Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label statement. Show all posts
Showing posts with label statement. Show all posts

Tentang Sekolah Lazuardi: Sebuah Klarifikasi


Februari 2013, saya bersama Bondan Prakoso dan Fade2Black menerbitkan sebuah novel-musikal berjudul Tak Sempurna. Novel itu bercerita tentang tawuran dan beberbagai kekerasan, baik fisik maupun non-fisik, yang terjadi di sekolah. Laiknya sebuah novel, ada karakter, perspektif, alur, dan setting di dalamnya.

Rama menjadi tokoh utama dalam novel ini, seorang remaja SMA broken home yang mendapati dirinya berada dalam lingkaran setan kekerasan sekolah yang tak bisa ia hindari. Diceritakan dalam novel ini, Rama kerap terlibat tawuran dan mengetahui “sejumlah hal-hal buruk” dari “hal-hal yang tersembunyi” di sekolahnya: Narkoba, seks bebas, dan lainnya. Meskipun ditulis dengan sudut pandang orang pertama, gaya penulisan novel ini dibuat agak berbeda dari novel-novel biasanya, dengan demikian membuat alurnya juga berjalan dengan cara yang agak berbeda, tak sekadar maju-mundur. Setiap beberapa bab diselingi sebuah interlude, semacam jeda, yang menceritakan kejadian-kejadian dari perspektif yang lain, kadang bergaya reportase jurnalisme atau hal-hal lain yang “seolah terpisah dari cerita utama tetapi mendukungnya”.

Mengenai setting, seperti dalam setiap tulisan yang saya buat—meskipun bersama orang lain, contohnya buku Hidup Berawal Dari Mimpi yang juga saya tulis bersama Bondan Prakoso dan Fade2Black—saya tak pernah membuat kepastian waktu dan tempat. Barangkali ini yang membedakan gaya tulisan saya dengan orang lain. Saya benar-benar memosisikan fiksi sebagai dunia tersendiri yang tidak terhubung secara langsung dengan realitas. Singkatnya, fiksi adalah dunia tersendiri dan berbeda dengan realitas. Meskipun saya selalu berusaha merancang pesan-pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan relevan dengan konteks tertentu dalam kenyataan. Dalam kasus novel Tak Sempurna, masalahnya, saya menyebut nama sekolah yang kebetulan benar-benar ada dalam kenyataan: SMA Lazuardi.

Tulisan ini bermaksud memberi klarifikasi bahwa SMA Lazuardi yang saya tulis di novel Tak Sempurna bukanlah, dan sama sekali berbeda, dengan Sekolah Lazuardi di dunia nyata. Berikut beberapa penjelasan yang mudah-mudahan menjernihkan suasana.

Pertama, ketika menuliskan novel Tak Sempurna, saya dan Bondan Prakoso serta Fade2Black (dua nama terakhir bertindak sebagai penulis lirik-lirik lagu yang ada di dalam novel) sama sekali tidak tahu bahwa ada sekolah bernama Lazuardi. Saya juga memang tidak berusaha mencari tahu apakah dua nama sekolah yang saya sebut dalam novel tersebut, SMA Lazuardi dan SMK Citra Bangsa, benar-benar ada di dunia nyata atau tidak. Saya tidak menganggap hal tersebut sesuatu yang penting dalam proses kreatif saya. Terdengar naïf memang, tapi saya memang tidak punya urusan dan tendensi apa-apa. Saya seorang kreator yang bebas. Dalam bayangan saya, saya memang sengaja mereka-reka nama yang make sense sebagai nama sebuah sekolah dan oleh sebab itu semua nama bisa jadi sudah dipakai sebagai nama sekolah di manapun sekolah itu berada. Artinya, tidak hanya Lazuardi, bisa jadi nama Citra Bangsa juga sudah dipakai sebagai nama sekolah, kan? Untuk itulah, saya tidak pernah menyebutkan kota atau wilayah tertentu di novel Tak Sempurna. Artinya, Rama tidak hidup di sebuah kota atau wilayah yang spesifik di manapun, sebab ia memang hidup di dunia fiksi, dan sebab itulah nama-nama sekolah yang saya sebutkan juga fiktif belaka.

Kedua, barangkali msayarakat Indonesia terbiasa dengan novel-novel atau penulis yang suka membawa-bawa realitas ke dalam fiksi. Toko buku kita dibanjir buku-buku “berdasarkan kisah nyata” atau “berdasarkan pengalaman langsung penulisnya”. Akibatnya, barangkali ada kesan di masyarakat bahwa sebuah novel mesti berangkat atau punya hubungan dengan kisah nyata—artinya semua tokoh, setting, alur, dan lainnya di dalamnya juga nyata. Saya tidak bisa mengontrol pemahaman pembaca tentang sebuah karya. Sepenuhnya hak pembaca untuk memahami sebuah tulisan sebagai apa dan bagaimana, penulis sudah mati ketika karyanya dilemparkan ke ruang publik, kan? Tetapi, untuk kali ini saja, saya perlu mengklarifikasi bahwa segala hal yang ada dalam novel Tak Sempurna berasal dari keran imajinasi saya yang juga “tak sempurna”. Dengan begitu, mudah saja: CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, APABILA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT, WAKTU, DAN PERISTIWA, HANYALAH KEBETULAN BELAKA. :)

Ketiga, isu tawuran dan kekerasan yang diangkat dalam novel Tak Sempurna memang sangat dekat dengan konteks pendidikan di Indonesia. Saya memang menuliskan novel ini sebagai sebuah kritik, tetapi bukan serangan. Itulah sebabnya saya memilih medium novel untuk melakukannya. Jika dibaca secara keseluruhan, novel ini berusaha memperlihatkan kegelisahan pelajar, dan memberi perspektif lain “pelajar sebagai korban” meskipun dalam hal-hal seperti tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, seks bebas dan lainnya, mereka terlihat sebagai pelaku (yang bersalah) daripada korban (yang dirugikan). Singkatnya, ada banyak hal yang mesti kita sadari dan lakukan untuk menyelamatkan generasi muda bangsa ini dan kita bisa memulainya dengan membenahi sekolah. Apapun nama sekolahnya. Di manapun sekolah itu berada.

Oktober 2013 saya dihubungi teman saya, Irfan Amalee, yang bekerja di Grup Mizan, menanyakan apakah SMA Lazuardi yang saya tulis di novel Tak Sempurna adalah sekolah yang sama dengan Sekolah Lazuardi yang dimiliki Haidar Bagir yang juga pemilik Mizan? Saya jawab dengan singkat, tentu saja bukan. Dan tidak ada hubungannya sama sekali. Konon, beberapa pihak Sekolah Lazuardi di dunia nyata mengeluhkan tulisan saya—karena belakangan ada alumni dan orangtua yang menanyakan apakah novel saya menceritakan sekolah mereka? Saya kira kekhawatiran mereka wajar, dan saya mengerti betul, sebab kekhawatiran mereka sama seperti kekhawatiran kita semua jika hal-hal buruk terjadi di sekolah kita.

Melalui tulisan ini, sekali lagi saya tegaskan bahwa tulisan saya di novel Tak Sempurna tidak ada hubungannya dengan SMA Lazuardi di dunia nyata, meskipun ada kesamaan nama. Untuk meyakinkannya, silakan cek apakah di sekitar sekolah Lazuardi di manapun ada sekolah lain yang bernama SMK Citra Bangsa? Mudah-mudahan tidak ada, untuk tidak menjadi sebuah “kebetulan yang sempurna”. Dengan segala kerendahan hati, saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang berhubungan dengan Sekolah Lazuardi yang merasa terganggu atau tercemar nama baik sekolahnya oleh novel saya yang fiksi. Kalau boleh meyakinkan, tetaplah tenang, tenang saja, masyarakat pembaca kita sudah cerdas dan dewasa. :)

Di atas semua itu, tetaplah menjadi mereka yang khawatir dan gelisah pada banyak hal buruk yang terjadi pada anak-anak, adik-adik, dan teman-teman kita di sekolah—di sekolah manapun. Setiap hari, kita dikagetkan oleh berbagai pemberitaan mengenai tawuran, pelecehan seksual, pemerkosaan, aborsi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, juga hal-hal buruk lainnya yang melibatkan institusi bernama sekolah. Beberapa di antara hal-hal buruk itu terungkap dan tersingkap, membuat kita tersentak dan tercengang, tetapi sesungguhnya begitu banyak hal-hal buruk lainnya yang masih tersembunyi. Mari bersama-sama melakukan kerja perbaikan dan penyadaran. Novel ini adalah usaha kecil saya untuk berkontribusi pada kerja perbaikan dan penyadaran itu, dengan pertama-tama memperlihatkan bahwa institusi sekolah kita memang TAK SEMPURNA.


Salam baik,
Fahd Djibran
Bondan Prakoso
Fade2Black
Continue Reading...

Monolog Penantian


Di dunia di mana motif ayam menyeberang jalan tidak dipertanyakan lagi, perempuan-perempuan tahu bahwa jodoh mungkin harus ditemukan—dan bukan ditunggu. Sebab di dunia para ayam, pejantan tak pernah lebih dewasa dari betinanya.
Continue Reading...

Lima Cara Untuk Menghentikan Waktu (Kisah Semu)

Cerita: FAHD DJIBRAN - inspired by one of Craigslist true stories
Lagu: FIERSA BESARI dan NALURI BELLA WATI - Kisah Semu (dari Album 11:11, music and lyrics by Fiersa and Naluri)


Aku pertama kali melihatmu di stasiun kereta Rawa Buntu dan tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Biasa saja, seperti kemeja putihmu yang agak kusut di bagian belakangnya, juga jins birumu yang tak terlalu istimewa. Kita sama-sama memakai kacamata, mungkin itu yang membuatku memerhatikanmu. Sejak SMP, aku selalu berimajinasi untuk suatu saat akan jatuh cinta pada perempuan berkacamata—dengan bingkai kotak yang berwarna hitam menumpuk di sepasang lengkung alis matanya: Waktu itu kamu memakainnya.

Continue Reading...

Penyesalan


Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali: Hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda semua peristiwa, seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.

Continue Reading...

Malam Penentuan


: Laylat al-Qadr

bagaimana harus kuhitung malammu, layla
bila seribu bulan selalu gagal
menggenapkan wajahmu

aku membuka halaman-halaman
kudus, mengeja ayat-ayat memanggil namamu
atau memejamkan mata atau menangkap suara-suara
hening menggumamkan nama-nama
Tuhan dalam hitungan-hitungan zikir
yang rahasia, layla

suatu hari di sepuluh penghabisan
aku bertanya-tanya
engkaukah sebenarnya Wajah itu, layla
mungkinkah Ramadhan hanya sumbu waktu
untuk meledakkan cahayaMu
di dada-imanku yang penipu

mungkinkah aku diciptakan
untuk menjadi punguk buruk rupa
yang merindukan cerlang bulan
seperti dada pendosa mendambakan
lembut Wajah Tuhan

maka datanglah, layla, datanglah
ke dalam diriku
dalam terang atau sembunyi-sembunyi
hajarlah seluruh jiwaku
dengan cahaya seribu bulanmu

layla, barangkali tak ada yang lebih kurindkan
selain perjumpaan ulat-diri dengan Engkau
Tuhan yang akan membisikkan kalimat
mengubah aku menjadi kupu-kupu taqwa
di penghujung Ramadhan yang rahasia

demi waktu dan semua tentangmu, layla
izinkan aku menangis di dadaMu
tanpa suara, dekaplah aku
sedetik saja
: maka hidupku akan sempurna



Fahd Djibran
10 Penghabisan, Ramadhan 1434
Continue Reading...

Dekade



Hari ini, 19 Juni 2013, menandai satu dekade perjalanan saya sebagai seorang penulis. Sepuluh tahun yang lalu, 19 Juni 2003, waktu itu masih kelas 2 SMA, saya menerbitkan buku pertama saya berjudul Kucing. Tidak mirip sebuah buku, sebenarnya. Sebab pada waktu itu, nyatanya Kucing terlalu absurd untuk disebut sebagai buku yang utuh. Ia hanya berisi kumpulan puisi, cerpen, sketsa, prosa, SMS, dan apa saja yang bisa saya tuliskan tanpa tahu bentuknya—jenisnya. Belum ada buku semacam itu sebelumnya, dan belum ada penerbit gila yang berani menerbitkan buku yang lebih mirip “tong sampah” pikiran dan perasaan.

Untunglah saya bertemu Irfan AmaLee, waktu itu editor Penerbit Mizan. Kakak kelas saya sewaktu mondok di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Setelah nekat menerima tantangannya untuk menerbitkan buku dan diberi waktu satu bulan, saya menyerahkan Kucing yang di-print menghabiskan uang saku saya untuk setengah bulan. Dengan tangan gemetar, saya menyerahkan naskah itu sambil berharap mendapat pujian, tentu saja, meski tidak yakin. Saya tidak berpikir buku itu akan laku atau tidak? Untuk siapa buku itu dituliskan? Apa segmentasi pembacanya? Bagaimana strategi pemasarannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sama sekali tak terlintas dalam benak saya waktu itu. Pokoknya saya menulis dan mudah-mudahan punya kesempatan untuk diterbitkan; Entah bagaimana lagi setelahnya.

Sepuluh hari sejak kejadian itu, status saya sudah berubah menjadi penulis. Amatir, tentu saja. Irfan AmaLee membantu menerbitkan Kucing secara indie di bawah penerbit yang saya tahu sebenarnya “pura-pura”, namanya MagnumOpusProject. Tapi saya tidak mau menjadi penulis yang pura-pura. meskipun buku saya hanya dicetak 10 eksamplar pada cetakan pertama, saya berusaha untuk menjadi penulis sungguhan. Paling tidak, waktu itu, saya berusaha “berakting” menjadi penulis sungguhan. Demi buku pertama itu: Saya buat posternya, saya buat blognya, saya sablon kaus bergambar cover buku saya, saya ceritakan pada sebanyak mungkin orang...

Waktu terus berjalan dan tanpa terduga Kucing terus dicetak, disukai dan mendapatkan banyak pujian. Orang-orang mulai mengenal saya. Saya mulai punya acara “bedah buku” sendiri dan sesekali membubuhkan tandatangan pada buku yang saya tulis itu—untuk seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sebagian orang memasukkan saya dalam daftar penulis yang buku berikutnya akan mereka tunggu atau penulis yang menginspirasi mereka. Saya bangga luar biasa, tentu saja, tetapi sekaligus khawatir dan malu. Khawatir karena kalau saya berhenti menulis artinya saya akan segera dilupakan. Malu karena saya hanyalah penulis amatir yang sebenarnya ragu tentang apa yang dituliskannya sendiri.

Maka saya bertekad untuk terus belajar. Bagi saya, berkarya adalah belajar. Pada saat karya saya dipuji atau laku atau menginspirasi pembaca, itu bonus dari kerja-kerja menyenangkan yang saya lakukan. Pada saat karya saya dikritik atau dihina atau tidak laku, ya... tak usah sakit hati. Namanya juga belajar, kan?

Hari demi hari berlalu. Tanggal dan bulan-bulan berguguran dari kalender. Tanpa terasa, sejak buku pertama itu, kini telah genap 10 tahun saya menulis. Lebih tepatnya, 10 tahun saya belajar menulis. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, sekarang saya sudah memiliki lebih dari 15 buku yang tersebar di berbagai penerbit besar berskala nasional. Selain buku-buku, saya juga punya ratusan artikel, cerpen, puisi, prosa dan tentu saja ribuan tulisan gagal lainnya yang tersimpan di komputer atau catatan pribadi saya. Status sebagai penulis terus saya bawa sejak 10 tahun lalu dan kini telah memberikan saya banyak hal—yang tak pernah saya rancang sebelumnya: Rumah, kendaraan, karir, perjalanan-perjalanan, eksperimen-eksperimen, pertemuan-pertemuan, beasiswa, dan tentu saja... pembaca setia. Tak ternilai harganya!

10 tahun berlalu sudah banyak yang berubah dari gaya menulis saya, tentu saja. Tema, warna, dan posisi saya di hadapan teks juga telah berubah. Kadang-kadang saya tertawa membaca tulisan-tulisan lama saya, sambil bertanya-tanya mengapa saya begitu bodoh waktu menuliskannya? Di waktu yang lain, saya tercenung bahkan tercengang, mengapa dulu saya lebih cerdas, lebih lihai daripada sekarang? Tapi waktu, seperti teman, telah membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang—dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Inilah sepuluh tahun itu, baru saja berlalu. Bukan waktu yang panjang, tapi juga tidak pendek. Masih banyak yang harus saya kerjakan untuk terus belajar dan “berakting” menjadi penulis. Kini, saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang paling ingin saya tuliskan sejak 10 tahun lalu. Sebuah novel, barangkali. Mudah-mudahan bisa segera saya selesaikan dalam waktu dekat dan terbit tahun ini juga. Sesuatu yang saya janjikan layak untuk Anda tunggu; Mudah-mudahan tidak mengecewakan.

Akhirnya, saya menikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya. Menulis buat saya bukan untuk menjual buku, bukan juga untuk pergi ke pesta—seperti kata Chairil Anwar. Bagi saya, menulis adalah panggilan jiwa. Semacam takdir lain saya sebagai manusia. Sesuatu yang digambarkan Charles Bukowski sebagai sesuatu yang datang tanpa diminta, keluar dari hatimu dan dari pikiranmu dan dari mulutmu dan dari muntahmu... ia melesat dari jiwamu seperti sebuah roket! (...that comes unasked out of your heart and your mind and your mouth and your gut... it comes out of your soul like a rocket!)

Saya mungkin bukan penulis terbaik di Indonesia, tapi saya masih 26 tahun. Itu motto saya dalam menulis. I am not the best writer in Indonesia, but I am still 26 years old. Silakan tafsirkan sendiri maksudnya. :)

Terima kasih untuk semuanya. Benar-benar semuanya.



so you want to be a writer?
—Charles Bukowski

if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.
unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.
if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,
don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,
don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.
if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.
if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.
if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.

if you have to wait for it to roar out of
you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.

if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.

don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,
don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with self-
love.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.
unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.
unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.

when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in you.

there is no other way.

and there never was.

FAHD DJIBRAN | Tangerang Selatan, 19/06/2013

*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Terjatuh



Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh. 

***

Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.




FAHD DJIBRAN | 22/05/13

PS. Cerita ini terisnpirasi dari komposisi musik teman saya, Kate Grealy, penyanyi asal Australia, berjudul Nothing’s As it Appears. Saat ini Kate sedang sakit di Jogja. Semoga lekas sembuh, Kate.

Lagu: Kate Grealy – Nothing’s As it Appears
Gambar diambil dari sini.


Continue Reading...

Tua


Hari ini usia saya 26 tahun 8 bulan 9 hari, tapi saya mulai merasa tua. Saya kehilangan banyak ingatan ihwal nama-nama—terutama mereka yang berasal dari masa lalu. Di keseharian, banyak sekali yang terlalu mudah saya lupakan. Sementara perut saya mulai membuncit, penglihatan saya mulai kabur, dan saya jadi pemarah.
Continue Reading...

Foto

“Ini foto kapan, ya? Kita lagi di mana?” Aku setengah berteriak.

Kamu mengintip dari dalam kamar, masih terus mencari kacamataku. “Itu waktu kita lagi di Batam!” Kamu setengah berteriak.

Aku tersenyum. Aku sudah tahu sebenarnya. Aku masih mengingat semuanya. Tapi aku senang menanyakannya padamu, lagi dan lagi: Aku senang mengetahui bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. 




kuberikan padamu
setangkai kembang pete
tanda cinta abadi namun kere
buang jauh-jauh impian mulukmu
sebab kita tak boleh bikin uang palsu

kalau diantara kita jatuh sakit
lebih baik tak usah ke dokter
sebab ongkos dokter di sini
terkait di awan tinggi

cinta kita cinta jalanan
yang tegak mabuk dipersimpangan
cinta kita jalanan
yang sombong menghadang keadaan

semoga hidup kita bahagia
semoga hidup kita sejahtera
semoga hidup kita bahagia
semoga hidup kita sejahtera

kuberikan padamu
sebuah batu akik
tanda sayang bathin yang tercekik
rawat baik-baik walau kita terjepit
dari kesempatan yang semakin sempit


FAHD DJIBRAN | 2 April 2013

*Lagu: Iwan Fals - Kembang Pete


Continue Reading...

Bersalah


Apa yang mustahil tak dimiliki semua manusia? Barangkali rasa bersalah.
Continue Reading...

Komitmen

—Balasan Rizqa untuk posting saya, The Proposal. Proses penyuntingan tulisan ini dilakukan berdua.



Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi.






12 Februari 2013 | Rizqa Abidin – Fahd Djibran

*Gambar diambil dari sini.
*Lagu: Just Give Me a Reason – P!nk ft. Nate Ruess
Continue Reading...

Maharencana




Terakhir, saya senang menuliskan pikiran, perasaan, dan pengalaman saya di blog ini. Termasuk lima bait kalimat yang saya ceritakan di atas tadi. Itu modus saya untuk berdoa. Sebab ketika kalian membaca tulisan-tulisan yang sebenarnya adalah doa-doa saya, kalian turut mengaminkannya. Terima kasih untuk semua itu… Dan tetaplah menjadi teman yang keren!


—Keep calm and God will answer your prayers

FAHD DJIBRAN

*Lagu: Jason Mraz - I Won't Give Up
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

The Proposal

: Untuk Rizqa, tiga tahun yang lalu


—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu. 


FAHD DJIBRAN

*Lagu: Without You - David Guetta feat Usher & ThePianoGuys
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Kendali



Udara panas mengambang di ruangan empat meter persegi ketika aku menutup telepon darimu; Percakapan yang baru saja kita akhiri tanpa solusi, memanaskan telingaku, mendidihkan pikiran dan perasaanku. Tapi aku tak bisa marah: Semua yang membuat kita kecewa, tak berada dalam kendali kita berdua. Maka kita hanya bisa menerimanya dengan perasaan janggal yang mengganjal.




Tangerang Selatn, 4 Februari 2013
FAHD DJIBRAN

*Lagu: Fun. - Carry On 
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Menyeberang



Kapan Tuhan mengirimkan jodoh buatku? Itu pertanyaan pribadimu. Keluh rahasiamu. Kadang-kadang kamu gumamkan di saat-saat sepi yang sendiri.





: Untuk seorang sahabat

FAHD DJIBRAN

*Lagu: The Cardigans - Communication (Accoustic)
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Tak Sempurna: Sebuah Novel


Sejak pertangahan 2012, saya dan Bondan Prakoso & Fade2Black (Bondan, Tito, Eza, dan Arie) berencana membuka awal tahun 2013 dengan karya baru: Sebuah novel kolaborasi fiksi-musikal berjudul Tak Sempurna. Kenyataannya, mengerjakan karya ini tak semudah yang dibayangkan. Kami gagal menyajikannya tepat di awal tahun. Sebab ternyata kami memerlukan waktu lebih untuk sejumlah riset, diskusi panjang, dan persiapan-persiapan penting lainnya. Di tengah kesibukan masing-masing, kami terus berkonsentrasi pada karya ini, kami ingin karya ini “maksimal”, meski kami juga tahu sulit menjadikannya “sempurna”. Syukurlah kini semuanya sudah selesai; Tinggal selangkah lagi, novel itu akan segera rilis pada Februari 2013.

Ada yang istimewa dalam perjalanan kami mengerjakan karya ini. Kami mengerjakannya dengan spirit yang lebih kuat, juga dengan visi yang lebih sejalan. Mungkin karena hubungan kami sudah menjadi lebih matang lagi, bukan sekadar saling kenal. Kami berjalan beriringan sebagai teman, atau sahabat, dalam pengertian yang sesungguhnya. Kami tidak hanya berhubungan dalam hal kreativitas, tapi hingga hal-hal lain yang lebih personal. Misalnya, di sela-sela diskusi, kami bisa bercerita tentang keluarga, anak-anak, repotnya mengurus rumah, atau curhat soal persoalan masing-masing. Yang lebih istimewa, kedekatan itu merambat ke aspek yang lebih kompleks dalam kehidupan masing-masing kami: Menyenangkan mengetahui bahwa istri kami juga jadi saling kenal, anak-anak kami bertemu dan bermain, dan lebih banyak lagi. Jangan tanya soal Eza, dia memang belum menikah, tapi tentu jadi Om paling keren bagi anak-anak kami.

Dua setengah tahun lalu ketika mulai mengerjakan Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM), kami baru saling mengenal. Sejujurnya, proses kreatif dilakukan dengan nuansa yang agak rikuh. Sebagai seniman yang berkarya di dua wilayah yang berbeda, kami masih saling membaca satu sama lain, scanning. Tapi syukurlah ternyata HBDM menjadi pembuka yang manis untuk proyek-proyek kreativitas kami berikutnya. Dengan berbagai kekurangannya, buku itu diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat, menjadi best-seller di toko-toko buku besar, membuat kami bangga dan tersenyum lebar. Ini rahasia: HBDM sebenarnya belum menggambarkan gagasan dan perasaan kami seutuhnya—ia hanya kepingan-kepingan cermin yang merefleksikan hal-hal yang berserakan di otak dan hati kami.

Tak Sempurna lebih mewakili kami sebagai individu. Ia memuat gagasan dan perasaan kami yang lebih utuh dan jujur tentang banyak hal. Juga harapan dan kegelisahan-kegelisahan. Untuk mengungkapkan semua itu, kami memilih dunia sekolah sebagai “medan bercerita”. Ya, boleh jadi kami meminjam sekolah sebagai sudut pandang untuk melihat dunia yang lebih luas. Bagi kami, sekolah adalah dunia yang sangat kompleks—miniatur kehidupan manusia. Kita bisa melihat banyak aspek penting kehidupan dari sana: Hubungan antar-manusia, anak-anak, keluarga, orangtua, birokrasi, politik, agama, masyarakat, harapan, kekecewaan, masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya. Jadi, meskipun kami bercerita tentang “sekolah” atau “anak sekolah”, sesungguhnya kami sedang menceritakan sesuatu yang lebih luas lagi.

Novel kami bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya.

Something has gone very wrong with our school! Itu kalimat kuncinya. Sudah bisa diduga, tentu saja, anak-anak seperti apa yang dihasilkan kehidupan kota semacam itu—sistem pendidikan semacam itu? Kami terkejut mendapatkan sejumlah fakta mengerikan dalam riset sederhana yang kami lakukan: Ratusan pelajar tewas setiap tahunnya akibat tawuran dan overdosisi obat-obatan terlarang. Para pelajar melakukan seks bebas sesering pesta minuman keras, aborsi di mana-mana, pembunuhan dan pemerkosaan sulit dihitung jumlah pastinya. Ya, semua itu dilakukan pelajar, remaja Indonesia di bawah usia 18 tahun! Anak-anak masa depan yang gelisah dan putus asa, tapi tak pernah diperhatikan! Ana-anak yang dibuang, ditekan, dibebani, untuk kelak dicaci-maki dan disalahkan!

Di novel tersebut, kami meminjam sudut pandang seorang remaja biasa untuk bercerita berbagai hal tentang dirinya. Namanya Rama. Dia menceritakan banyak hal tentang sekolah dan segala hal yang bersinggungan dengannya. Dari hal-hal yang bisa kita bayangkan hingga hal-hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Dari harapan hingga kekecewaan. Semua tentang sekolah. Semua tentang kehidupan mereka—anak-anak bangsa: Miniatur bagi kehidupan kita sesungguhnya!

Saya tak akan menulis lebih panjang lagi. Jika ingin tahu detilnya, tentu Anda semua harus membaca ceritanya. Kami sudah tidak peduli lagi cerita itu akan melahirkan “pro” atau “kontra” di tengah masyarakat. Kami hanya menceritakan kenyataan yang kami tangkap apa adanya. Lagi pula, sebuah karya, ketika sudah dilemparkan ke hadapan sidang pembaca, sepenuhnya menjadi milik pembacanya. Tugas kami sudah selesai, itu dia: Kami sudah menuliskannya menjadi sebuah cerita sederhana—yang barangkali memang tak sempurna. Namun dari cerita itu, kami berharap sesuatu: Semoga pikiran dan perasaan kita terbuka, ada jutaan anak-anak Indonesia yang harus kita perhatikan dan selamatkan masa depannya!

Bagaimana kisah ini dituliskan? Kami tetap menyebutnya fiksi-musikal. Kami tak peduli pada genre, sebenarnya. Seperti jika saya menulis atau jika Bondan Prakoso & Fade2Black menulis dan menyanyikan lagu. Bisa apa saja namanya. Tapi mungkin novel ini memang dituliskan dengan cara yang tidak biasa. Bacalah sambil mendegarkan lagu-lagunya. Cerita dan lirik-lirik lagu yang terdapat di dalamnya merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Inilah yang disebut kolaborasi, sebuah karya yang dirancang dan dilahirkan dengan spirit saling melengkapi!

Akhirnya, kami mempersembahkan novel ini untuk orang-orang terkasih di sekeliling kami, adik-adik kami para pelajar di seluruh Indonesia, juga Rezpector sejagat raya! Mari akhiri semua kebodohan untuk menjadi generasi Tak Terkalahkan


Kau yang di sana, yang berjiwa lemah,
Mendekat padaku! Raih tanganku!
Karena ku di sini pantang menyerah,
Bersatu kita kuat, bersama kita hebat
dan tak kan terkalahkan!

Respect & Unity For All, RUFA,
Fahd DjibranBondan Prakoso & Fade2Black


Tak Sempurna: Sebuah Novel
Fahd Djibran feat Bondan Prakoso & Fade2Black
Tebal: 240++ halaman
Harga: Rp. 46.000,-
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Pre-Order Edisi Tandatangan: Kurniaesa, Bukukita, Bookoopedia
Tersedia di toko-toko buku nasional seluruh Indonesia mulai pertengahan Februari 2013.
Continue Reading...

Kelahiran



Hari itu Senin, 12 Rabiul Awal, 570 M. 1443 tahun silam. Angin jazirah mengembangkan senyum seorang ibu yang sedang berbahagia. Aminah namanya. Perempuan agung yang baru saja melahirkan bayi yang dinanti-nanti.

Muhammad nama bayi itu. Aminah terus tersenyum sambil menimang bayi tampan di pangkuannya. “Kelahiran putraku membuat seluruh jagat raya seolah lautan cahaya dan aku sedang berenang di dalamnya!” Ujar Aminah dalam senyum gembira. Bayi tampan itu, Muhammad, tertidur dalam selimut putih dengan wajah yang tenang. Langit, bumi, awan, gunung, hewan-hewan, tetumbuhan, para malaikat, seluruh semesta sedang bershalawat mengagungkan namanya.

Di rumah itu, semua orang berkumpul mengelilinginya. Memuji cahaya di wajahnya. Ada kebahagiaan yang tak bisa mereka jelaskan, meluap-luap di hati mereka. Mereka tak tahu nama kebahagiaan itu, mereka tak pernah merasakan yang sesyahdu dan seagung itu. Mereka merasakan ketenangan dan keagungan yang takterpermaknai dialirkan napas lembut bayi tampan itu. “Dia bayi yang tampan! Sungguh, dia bayi yang tampan!” Kata seseorang di antara mereka. Yang lain mengangguk-angguk memberikan persetujuan. Perasaan gembira bertambah besar di hati mereka.

Nama ayah bayi itu Abdullah. Hamba Tuhan, sebagaimana namanya, yang penyabar dan lembut hatinya. Sayang Abdullah tak bisa ikut merasakan kebahagiaan menyambut bayi Muhammad. Abdullah meninggal sebelum menyaksikan kelahiran putranya. Tetapi kakek bayi itu masih hidup dan sehat, Abdul Muthalib namanya. Dia merupakan pemuka kabilah Quraisy yang bijaksana dan murah hati. Semua ini tentu bukan kebetulan, Tuhan tahu segalanya, bahkan sesuatu yang paling rahasia di antara banyak hal yang telah dilupakan manusia.

***

Begitu indah silsilah bayi tampan ini: Dari Abdul Muthalib lahirlah Abdullah, dan dari Abdullah lahirlah Muhamad. Semua ini memberi tahu kita tentang cara melahirkan Muhammad dari dalam diri kita. Caranya, kita harus mengubah diri menjadi hamba yang terus-menerus melakukan pencarian (dalam bahasa Arab, itu berarti 'abdul muthalib). Beragama adalah proses pencarian terus-menerus, Islam menolak cara beragama yang menetap pada kebiasaan. Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Quran menegaskan bahwa untuk sampai pada keimanan yang kukuh, seseorang harus melalui fase pencarian terus-menerus. Abdul Muthalib mencontohkannya.

Kemudian, dari proses pencarian itu kita akan belajar menjadi pelayan Tuhan (dalam bahasa Arab, itu berarti 'abdullah). Sebagai pelayan Tuhan, seluruh tindakan kita adalah realisasi dari semua perintah dan larangan-Nya. Bila tuannya sangat kasih sayang pada semua manusia, maka sebagai pelayan juga semestinya demikian. Ketika sang tuan tidak memunculkan diri secara langsung, semua tugas dan keberadaan tuan ditentukan oleh sikap dan kreativitas pelayannya.

Maka, setelah menjadi pelayan Tuhan yang baik dan taat, barulah lahir sifat-sifat ”yang terpuji” dalam diri kita (dalam bahasa Arab, itu berarti muhammad). Pelayan yang baik adalah pelayan yang menampilkan seluruh kehormatan dan kebaikan tuannya. Bila Allah kita imani sebagai pemilik nama-nama yang baik (al-asmâ al-husnâ), maka sebagai hamba-Nya kita harus terus-menerus menampilkan nama-nama indah itu dalam perilaku keseharian kita yang nyata. Di sanalah,seluruh diri kita akan menjadi ”sang terpuji”, muhammad, yang menjadi penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta (rahmatan lil ’âlamin).

***

Demikianlah Muhammad terlahir.

Mendapati kabar kelahiran cucunya, Abdul Muthalib sangat berbahagia. Dia bergegas menuju kediaman menantunya, Aminah.

Berita bahagia, wahai Abdul Muthalib! Engkau mempunyai seorang cucu laki-laki yang rupawan! Belum pernah ada bayi seperti dirinya di muka bumi ini!” Seseorang menegur Abdul Muthalib yang terus tersenyum sepanjang perjalanan.

Setibanya di kediaman Siti Aminah, Abdul Muthalib segera memeluk bayi tampan itu dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar bahagia, tak terjelaskan. Senyumnya terus mengembang, tak bisa disembunyikan.

Mari kita beri nama dia Muhammad!” kata Abdul Muthalib, “Semoga cucuku ini dicintai di manapun dan dipuji di manapun! Inilah sebabnya aku menamainya Muhammad! Rawatlah dia dengan baik, seluruh dunia akan mengenalnya!

Kelahiran Muhammad membawa kebahagiaan tersendiri di kalangan keluarganya. Dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa di malam saat Muhammad lahir ada cahaya yang bersinar di langit kota Makkah, berkilau ke seluruh semesta. Cahaya, ya cahaya, selalu menjadi amsal bagi sebuah harapan. Semua ini tentu beralasan, kelahiran Muhammad adalah kelahiran sebuah harapan—tentang hidup yang ditegakkan dengan cinta dan kasih sayang.

***

Ya Rasulullah, malam ini, jagat raya kembali mengenang kelahiranmu—tak putus-putus bershalawat mengagungkan namamu. Oh, kami merindukanmu, Ya Maulaya. Betapa kami merindukanmu, Kekasih...

Allahumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammad...



Fahd Djibran | 23/01/2013


*Musik: Yanni - Until The Last Moment
**Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Hidup ‘Kan Baik-baik Saja

Belum usai rasa syukur saya karena ratusan doa berdatangan—bahkan dari mereka yang belum saya kenal—setelah posting saya berjudul TIGA, saya merasa ulang tahun pernikahan saya dan Rizqa tahun ini benar-benar berbeda sekaligus istimewa: Tuhan mengirim begitu banyak cinta, kebahagiaan dan keberkahan!

Pagi ini saya dan Rizqa mendapat kado istimewa dari sahabat kami, Fiersa Besari. Pagi-pagi sekali ketika saya buka dinding Facebook saya, Fiersa menulis: “Untuk Bung Fahd Djibran dan istri tercinta, smoga suka ;)” diiringi sebuah tautan ke kanal Soundcloud miliknya. Saya segera membukanya, mendengarkannya, dan: Oh Tuhan, ini lagu indah yang sederhana tetapi luar biasa!

Terima kasih Bung Fiersa, kamu selalu mengagumkan! Saya sampai tak tahu lagi harus berkata apa. Dan pagi-pagi sekali, kamu telah berhasil membuat mata Rizqa berkaca-kaca mendengarkan lagumu! Seperti rencanamu, kami berdua tersenyum sepanjang mendengarkannya, dengan rasa hangat memenuhi dada.

Tentang lagu Fiersa yang indah itu, saya ingin kalian turut mendengarkannya. Judulnya Hidup ‘Kan Baik-baik Saja.



Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga

Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua

Gara-gara Fiersa, tiba-tiba saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu. Judulnya Pengakuan, silakan baca sambil mendengarkan lagu Fiersa (lagi) :)

Pengakuan
: Untuk Rizqa

Demikianlah, Sayangku, sejak jatuh ke dalam lubang-hitam cinta dalam matamu, sejak itu pula aku mengubah semua rencana dan cita-citaku—

Aku hampir tak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan, tentang apakah ia cukup bergengsi atau bisa menghasilkan banyak uang: Aku tak lagi membayangkan kesuksesan melulu tentang hal-hal yang demikian besar sekaligus mewah.

Barangkali aku ingin jadi musisi: Aku ingin menciptakan lagu-lagu yang tak akan pernah habis kau nyanyikan sepanjang hidupmu. Aku akan bahagia mendengarnya, Sayangku: Suara kecilmu menyanyikan lagu-laguku di dapur, di kamar, di ruang makan, di halaman belakang—sementara aku yang belum mandi memetik gitarku sambil tersenyum memandangmu menjemur pakaian, menyeduh kopi atau membersihkan lemari.

Demikianlah, Sayangku, sejak aku jatuh cinta pada caramu berjalan, atau caramu mengantuk, atau caramu menggigit bibir bagian bawahmu, juga rambut-rambut halus yang tak begitu rapi di belakang lehermu, sejak itu pula aku selalu ingin punya mesin perekam dalam retina mataku—

Aku ingin menyimpan semua gambar tentangmu: Saat di rumah, saat liburan dan jalan-jalan, atau saat anak pertama kita menikah dan anak kedua kita diwisuda. Aku akan memasang lagu-lagu favorit kita menjadi suara latar video-video kita. Dan untuk bagian-bagian yang tak ingin aku lupakan sepanjang hidupku: Aku ingin membuatnya dalam gerak lambat. Aku akan selalu berbahagia merekamnya, Sayangku: Terutama saat aku merekam videomu dari belakang, mengabadikan langkah-langkah kakimu yang jenjang memapah langkah-langkah kecil anak pertama kita yang sedang belajar berjalan.

Dan sejak aku jatuh cinta pada bagaimana caramu membaca, Sayangku, sejak itu pula aku belajar menulis—

Demikianlah aku mencintaimu dengan caraku yang sederhana: Sehingga ketika kau tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika akupun menjadi penulis paling berbahagia di dunia.

Ah, gara-gara semua ini, saya jadi ingin mengumpulkan catatan-catatan saya tentang perasaan agar bisa diarsipkan, syukur-syukur dibukukan. Kelak kalau sudah tua, atau kapanpun saat hubungan kami perlu diperbaiki, saya ingin membacanya bersama-sama Rizqa.


Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Salam baik,
Fahd & Rizqa

Baca juga: TIGA (Sebuah Catatan Sederhana).
Continue Reading...

Menulis Sebagai Jalan Ninja



Waktu kecil, saya tidak pernah berpikir akan menjadi penulis. Saya bercita-cita menjadi seorang ninja. Dalam imajinasi saya, ninja bekerja pada malam hari, siang hari dia menjadi manusia biasa seperti orang lain pada umumnya. Dengan jurus-jurus rahasia yang dikuasainya, seorang ninja mampu melumpuhkan lawan-lawannya dengan mudah: Demi kebenaran. Dengan tatap mata atau mantra dia bisa membuat lawannya kaku atau lemas atau bahkan lumpuh tak berdaya. Di saat lain dia juga bisa menyembuhkan. Dia berlari lebih cepat dari angin, menghilang dalam bayang-bayang, atau melompat seperti burung terbang. Ninja adalah terror atau pahlawan yang mengguncang malam!

Kini, setelah dewasa, saya gagal menjadi ninja. Tetapi ternyata menjadi penulis jauh lebih hebat daripada menjadi seorang ninja. Sebab saya mendapati kata-kata rupanya jauh lebih mematikan, juga jauh lebih menyembuhkan bahkan menghidupkan daripada senjata dan jurus-jurus rahasia para ninja. Dan seperti seorang ninja, sebagai seorang penulis saya tetap bisa bersembunyi, bekerja pada malam hari untuk menyamar di siang hari, juga mengguncang malam. Kata-kata yang saya reka bisa berlari jauh lebih cepat dari angin manapun, menjadi bayang-bayang bagi bayang-bayang itu sendiri, atau melesat lebih hebat melampaui kepak sayap burung apapun. Di atas semua itu, saya bisa menciptakan ribuan ninja melalui kata-kata!

Ah, ternyata semua ini bukan tentang menjadi apa atau menjadi siapa: Tetapi tentang bagaimana kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Apapun itu. Saya bahagia menjadi manusia yang tak terjebak pada masa lalu, tapi juga tak terhisap mengandaikan masa depan yang masih dirahasiakan Tuhan. Saya senang bisa menjadi diri saya yang sekarang.

Inilah jalan ninja yang saya tempuh!


FAHD DJIBRAN | 27/12/2012

*Gambar diambil dari sini.

Continue Reading...

Tiga

: Rizqa Abidin

Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang, tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku...





Fahd Djibran
25 Desember 2012
 
Continue Reading...