Februari 2013, saya bersama Bondan Prakoso dan Fade2Black menerbitkan sebuah novel-musikal berjudul Tak Sempurna. Novel itu bercerita tentang tawuran dan beberbagai kekerasan, baik fisik maupun non-fisik, yang terjadi di sekolah. Laiknya sebuah novel, ada karakter, perspektif, alur, dan setting di dalamnya.
Rama menjadi tokoh utama dalam novel ini, seorang remaja SMA broken home yang mendapati dirinya berada dalam lingkaran setan kekerasan sekolah yang tak bisa ia hindari. Diceritakan dalam novel ini, Rama kerap terlibat tawuran dan mengetahui “sejumlah hal-hal buruk” dari “hal-hal yang tersembunyi” di sekolahnya: Narkoba, seks bebas, dan lainnya. Meskipun ditulis dengan sudut pandang orang pertama, gaya penulisan novel ini dibuat agak berbeda dari novel-novel biasanya, dengan demikian membuat alurnya juga berjalan dengan cara yang agak berbeda, tak sekadar maju-mundur. Setiap beberapa bab diselingi sebuah interlude, semacam jeda, yang menceritakan kejadian-kejadian dari perspektif yang lain, kadang bergaya reportase jurnalisme atau hal-hal lain yang “seolah terpisah dari cerita utama tetapi mendukungnya”.
Mengenai setting, seperti dalam setiap tulisan yang saya buat—meskipun bersama orang lain, contohnya buku Hidup Berawal Dari Mimpi yang juga saya tulis bersama Bondan Prakoso dan Fade2Black—saya tak pernah membuat kepastian waktu dan tempat. Barangkali ini yang membedakan gaya tulisan saya dengan orang lain. Saya benar-benar memosisikan fiksi sebagai dunia tersendiri yang tidak terhubung secara langsung dengan realitas. Singkatnya, fiksi adalah dunia tersendiri dan berbeda dengan realitas. Meskipun saya selalu berusaha merancang pesan-pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan relevan dengan konteks tertentu dalam kenyataan. Dalam kasus novel Tak Sempurna, masalahnya, saya menyebut nama sekolah yang kebetulan benar-benar ada dalam kenyataan: SMA Lazuardi.
Tulisan ini bermaksud memberi klarifikasi bahwa SMA Lazuardi yang saya tulis di novel Tak Sempurna bukanlah, dan sama sekali berbeda, dengan Sekolah Lazuardi di dunia nyata. Berikut beberapa penjelasan yang mudah-mudahan menjernihkan suasana.
Pertama, ketika menuliskan novel Tak Sempurna, saya dan Bondan Prakoso serta Fade2Black (dua nama terakhir bertindak sebagai penulis lirik-lirik lagu yang ada di dalam novel) sama sekali tidak tahu bahwa ada sekolah bernama Lazuardi. Saya juga memang tidak berusaha mencari tahu apakah dua nama sekolah yang saya sebut dalam novel tersebut, SMA Lazuardi dan SMK Citra Bangsa, benar-benar ada di dunia nyata atau tidak. Saya tidak menganggap hal tersebut sesuatu yang penting dalam proses kreatif saya. Terdengar naïf memang, tapi saya memang tidak punya urusan dan tendensi apa-apa. Saya seorang kreator yang bebas. Dalam bayangan saya, saya memang sengaja mereka-reka nama yang make sense sebagai nama sebuah sekolah dan oleh sebab itu semua nama bisa jadi sudah dipakai sebagai nama sekolah di manapun sekolah itu berada. Artinya, tidak hanya Lazuardi, bisa jadi nama Citra Bangsa juga sudah dipakai sebagai nama sekolah, kan? Untuk itulah, saya tidak pernah menyebutkan kota atau wilayah tertentu di novel Tak Sempurna. Artinya, Rama tidak hidup di sebuah kota atau wilayah yang spesifik di manapun, sebab ia memang hidup di dunia fiksi, dan sebab itulah nama-nama sekolah yang saya sebutkan juga fiktif belaka.
Kedua, barangkali msayarakat Indonesia terbiasa dengan novel-novel atau penulis yang suka membawa-bawa realitas ke dalam fiksi. Toko buku kita dibanjir buku-buku “berdasarkan kisah nyata” atau “berdasarkan pengalaman langsung penulisnya”. Akibatnya, barangkali ada kesan di masyarakat bahwa sebuah novel mesti berangkat atau punya hubungan dengan kisah nyata—artinya semua tokoh, setting, alur, dan lainnya di dalamnya juga nyata. Saya tidak bisa mengontrol pemahaman pembaca tentang sebuah karya. Sepenuhnya hak pembaca untuk memahami sebuah tulisan sebagai apa dan bagaimana, penulis sudah mati ketika karyanya dilemparkan ke ruang publik, kan? Tetapi, untuk kali ini saja, saya perlu mengklarifikasi bahwa segala hal yang ada dalam novel Tak Sempurna berasal dari keran imajinasi saya yang juga “tak sempurna”. Dengan begitu, mudah saja: CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, APABILA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT, WAKTU, DAN PERISTIWA, HANYALAH KEBETULAN BELAKA. :)
Ketiga, isu tawuran dan kekerasan yang diangkat dalam novel Tak Sempurna memang sangat dekat dengan konteks pendidikan di Indonesia. Saya memang menuliskan novel ini sebagai sebuah kritik, tetapi bukan serangan. Itulah sebabnya saya memilih medium novel untuk melakukannya. Jika dibaca secara keseluruhan, novel ini berusaha memperlihatkan kegelisahan pelajar, dan memberi perspektif lain “pelajar sebagai korban” meskipun dalam hal-hal seperti tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, seks bebas dan lainnya, mereka terlihat sebagai pelaku (yang bersalah) daripada korban (yang dirugikan). Singkatnya, ada banyak hal yang mesti kita sadari dan lakukan untuk menyelamatkan generasi muda bangsa ini dan kita bisa memulainya dengan membenahi sekolah. Apapun nama sekolahnya. Di manapun sekolah itu berada.
Oktober 2013 saya dihubungi teman saya, Irfan Amalee, yang bekerja di Grup Mizan, menanyakan apakah SMA Lazuardi yang saya tulis di novel Tak Sempurna adalah sekolah yang sama dengan Sekolah Lazuardi yang dimiliki Haidar Bagir yang juga pemilik Mizan? Saya jawab dengan singkat, tentu saja bukan. Dan tidak ada hubungannya sama sekali. Konon, beberapa pihak Sekolah Lazuardi di dunia nyata mengeluhkan tulisan saya—karena belakangan ada alumni dan orangtua yang menanyakan apakah novel saya menceritakan sekolah mereka? Saya kira kekhawatiran mereka wajar, dan saya mengerti betul, sebab kekhawatiran mereka sama seperti kekhawatiran kita semua jika hal-hal buruk terjadi di sekolah kita.
Melalui tulisan ini, sekali lagi saya tegaskan bahwa tulisan saya di novel Tak Sempurna tidak ada hubungannya dengan SMA Lazuardi di dunia nyata, meskipun ada kesamaan nama. Untuk meyakinkannya, silakan cek apakah di sekitar sekolah Lazuardi di manapun ada sekolah lain yang bernama SMK Citra Bangsa? Mudah-mudahan tidak ada, untuk tidak menjadi sebuah “kebetulan yang sempurna”. Dengan segala kerendahan hati, saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang berhubungan dengan Sekolah Lazuardi yang merasa terganggu atau tercemar nama baik sekolahnya oleh novel saya yang fiksi. Kalau boleh meyakinkan, tetaplah tenang, tenang saja, masyarakat pembaca kita sudah cerdas dan dewasa. :)
Di atas semua itu, tetaplah menjadi mereka yang khawatir dan gelisah pada banyak hal buruk yang terjadi pada anak-anak, adik-adik, dan teman-teman kita di sekolah—di sekolah manapun. Setiap hari, kita dikagetkan oleh berbagai pemberitaan mengenai tawuran, pelecehan seksual, pemerkosaan, aborsi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, juga hal-hal buruk lainnya yang melibatkan institusi bernama sekolah. Beberapa di antara hal-hal buruk itu terungkap dan tersingkap, membuat kita tersentak dan tercengang, tetapi sesungguhnya begitu banyak hal-hal buruk lainnya yang masih tersembunyi. Mari bersama-sama melakukan kerja perbaikan dan penyadaran. Novel ini adalah usaha kecil saya untuk berkontribusi pada kerja perbaikan dan penyadaran itu, dengan pertama-tama memperlihatkan bahwa institusi sekolah kita memang TAK SEMPURNA.
Salam baik,
Fahd Djibran
Bondan Prakoso
Fade2Black























