memanggil namamu
atau memejamkan mata atau menangkap suara-suara
hening menggumamkan nama-nama
Tuhan dalam hitungan-hitungan zikir
yang rahasia, layla
suatu hari di sepuluh penghabisan
aku bertanya-tanya
engkaukah sebenarnya Wajah itu, layla
mungkinkah Ramadhan hanya sumbu waktu
untuk meledakkan cahayaMu
di dada-imanku yang penipu
mungkinkah aku diciptakan
untuk menjadi punguk buruk rupa
yang merindukan cerlang bulan
seperti dada pendosa mendambakan
lembut Wajah Tuhan
maka datanglah, layla, datanglah
ke dalam diriku
dalam terang atau sembunyi-sembunyi
hajarlah seluruh jiwaku
dengan cahaya seribu bulanmu
layla, barangkali tak ada yang lebih kurindkan
selain perjumpaan ulat-diri dengan Engkau
Tuhan yang akan membisikkan kalimat
mengubah aku menjadi kupu-kupu taqwa
di penghujung Ramadhan yang rahasia
demi waktu dan semua tentangmu, layla
izinkan aku menangis di dadaMu
tanpa suara, dekaplah aku
sedetik saja
: maka hidupku akan sempurna
Fahd Djibran
10 Penghabisan, Ramadhan 1434
Dekade
Hari ini, 19 Juni 2013, menandai satu dekade perjalanan saya sebagai seorang penulis. Sepuluh tahun yang lalu, 19 Juni 2003, waktu itu masih kelas 2 SMA, saya menerbitkan buku pertama saya berjudul Kucing. Tidak mirip sebuah buku, sebenarnya. Sebab pada waktu itu, nyatanya Kucing terlalu absurd untuk disebut sebagai buku yang utuh. Ia hanya berisi kumpulan puisi, cerpen, sketsa, prosa, SMS, dan apa saja yang bisa saya tuliskan tanpa tahu bentuknya—jenisnya. Belum ada buku semacam itu sebelumnya, dan belum ada penerbit gila yang berani menerbitkan buku yang lebih mirip “tong sampah” pikiran dan perasaan.
Untunglah saya bertemu Irfan AmaLee, waktu itu editor Penerbit Mizan. Kakak kelas saya sewaktu mondok di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Setelah nekat menerima tantangannya untuk menerbitkan buku dan diberi waktu satu bulan, saya menyerahkan Kucing yang di-print menghabiskan uang saku saya untuk setengah bulan. Dengan tangan gemetar, saya menyerahkan naskah itu sambil berharap mendapat pujian, tentu saja, meski tidak yakin. Saya tidak berpikir buku itu akan laku atau tidak? Untuk siapa buku itu dituliskan? Apa segmentasi pembacanya? Bagaimana strategi pemasarannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sama sekali tak terlintas dalam benak saya waktu itu. Pokoknya saya menulis dan mudah-mudahan punya kesempatan untuk diterbitkan; Entah bagaimana lagi setelahnya.
Sepuluh hari sejak kejadian itu, status saya sudah berubah menjadi penulis. Amatir, tentu saja. Irfan AmaLee membantu menerbitkan Kucing secara indie di bawah penerbit yang saya tahu sebenarnya “pura-pura”, namanya MagnumOpusProject. Tapi saya tidak mau menjadi penulis yang pura-pura. meskipun buku saya hanya dicetak 10 eksamplar pada cetakan pertama, saya berusaha untuk menjadi penulis sungguhan. Paling tidak, waktu itu, saya berusaha “berakting” menjadi penulis sungguhan. Demi buku pertama itu: Saya buat posternya, saya buat blognya, saya sablon kaus bergambar cover buku saya, saya ceritakan pada sebanyak mungkin orang...
Waktu terus berjalan dan tanpa terduga Kucing terus dicetak, disukai dan mendapatkan banyak pujian. Orang-orang mulai mengenal saya. Saya mulai punya acara “bedah buku” sendiri dan sesekali membubuhkan tandatangan pada buku yang saya tulis itu—untuk seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sebagian orang memasukkan saya dalam daftar penulis yang buku berikutnya akan mereka tunggu atau penulis yang menginspirasi mereka. Saya bangga luar biasa, tentu saja, tetapi sekaligus khawatir dan malu. Khawatir karena kalau saya berhenti menulis artinya saya akan segera dilupakan. Malu karena saya hanyalah penulis amatir yang sebenarnya ragu tentang apa yang dituliskannya sendiri.
Maka saya bertekad untuk terus belajar. Bagi saya, berkarya adalah belajar. Pada saat karya saya dipuji atau laku atau menginspirasi pembaca, itu bonus dari kerja-kerja menyenangkan yang saya lakukan. Pada saat karya saya dikritik atau dihina atau tidak laku, ya... tak usah sakit hati. Namanya juga belajar, kan?
Hari demi hari berlalu. Tanggal dan bulan-bulan berguguran dari kalender. Tanpa terasa, sejak buku pertama itu, kini telah genap 10 tahun saya menulis. Lebih tepatnya, 10 tahun saya belajar menulis. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, sekarang saya sudah memiliki lebih dari 15 buku yang tersebar di berbagai penerbit besar berskala nasional. Selain buku-buku, saya juga punya ratusan artikel, cerpen, puisi, prosa dan tentu saja ribuan tulisan gagal lainnya yang tersimpan di komputer atau catatan pribadi saya. Status sebagai penulis terus saya bawa sejak 10 tahun lalu dan kini telah memberikan saya banyak hal—yang tak pernah saya rancang sebelumnya: Rumah, kendaraan, karir, perjalanan-perjalanan, eksperimen-eksperimen, pertemuan-pertemuan, beasiswa, dan tentu saja... pembaca setia. Tak ternilai harganya!
10 tahun berlalu sudah banyak yang berubah dari gaya menulis saya, tentu saja. Tema, warna, dan posisi saya di hadapan teks juga telah berubah. Kadang-kadang saya tertawa membaca tulisan-tulisan lama saya, sambil bertanya-tanya mengapa saya begitu bodoh waktu menuliskannya? Di waktu yang lain, saya tercenung bahkan tercengang, mengapa dulu saya lebih cerdas, lebih lihai daripada sekarang? Tapi waktu, seperti teman, telah membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang—dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Inilah sepuluh tahun itu, baru saja berlalu. Bukan waktu yang panjang, tapi juga tidak pendek. Masih banyak yang harus saya kerjakan untuk terus belajar dan “berakting” menjadi penulis. Kini, saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang paling ingin saya tuliskan sejak 10 tahun lalu. Sebuah novel, barangkali. Mudah-mudahan bisa segera saya selesaikan dalam waktu dekat dan terbit tahun ini juga. Sesuatu yang saya janjikan layak untuk Anda tunggu; Mudah-mudahan tidak mengecewakan.
Akhirnya, saya menikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya. Menulis buat saya bukan untuk menjual buku, bukan juga untuk pergi ke pesta—seperti kata Chairil Anwar. Bagi saya, menulis adalah panggilan jiwa. Semacam takdir lain saya sebagai manusia. Sesuatu yang digambarkan Charles Bukowski sebagai sesuatu yang datang tanpa diminta, keluar dari hatimu dan dari pikiranmu dan dari mulutmu dan dari muntahmu... ia melesat dari jiwamu seperti sebuah roket! (...that comes unasked out of your heart and your mind and your mouth and your gut... it comes out of your soul like a rocket!)
Saya mungkin bukan penulis terbaik di Indonesia, tapi saya masih 26 tahun. Itu motto saya dalam menulis. I am not the best writer in Indonesia, but I am still 26 years old. Silakan tafsirkan sendiri maksudnya. :)
Terima kasih untuk semuanya. Benar-benar semuanya.
so you want to be a writer?
—Charles Bukowski
if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.
unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.
if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,
don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,
don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.
if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.
if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.
if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.
if you have to wait for it to roar out of
you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.
if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.
don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,
don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with self-
love.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.
unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.
unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.
when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in you.
there is no other way.
and there never was.
FAHD DJIBRAN | Tangerang Selatan, 19/06/2013
*Gambar diambil dari sini.
Sebelum Gelap
Aku membayangkan situasi yang mungkin akan menghapus senyum dari wajahmu, aku membayangkan tangis anak kita yang menjerit pilu di dadamu: Laki-laki macam apa aku jika saat itu benar-benar tiba dalam hidup kita?
Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
Anytime you whisper my name, you'll see
Where every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most
What are words
If you really don't mean them
When you say them
What are words
If they're only for good times
Then they're done
When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone
And I know an angel was sent just for me
And I know I'm meant to be where I am
And I'm gonna be
Standing right beside her tonight
And I'm gonna be by your side
I would never leave when she needs me most
What are words
If you really don't mean them
When you say them
What are words
If they're only for good times
Then they're done
When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone
Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
And I'm gonna be here forever more
Every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most
I'm forever keeping my angel close
FAHD DJIBRAN | 27/05/2013
*Lagu: Chris Medina - What Are Word (2011)
*Gambar diambil dari sini.
Terjatuh
Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh.
***
Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.
FAHD DJIBRAN | 22/05/13
PS. Cerita ini terisnpirasi dari komposisi musik teman saya, Kate Grealy, penyanyi asal Australia, berjudul Nothing’s As it Appears. Saat ini Kate sedang sakit di Jogja. Semoga lekas sembuh, Kate.
Lagu: Kate Grealy – Nothing’s As it Appears
Gambar diambil dari sini.
Cerita yang Dituliskan Apa Adanya
: Rizqa
Ah, many of my smiles begin with you…
Many of my stories are about you…
FAHD DJIBRAN | Pamulang, 16 Mei 2013
Lagu: Owl City & Yuna - Shine Your Way
Continue Reading...
Ah, many of my smiles begin with you…
Many of my stories are about you…
FAHD DJIBRAN | Pamulang, 16 Mei 2013
Lagu: Owl City & Yuna - Shine Your Way
Tua
Hari ini usia saya 26 tahun 8 bulan 9 hari, tapi saya mulai merasa tua. Saya kehilangan banyak ingatan ihwal nama-nama—terutama mereka yang berasal dari masa lalu. Di keseharian, banyak sekali yang terlalu mudah saya lupakan. Sementara perut saya mulai membuncit, penglihatan saya mulai kabur, dan saya jadi pemarah.
Maharencana
Terakhir, saya senang menuliskan pikiran, perasaan, dan pengalaman saya di blog ini. Termasuk lima bait kalimat yang saya ceritakan di atas tadi. Itu modus saya untuk berdoa. Sebab ketika kalian membaca tulisan-tulisan yang sebenarnya adalah doa-doa saya, kalian turut mengaminkannya. Terima kasih untuk semua itu… Dan tetaplah menjadi teman yang keren!
—Keep calm and God will answer your prayers
FAHD DJIBRAN
*Lagu: Jason Mraz - I Won't Give Up
*Gambar diambil dari sini.
The Proposal
: Untuk Rizqa, tiga tahun yang lalu
—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu.
FAHD DJIBRAN
*Lagu: Without You - David Guetta feat Usher & ThePianoGuys
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...
—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu.
FAHD DJIBRAN
*Lagu: Without You - David Guetta feat Usher & ThePianoGuys
*Gambar diambil dari sini.
Kendali
Udara panas mengambang di ruangan empat meter persegi ketika aku menutup telepon darimu; Percakapan yang baru saja kita akhiri tanpa solusi, memanaskan telingaku, mendidihkan pikiran dan perasaanku. Tapi aku tak bisa marah: Semua yang membuat kita kecewa, tak berada dalam kendali kita berdua. Maka kita hanya bisa menerimanya dengan perasaan janggal yang mengganjal.
Tangerang Selatn, 4 Februari 2013
FAHD DJIBRAN
*Lagu: Fun. - Carry On
*Gambar diambil dari sini.
Menyeberang
Kapan Tuhan mengirimkan jodoh buatku? Itu pertanyaan pribadimu. Keluh rahasiamu. Kadang-kadang kamu gumamkan di saat-saat sepi yang sendiri.
: Untuk seorang sahabat
FAHD DJIBRAN
*Lagu: The Cardigans - Communication (Accoustic)
*Gambar diambil dari sini.
Kelahiran
Hari itu Senin, 12 Rabiul Awal, 570 M. 1443 tahun silam. Angin jazirah mengembangkan senyum seorang ibu yang sedang berbahagia. Aminah namanya. Perempuan agung yang baru saja melahirkan bayi yang dinanti-nanti.
Muhammad nama bayi itu. Aminah terus tersenyum sambil menimang bayi tampan di pangkuannya. “Kelahiran putraku membuat seluruh jagat raya seolah lautan cahaya dan aku sedang berenang di dalamnya!” Ujar Aminah dalam senyum gembira. Bayi tampan itu, Muhammad, tertidur dalam selimut putih dengan wajah yang tenang. Langit, bumi, awan, gunung, hewan-hewan, tetumbuhan, para malaikat, seluruh semesta sedang bershalawat mengagungkan namanya.
Di rumah itu, semua orang berkumpul mengelilinginya. Memuji cahaya di wajahnya. Ada kebahagiaan yang tak bisa mereka jelaskan, meluap-luap di hati mereka. Mereka tak tahu nama kebahagiaan itu, mereka tak pernah merasakan yang sesyahdu dan seagung itu. Mereka merasakan ketenangan dan keagungan yang takterpermaknai dialirkan napas lembut bayi tampan itu. “Dia bayi yang tampan! Sungguh, dia bayi yang tampan!” Kata seseorang di antara mereka. Yang lain mengangguk-angguk memberikan persetujuan. Perasaan gembira bertambah besar di hati mereka.
Nama ayah bayi itu Abdullah. Hamba Tuhan, sebagaimana namanya, yang penyabar dan lembut hatinya. Sayang Abdullah tak bisa ikut merasakan kebahagiaan menyambut bayi Muhammad. Abdullah meninggal sebelum menyaksikan kelahiran putranya. Tetapi kakek bayi itu masih hidup dan sehat, Abdul Muthalib namanya. Dia merupakan pemuka kabilah Quraisy yang bijaksana dan murah hati. Semua ini tentu bukan kebetulan, Tuhan tahu segalanya, bahkan sesuatu yang paling rahasia di antara banyak hal yang telah dilupakan manusia.
***
Begitu indah silsilah bayi tampan ini: Dari Abdul Muthalib lahirlah Abdullah, dan dari Abdullah lahirlah Muhamad. Semua ini memberi tahu kita tentang cara melahirkan Muhammad dari dalam diri kita. Caranya, kita harus mengubah diri menjadi hamba yang terus-menerus melakukan pencarian (dalam bahasa Arab, itu berarti 'abdul muthalib). Beragama adalah proses pencarian terus-menerus, Islam menolak cara beragama yang menetap pada kebiasaan. Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Quran menegaskan bahwa untuk sampai pada keimanan yang kukuh, seseorang harus melalui fase pencarian terus-menerus. Abdul Muthalib mencontohkannya.
Kemudian, dari proses pencarian itu kita akan belajar menjadi pelayan Tuhan (dalam bahasa Arab, itu berarti 'abdullah). Sebagai pelayan Tuhan, seluruh tindakan kita adalah realisasi dari semua perintah dan larangan-Nya. Bila tuannya sangat kasih sayang pada semua manusia, maka sebagai pelayan juga semestinya demikian. Ketika sang tuan tidak memunculkan diri secara langsung, semua tugas dan keberadaan tuan ditentukan oleh sikap dan kreativitas pelayannya.
Maka, setelah menjadi pelayan Tuhan yang baik dan taat, barulah lahir sifat-sifat ”yang terpuji” dalam diri kita (dalam bahasa Arab, itu berarti muhammad). Pelayan yang baik adalah pelayan yang menampilkan seluruh kehormatan dan kebaikan tuannya. Bila Allah kita imani sebagai pemilik nama-nama yang baik (al-asmâ al-husnâ), maka sebagai hamba-Nya kita harus terus-menerus menampilkan nama-nama indah itu dalam perilaku keseharian kita yang nyata. Di sanalah,seluruh diri kita akan menjadi ”sang terpuji”, muhammad, yang menjadi penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta (rahmatan lil ’âlamin).
***
Demikianlah Muhammad terlahir.
Mendapati kabar kelahiran cucunya, Abdul Muthalib sangat berbahagia. Dia bergegas menuju kediaman menantunya, Aminah.
“Berita bahagia, wahai Abdul Muthalib! Engkau mempunyai seorang cucu laki-laki yang rupawan! Belum pernah ada bayi seperti dirinya di muka bumi ini!” Seseorang menegur Abdul Muthalib yang terus tersenyum sepanjang perjalanan.
Setibanya di kediaman Siti Aminah, Abdul Muthalib segera memeluk bayi tampan itu dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar bahagia, tak terjelaskan. Senyumnya terus mengembang, tak bisa disembunyikan.
“Mari kita beri nama dia Muhammad!” kata Abdul Muthalib, “Semoga cucuku ini dicintai di manapun dan dipuji di manapun! Inilah sebabnya aku menamainya Muhammad! Rawatlah dia dengan baik, seluruh dunia akan mengenalnya!”
Kelahiran Muhammad membawa kebahagiaan tersendiri di kalangan keluarganya. Dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa di malam saat Muhammad lahir ada cahaya yang bersinar di langit kota Makkah, berkilau ke seluruh semesta. Cahaya, ya cahaya, selalu menjadi amsal bagi sebuah harapan. Semua ini tentu beralasan, kelahiran Muhammad adalah kelahiran sebuah harapan—tentang hidup yang ditegakkan dengan cinta dan kasih sayang.
***
Ya Rasulullah, malam ini, jagat raya kembali mengenang kelahiranmu—tak putus-putus bershalawat mengagungkan namamu. Oh, kami merindukanmu, Ya Maulaya. Betapa kami merindukanmu, Kekasih...
Allahumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammad...
Fahd Djibran | 23/01/2013
*Musik: Yanni - Until The Last Moment
**Gambar diambil dari sini.
Hidup ‘Kan Baik-baik Saja
Belum usai rasa syukur saya karena ratusan doa berdatangan—bahkan dari mereka yang belum saya kenal—setelah posting saya berjudul TIGA, saya merasa ulang tahun pernikahan saya dan Rizqa tahun ini benar-benar berbeda sekaligus istimewa: Tuhan mengirim begitu banyak cinta, kebahagiaan dan keberkahan!
Pagi ini saya dan Rizqa mendapat kado istimewa dari sahabat kami, Fiersa Besari. Pagi-pagi sekali ketika saya buka dinding Facebook saya, Fiersa menulis: “Untuk Bung Fahd Djibran dan istri tercinta, smoga suka ;)” diiringi sebuah tautan ke kanal Soundcloud miliknya. Saya segera membukanya, mendengarkannya, dan: Oh Tuhan, ini lagu indah yang sederhana tetapi luar biasa!
Terima kasih Bung Fiersa, kamu selalu mengagumkan! Saya sampai tak tahu lagi harus berkata apa. Dan pagi-pagi sekali, kamu telah berhasil membuat mata Rizqa berkaca-kaca mendengarkan lagumu! Seperti rencanamu, kami berdua tersenyum sepanjang mendengarkannya, dengan rasa hangat memenuhi dada.
Tentang lagu Fiersa yang indah itu, saya ingin kalian turut mendengarkannya. Judulnya Hidup ‘Kan Baik-baik Saja.
Gara-gara Fiersa, tiba-tiba saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu. Judulnya Pengakuan, silakan baca sambil mendengarkan lagu Fiersa (lagi) :)
Ah, gara-gara semua ini, saya jadi ingin mengumpulkan catatan-catatan saya tentang perasaan agar bisa diarsipkan, syukur-syukur dibukukan. Kelak kalau sudah tua, atau kapanpun saat hubungan kami perlu diperbaiki, saya ingin membacanya bersama-sama Rizqa.
Salam baik,
Fahd & Rizqa
Baca juga: TIGA (Sebuah Catatan Sederhana).
Continue Reading...
Pagi ini saya dan Rizqa mendapat kado istimewa dari sahabat kami, Fiersa Besari. Pagi-pagi sekali ketika saya buka dinding Facebook saya, Fiersa menulis: “Untuk Bung Fahd Djibran dan istri tercinta, smoga suka ;)” diiringi sebuah tautan ke kanal Soundcloud miliknya. Saya segera membukanya, mendengarkannya, dan: Oh Tuhan, ini lagu indah yang sederhana tetapi luar biasa!
Terima kasih Bung Fiersa, kamu selalu mengagumkan! Saya sampai tak tahu lagi harus berkata apa. Dan pagi-pagi sekali, kamu telah berhasil membuat mata Rizqa berkaca-kaca mendengarkan lagumu! Seperti rencanamu, kami berdua tersenyum sepanjang mendengarkannya, dengan rasa hangat memenuhi dada.
Tentang lagu Fiersa yang indah itu, saya ingin kalian turut mendengarkannya. Judulnya Hidup ‘Kan Baik-baik Saja.
Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga
Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua
Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja
Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut
Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja
Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua
Gara-gara Fiersa, tiba-tiba saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu. Judulnya Pengakuan, silakan baca sambil mendengarkan lagu Fiersa (lagi) :)
Pengakuan
: Untuk Rizqa
Demikianlah, Sayangku, sejak jatuh ke dalam lubang-hitam cinta dalam matamu, sejak itu pula aku mengubah semua rencana dan cita-citaku—
Aku hampir tak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan, tentang apakah ia cukup bergengsi atau bisa menghasilkan banyak uang: Aku tak lagi membayangkan kesuksesan melulu tentang hal-hal yang demikian besar sekaligus mewah.
Barangkali aku ingin jadi musisi: Aku ingin menciptakan lagu-lagu yang tak akan pernah habis kau nyanyikan sepanjang hidupmu. Aku akan bahagia mendengarnya, Sayangku: Suara kecilmu menyanyikan lagu-laguku di dapur, di kamar, di ruang makan, di halaman belakang—sementara aku yang belum mandi memetik gitarku sambil tersenyum memandangmu menjemur pakaian, menyeduh kopi atau membersihkan lemari.
Demikianlah, Sayangku, sejak aku jatuh cinta pada caramu berjalan, atau caramu mengantuk, atau caramu menggigit bibir bagian bawahmu, juga rambut-rambut halus yang tak begitu rapi di belakang lehermu, sejak itu pula aku selalu ingin punya mesin perekam dalam retina mataku—
Aku ingin menyimpan semua gambar tentangmu: Saat di rumah, saat liburan dan jalan-jalan, atau saat anak pertama kita menikah dan anak kedua kita diwisuda. Aku akan memasang lagu-lagu favorit kita menjadi suara latar video-video kita. Dan untuk bagian-bagian yang tak ingin aku lupakan sepanjang hidupku: Aku ingin membuatnya dalam gerak lambat. Aku akan selalu berbahagia merekamnya, Sayangku: Terutama saat aku merekam videomu dari belakang, mengabadikan langkah-langkah kakimu yang jenjang memapah langkah-langkah kecil anak pertama kita yang sedang belajar berjalan.
Dan sejak aku jatuh cinta pada bagaimana caramu membaca, Sayangku, sejak itu pula aku belajar menulis—
Demikianlah aku mencintaimu dengan caraku yang sederhana: Sehingga ketika kau tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika akupun menjadi penulis paling berbahagia di dunia.
Ah, gara-gara semua ini, saya jadi ingin mengumpulkan catatan-catatan saya tentang perasaan agar bisa diarsipkan, syukur-syukur dibukukan. Kelak kalau sudah tua, atau kapanpun saat hubungan kami perlu diperbaiki, saya ingin membacanya bersama-sama Rizqa.
Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja
Salam baik,
Fahd & Rizqa
Baca juga: TIGA (Sebuah Catatan Sederhana).
Menulis Sebagai Jalan Ninja
Waktu kecil, saya tidak pernah berpikir akan menjadi penulis. Saya bercita-cita menjadi seorang ninja. Dalam imajinasi saya, ninja bekerja pada malam hari, siang hari dia menjadi manusia biasa seperti orang lain pada umumnya. Dengan jurus-jurus rahasia yang dikuasainya, seorang ninja mampu melumpuhkan lawan-lawannya dengan mudah: Demi kebenaran. Dengan tatap mata atau mantra dia bisa membuat lawannya kaku atau lemas atau bahkan lumpuh tak berdaya. Di saat lain dia juga bisa menyembuhkan. Dia berlari lebih cepat dari angin, menghilang dalam bayang-bayang, atau melompat seperti burung terbang. Ninja adalah terror atau pahlawan yang mengguncang malam!
Kini, setelah dewasa, saya gagal menjadi ninja. Tetapi ternyata menjadi penulis jauh lebih hebat daripada menjadi seorang ninja. Sebab saya mendapati kata-kata rupanya jauh lebih mematikan, juga jauh lebih menyembuhkan bahkan menghidupkan daripada senjata dan jurus-jurus rahasia para ninja. Dan seperti seorang ninja, sebagai seorang penulis saya tetap bisa bersembunyi, bekerja pada malam hari untuk menyamar di siang hari, juga mengguncang malam. Kata-kata yang saya reka bisa berlari jauh lebih cepat dari angin manapun, menjadi bayang-bayang bagi bayang-bayang itu sendiri, atau melesat lebih hebat melampaui kepak sayap burung apapun. Di atas semua itu, saya bisa menciptakan ribuan ninja melalui kata-kata!
Ah, ternyata semua ini bukan tentang menjadi apa atau menjadi siapa: Tetapi tentang bagaimana kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Apapun itu. Saya bahagia menjadi manusia yang tak terjebak pada masa lalu, tapi juga tak terhisap mengandaikan masa depan yang masih dirahasiakan Tuhan. Saya senang bisa menjadi diri saya yang sekarang.
Inilah jalan ninja yang saya tempuh!
FAHD DJIBRAN | 27/12/2012
*Gambar diambil dari sini.
Tiga
: Rizqa Abidin
Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang, tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku...
Fahd Djibran
25 Desember 2012
Continue Reading...
Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang, tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku...
Fahd Djibran
25 Desember 2012
12.12.12
Tidak.
Tidak semua dari kita tersesat. Dan engkau tidak sendirian. Aku bersyukur bisa menemukanmu di sini, di jalan ini, meski gelap dan sunyi: Tapi perjumpaan kita, aku dan kamu, telah membuktikan bahwa kita tidak benar-benar terasing, bukan? Masih ada aku di sini, genggamlah tanganku, semoga membuatmu tenang. Dan kau, perjumpaan denganmu telah membuatku yakin, untuk kesekian kalinya, bahwa aku sedang menempuh jalan yang benar menuju Kebahagiaan. Aku senang bisa mengatakan semua ini kepadamu. Jangan takut lagi: Ada aku di sini.
FAHD DJIBRAN, 12-12-12
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...
Tidak semua dari kita tersesat. Dan engkau tidak sendirian. Aku bersyukur bisa menemukanmu di sini, di jalan ini, meski gelap dan sunyi: Tapi perjumpaan kita, aku dan kamu, telah membuktikan bahwa kita tidak benar-benar terasing, bukan? Masih ada aku di sini, genggamlah tanganku, semoga membuatmu tenang. Dan kau, perjumpaan denganmu telah membuatku yakin, untuk kesekian kalinya, bahwa aku sedang menempuh jalan yang benar menuju Kebahagiaan. Aku senang bisa mengatakan semua ini kepadamu. Jangan takut lagi: Ada aku di sini.
FAHD DJIBRAN, 12-12-12
*Gambar diambil dari sini.
Desember
Ada beberapa hari di bulan Desember yang membuat kita tahu bahwa pagi bisa dimulai dengan cara yang berbeda—tak melulu seperti puisi. Tak ada kicau burung. Tak ada embun yang bergulir di daun-daun. Tak ada kokok ayam jantan. Tak ada hangat matahari yang cahayanya menerobos tingkap-tingkap kaca kamar tidur kita. Aku akan bercerita tentang hari-hari semacam itu, tapi salah satunya saja. Ini cerita tentang Senin, seorang gadis muda pemurung yang selalu gelisah dan bertanya-tanya.
Selasa, 11 Desember 2012
*Lagu: Efek Rumah Kaca - Desember
Kisah Cinta Paling Romantis Sedunia
Mari kuceritakan kisah cinta paling romantis di dunia. Bukan Layla dan Majenun dalam narasi puitik Nizami, apalagi imajinasi Shakespeare tentang Juliet dan Romeo. Tapi dua orang biasa yang hidup di dunia nyata. Sepasang lelaki dan perempuan yang pernah saling menyatakan cinta, dalam cara mereka yang paling biasa-biasa saja. Suatu hari, mereka memutuskan untuk menikah, dengan masing-masing memendam keraguan sekaligus harapan. Setelah menjadi suami-istri, mereka saling mengajari cara untuk menjadi penyabar dan pemberani; Si lelaki berangkat pagi-pagi sekali setiap hari, untuk pulang di sore hari—dengan senyuman. Si perempuan terus berdoa, mencuci atau menyetrika, memasak dan menabung untuk membeli kursi, panci, mesin jahit, atau apa saja. Di akhir pekan, berdua mereka mendengarkan radio yang mereka beli dari sisa-sisa uang belanja—atau berjalan-jalan ke kota melihat-lihat TV yang ingin mereka beli di bulan-bulan berikutnya. Beberapa waktu kemudian, si perempuan hamil. Si lelaki panik sekaligus gembira. Lalu mereka menjalani hari-hari bersama, dengan canda dan doa. Di bulan yang tepat, si perempuan melahirkan dengan selamat: Si lelaki lalu jadi ayah yang paling bahagia. Dia gendong anaknya, dia doakan, dia timang-timang dan sayangi setiap hari dengan caranya sendiri. Melihat semua itu, si perempuan tersenyum bahagia atas nama segala yang tak bisa dilukiskan kata-kata. Demikianlah bertahun-tahun mereka menjalani berbagai hal bersama-sama, dalam susah dan senang, dalam sempit dan lapang. Kini, anak mereka sudah cukup dewasa dan pandai membaca. Merekalah anak-anak yang lupa, bahwa kisah cinta paling indah di dunia adalah segala hal tentang kedua orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan mereka: Kita semua.
FAHD DJIBRAN | 12/11/2012
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...
FAHD DJIBRAN | 12/11/2012
*Gambar diambil dari sini.
#IndonesiaDamai
Selamat malam,
Sore ini (10/10/2012) saya kembali menjadi narasumber untuk materi creative campaign dalam workshop “Mahasiswa Tolak Kekerasan, Menuju Indonesia yang Lebih Baik”. Kali ini di Universitas Indonesia, Depok. Ini kota dan kampus keempat dari sepuluh kota dan kampus yang direncanakan menjadi host penyelenggaraan workshop ini. Sebelum di UI, saya juga ke Universitas Paramadina (Jakarta), Universitas Garut (Garut), dan Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). Setelah UI, giliran IPB (Bogor) yang akan menjadi host berikutnya.
Hasil ngobrol-ngobrol ringan dengan peserta workshop, bahwa "kampanye kebaikan" sesungguhnya tidak memerlukan dana besar dan tak seribet yang dibayangkan, kami membuat ini. Entah apa namanya. Berangkat dari status Facebook, berbekal imajinasi, digital pocket camera, tripod, iPad, dan sedikit kenekatan untuk berani melakukan video editing, ini dia hasilnya—
Rasanya saya tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Kami menyebut ini #IndonesiaDamai. Mungkin agak utopis. Tapi biar saja. Ini dikerjakan hanya dalam waktu kurang dari 6 jam—termasuk editing. Kami akan senang jika Anda tertarik dan kemudian membantu menyebarkannya di Facebook, Twitter, blog, atau lainnya. Semoga menjadi kebaikan.
Itu sudah.
Salam baik,
Fahd Djibran
@fahdisme
Subscribe to:
Posts (Atom)






















