Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Monolog Penantian


Di dunia di mana motif ayam menyeberang jalan tidak dipertanyakan lagi, perempuan-perempuan tahu bahwa jodoh mungkin harus ditemukan—dan bukan ditunggu. Sebab di dunia para ayam, pejantan tak pernah lebih dewasa dari betinanya.
Continue Reading...

Lima Cara Untuk Menghentikan Waktu (Kisah Semu)

Cerita: FAHD DJIBRAN - inspired by one of Craigslist true stories
Lagu: FIERSA BESARI dan NALURI BELLA WATI - Kisah Semu (dari Album 11:11, music and lyrics by Fiersa and Naluri)


Aku pertama kali melihatmu di stasiun kereta Rawa Buntu dan tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Biasa saja, seperti kemeja putihmu yang agak kusut di bagian belakangnya, juga jins birumu yang tak terlalu istimewa. Kita sama-sama memakai kacamata, mungkin itu yang membuatku memerhatikanmu. Sejak SMP, aku selalu berimajinasi untuk suatu saat akan jatuh cinta pada perempuan berkacamata—dengan bingkai kotak yang berwarna hitam menumpuk di sepasang lengkung alis matanya: Waktu itu kamu memakainnya.

Continue Reading...

Penyesalan


Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali: Hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda semua peristiwa, seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.

Continue Reading...

Dekade



Hari ini, 19 Juni 2013, menandai satu dekade perjalanan saya sebagai seorang penulis. Sepuluh tahun yang lalu, 19 Juni 2003, waktu itu masih kelas 2 SMA, saya menerbitkan buku pertama saya berjudul Kucing. Tidak mirip sebuah buku, sebenarnya. Sebab pada waktu itu, nyatanya Kucing terlalu absurd untuk disebut sebagai buku yang utuh. Ia hanya berisi kumpulan puisi, cerpen, sketsa, prosa, SMS, dan apa saja yang bisa saya tuliskan tanpa tahu bentuknya—jenisnya. Belum ada buku semacam itu sebelumnya, dan belum ada penerbit gila yang berani menerbitkan buku yang lebih mirip “tong sampah” pikiran dan perasaan.

Untunglah saya bertemu Irfan AmaLee, waktu itu editor Penerbit Mizan. Kakak kelas saya sewaktu mondok di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Setelah nekat menerima tantangannya untuk menerbitkan buku dan diberi waktu satu bulan, saya menyerahkan Kucing yang di-print menghabiskan uang saku saya untuk setengah bulan. Dengan tangan gemetar, saya menyerahkan naskah itu sambil berharap mendapat pujian, tentu saja, meski tidak yakin. Saya tidak berpikir buku itu akan laku atau tidak? Untuk siapa buku itu dituliskan? Apa segmentasi pembacanya? Bagaimana strategi pemasarannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sama sekali tak terlintas dalam benak saya waktu itu. Pokoknya saya menulis dan mudah-mudahan punya kesempatan untuk diterbitkan; Entah bagaimana lagi setelahnya.

Sepuluh hari sejak kejadian itu, status saya sudah berubah menjadi penulis. Amatir, tentu saja. Irfan AmaLee membantu menerbitkan Kucing secara indie di bawah penerbit yang saya tahu sebenarnya “pura-pura”, namanya MagnumOpusProject. Tapi saya tidak mau menjadi penulis yang pura-pura. meskipun buku saya hanya dicetak 10 eksamplar pada cetakan pertama, saya berusaha untuk menjadi penulis sungguhan. Paling tidak, waktu itu, saya berusaha “berakting” menjadi penulis sungguhan. Demi buku pertama itu: Saya buat posternya, saya buat blognya, saya sablon kaus bergambar cover buku saya, saya ceritakan pada sebanyak mungkin orang...

Waktu terus berjalan dan tanpa terduga Kucing terus dicetak, disukai dan mendapatkan banyak pujian. Orang-orang mulai mengenal saya. Saya mulai punya acara “bedah buku” sendiri dan sesekali membubuhkan tandatangan pada buku yang saya tulis itu—untuk seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sebagian orang memasukkan saya dalam daftar penulis yang buku berikutnya akan mereka tunggu atau penulis yang menginspirasi mereka. Saya bangga luar biasa, tentu saja, tetapi sekaligus khawatir dan malu. Khawatir karena kalau saya berhenti menulis artinya saya akan segera dilupakan. Malu karena saya hanyalah penulis amatir yang sebenarnya ragu tentang apa yang dituliskannya sendiri.

Maka saya bertekad untuk terus belajar. Bagi saya, berkarya adalah belajar. Pada saat karya saya dipuji atau laku atau menginspirasi pembaca, itu bonus dari kerja-kerja menyenangkan yang saya lakukan. Pada saat karya saya dikritik atau dihina atau tidak laku, ya... tak usah sakit hati. Namanya juga belajar, kan?

Hari demi hari berlalu. Tanggal dan bulan-bulan berguguran dari kalender. Tanpa terasa, sejak buku pertama itu, kini telah genap 10 tahun saya menulis. Lebih tepatnya, 10 tahun saya belajar menulis. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, sekarang saya sudah memiliki lebih dari 15 buku yang tersebar di berbagai penerbit besar berskala nasional. Selain buku-buku, saya juga punya ratusan artikel, cerpen, puisi, prosa dan tentu saja ribuan tulisan gagal lainnya yang tersimpan di komputer atau catatan pribadi saya. Status sebagai penulis terus saya bawa sejak 10 tahun lalu dan kini telah memberikan saya banyak hal—yang tak pernah saya rancang sebelumnya: Rumah, kendaraan, karir, perjalanan-perjalanan, eksperimen-eksperimen, pertemuan-pertemuan, beasiswa, dan tentu saja... pembaca setia. Tak ternilai harganya!

10 tahun berlalu sudah banyak yang berubah dari gaya menulis saya, tentu saja. Tema, warna, dan posisi saya di hadapan teks juga telah berubah. Kadang-kadang saya tertawa membaca tulisan-tulisan lama saya, sambil bertanya-tanya mengapa saya begitu bodoh waktu menuliskannya? Di waktu yang lain, saya tercenung bahkan tercengang, mengapa dulu saya lebih cerdas, lebih lihai daripada sekarang? Tapi waktu, seperti teman, telah membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang—dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Inilah sepuluh tahun itu, baru saja berlalu. Bukan waktu yang panjang, tapi juga tidak pendek. Masih banyak yang harus saya kerjakan untuk terus belajar dan “berakting” menjadi penulis. Kini, saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang paling ingin saya tuliskan sejak 10 tahun lalu. Sebuah novel, barangkali. Mudah-mudahan bisa segera saya selesaikan dalam waktu dekat dan terbit tahun ini juga. Sesuatu yang saya janjikan layak untuk Anda tunggu; Mudah-mudahan tidak mengecewakan.

Akhirnya, saya menikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya. Menulis buat saya bukan untuk menjual buku, bukan juga untuk pergi ke pesta—seperti kata Chairil Anwar. Bagi saya, menulis adalah panggilan jiwa. Semacam takdir lain saya sebagai manusia. Sesuatu yang digambarkan Charles Bukowski sebagai sesuatu yang datang tanpa diminta, keluar dari hatimu dan dari pikiranmu dan dari mulutmu dan dari muntahmu... ia melesat dari jiwamu seperti sebuah roket! (...that comes unasked out of your heart and your mind and your mouth and your gut... it comes out of your soul like a rocket!)

Saya mungkin bukan penulis terbaik di Indonesia, tapi saya masih 26 tahun. Itu motto saya dalam menulis. I am not the best writer in Indonesia, but I am still 26 years old. Silakan tafsirkan sendiri maksudnya. :)

Terima kasih untuk semuanya. Benar-benar semuanya.



so you want to be a writer?
—Charles Bukowski

if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.
unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.
if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,
don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,
don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.
if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.
if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.
if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.

if you have to wait for it to roar out of
you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.

if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.

don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,
don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with self-
love.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.
unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.
unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.

when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in you.

there is no other way.

and there never was.

FAHD DJIBRAN | Tangerang Selatan, 19/06/2013

*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Sebelum Gelap



Aku membayangkan situasi yang mungkin akan menghapus senyum dari wajahmu, aku membayangkan tangis anak kita yang menjerit pilu di dadamu: Laki-laki macam apa aku jika saat itu benar-benar tiba dalam hidup kita?



Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
Anytime you whisper my name, you'll see

Where every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most

What are words
If you really don't mean them
When you say them

What are words
If they're only for good times
Then they're done

When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone

And I know an angel was sent just for me
And I know I'm meant to be where I am
And I'm gonna be

Standing right beside her tonight
And I'm gonna be by your side
I would never leave when she needs me most

What are words
If you really don't mean them
When you say them

What are words
If they're only for good times
Then they're done

When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone

Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
And I'm gonna be here forever more

Every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most

I'm forever keeping my angel close


FAHD DJIBRAN | 27/05/2013

*Lagu: Chris Medina - What Are Word (2011)
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Terjatuh



Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh. 

***

Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.




FAHD DJIBRAN | 22/05/13

PS. Cerita ini terisnpirasi dari komposisi musik teman saya, Kate Grealy, penyanyi asal Australia, berjudul Nothing’s As it Appears. Saat ini Kate sedang sakit di Jogja. Semoga lekas sembuh, Kate.

Lagu: Kate Grealy – Nothing’s As it Appears
Gambar diambil dari sini.


Continue Reading...

Cerita yang Dituliskan Apa Adanya

: Rizqa



Ah, many of my smiles begin with you…

Many of my stories are about you…




FAHD DJIBRAN | Pamulang, 16 Mei 2013

Lagu: Owl City & Yuna - Shine Your Way
Continue Reading...

Foto

“Ini foto kapan, ya? Kita lagi di mana?” Aku setengah berteriak.

Kamu mengintip dari dalam kamar, masih terus mencari kacamataku. “Itu waktu kita lagi di Batam!” Kamu setengah berteriak.

Aku tersenyum. Aku sudah tahu sebenarnya. Aku masih mengingat semuanya. Tapi aku senang menanyakannya padamu, lagi dan lagi: Aku senang mengetahui bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. 




kuberikan padamu
setangkai kembang pete
tanda cinta abadi namun kere
buang jauh-jauh impian mulukmu
sebab kita tak boleh bikin uang palsu

kalau diantara kita jatuh sakit
lebih baik tak usah ke dokter
sebab ongkos dokter di sini
terkait di awan tinggi

cinta kita cinta jalanan
yang tegak mabuk dipersimpangan
cinta kita jalanan
yang sombong menghadang keadaan

semoga hidup kita bahagia
semoga hidup kita sejahtera
semoga hidup kita bahagia
semoga hidup kita sejahtera

kuberikan padamu
sebuah batu akik
tanda sayang bathin yang tercekik
rawat baik-baik walau kita terjepit
dari kesempatan yang semakin sempit


FAHD DJIBRAN | 2 April 2013

*Lagu: Iwan Fals - Kembang Pete


Continue Reading...

[Revolvere Project] APRIL


April, tak ada manusia yang benar-benar sanggup menghapus ingatan tentang cinta pertamanya. Sekuat apapun mereka berusaha melupakannya, ia akan selalu ada—bersemayam di taman bunga kenangan.

April,
cinta pertamaku,
menggasing di lesung pipitmu
sepasang remaja berkejaran
di taman bunga kenangan
lihat!” telunjukku menunjuk ke kejauhan
kupu-kupu bersayap biru
terbang rendah di bibir cahaya

aku akan mengejarnya,” katamu
punggungmu yang berguncang
meninggalkan dadaku yang mendadak rindu
kemudian di mataku segala tentangmu
perlahan menjadi bait-bait puisi:
rambutmu jadi keemasan
disaput cahaya pagi pukul sembilan
langkah-langkah kecilmu yang cepat
mendesir gamang di jalan-jalan darahku yang melambat

aku akan mengejarmu, kataku dalam hati, aku akan mengejarmu
lalu kau menolehkan wajahmu ke arahku, tertawa tanpa suara
ayo!” katamu, sambil kau terus mengejar kupu-kupu
dan aku terus mengejar punggungmu
sepasang remaja, berlarian di bibir cahaya

April,
cinta pertamaku,
tersesat di lugu matamu
di mana kupu-kupu itu?” katamu
kemudian aku jadi ragu,
benarkah aku pernah melihat kupu-kupu itu?

seberapa jauh kita berlari?” tanyamu
ah, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu,
entahlah, April, jawabku dalam hati,
tetapi sejauh apapun kau ingin berlari
aku akan selalu mengejar punggungmu dengan rindu

kamu tersenyum, aku tersenyum
sepasang remaja, menghela napas di bibir cahaya

April, dari manakah sesungguhnya
manusia belajar jatuh cinta?
semuanya masih rahasia
seperti sejarah manusia, seperti masa depan kita
tapi, April, aku tak ingin mencintaimu dengan alasan yang rumit
biarlah ia sederhana dan apa adanya
seperti sepasang remaja yang mengejar kupu-kupu bersayap biru
di taman bunga kenangan

ayo kita pulang!” katamu
aku masih ingin bermain,” kataku

April, kepadamu, sesederhana itulah
aku jatuh cinta
dan terus jatuh cinta

Kini, April, bertahun-tahun kemudian, kita telah tumbuh menjadi dua orang dewasa yang berusaha mencintai kehidupannya sendiri-sendiri. Dan ternyata, tak ada kisah cinta kita di bibir cahaya—



coba tanya hatimu sekali lagi
sebelum engkau benar-benar pergi
masihkah ada aku di dalamnya
karena hatiku masih menyimpanmu

kisah kita memang baru sebentar
namun kesan terukir sangat indah
ku memang bukan manusia sempurna
tapi tak pernah berhenti mencoba

membuatmu tersenyum
walau tak pernah berbalas
bahagiamu, juga bahagiaku

saat kau terlalu rapuh
pundak siapa yang tersandar
tangan siapa yang tak melepas
kuyakin aku...

bahkan saat kau memilih
untuk meninggalkan aku
tak pernah lelah menanti
karena ku yakin kau akan kembali

ada engkau dalam setiap doaku
sungguh aku rindu berbagi tawa
kini kita tidak lagi menyapa
biarlah hanya dari kejauhan

melihatmu tersenyum
walau tak pernah berbalas
bahagiamu, juga bahagiaku

April, barangkali kita memang tak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih, barangkali kita memang tak berjodoh... tetapi melihatmu menjadi kekasih orang lain, telah membunuh kupu-kupu bersayap biruku. Meski aku bahagia melihatmu bahagia, April, tak ada manusia yang sanggup menghapus ingatan tentang cinta pertamanya. Dan sekuat apapun aku berusaha melupakanmu, sepasang remaja selalu berkejaran di bibir cahaya—di taman bunga kenangan.

April, jika segala tentangmu memang harus dilupakan, aku ingin melakukannya pelan-pelan. Seperti seorang lelaki yang melepas prempuan yang dicintainya di stasiun kereta, dengan lambaian dan deru lokomotif yang berjalan perlahan. Maka jika mataku menjadi berkaca-kaca memandang rambutmu yang murung, hingga mengaburkan cara pandangku tentang kenyataan, aku bersedia memejamkannya: Untuk kubasuh pipiku seperti puisi-hujan membasahi tanah-pagi.

Demikianlah aku selalu mencintaimu, April... Jauh, sejauh kepergianmu. Bagai doa yang kupanjatkan setiap hari agar takdir menghancurkan lantai waktu dan Tuhan tak memberiku kesempatan untuk pernah mencintaimu.

saat kau terlalu rapuh
pundak siapa yang tersandar
tangan siapa yang tak melepas
kuyakin aku...

bahkan saat kau memilih
untuk meninggalkan aku
tak pernah lelah menanti
meskipun engkau tak akan kembali


REVOLVERE PROJECT |  @fahdisme @fiersa @futihfatih

*Tulisan, lagu, dan foto ini adalah hasil latihan bersama sebelum launching Revolvere Project keempat.   


Kredit
Fiksi: Fahd Djibran - Memoritmo [2013], Untitled [2012]
Musik: Fiersa Besari – April [2013]
Foto: Futih Aljihadi – Solitude [2012]



Revolvere Project merupakan sebuah project hibrida fiksi-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. Project ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus. Dibentuk pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Aljihadi (videografer). Untuk berinteraksi, silakan kunjungi page Facebook kami atau kirim e-mail ke revolvereproject@yahoo.co.id
Continue Reading...

Bersalah


Apa yang mustahil tak dimiliki semua manusia? Barangkali rasa bersalah.
Continue Reading...

Komitmen

—Balasan Rizqa untuk posting saya, The Proposal. Proses penyuntingan tulisan ini dilakukan berdua.



Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi.






12 Februari 2013 | Rizqa Abidin – Fahd Djibran

*Gambar diambil dari sini.
*Lagu: Just Give Me a Reason – P!nk ft. Nate Ruess
Continue Reading...

Maharencana




Terakhir, saya senang menuliskan pikiran, perasaan, dan pengalaman saya di blog ini. Termasuk lima bait kalimat yang saya ceritakan di atas tadi. Itu modus saya untuk berdoa. Sebab ketika kalian membaca tulisan-tulisan yang sebenarnya adalah doa-doa saya, kalian turut mengaminkannya. Terima kasih untuk semua itu… Dan tetaplah menjadi teman yang keren!


—Keep calm and God will answer your prayers

FAHD DJIBRAN

*Lagu: Jason Mraz - I Won't Give Up
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Hidup ‘Kan Baik-baik Saja

Belum usai rasa syukur saya karena ratusan doa berdatangan—bahkan dari mereka yang belum saya kenal—setelah posting saya berjudul TIGA, saya merasa ulang tahun pernikahan saya dan Rizqa tahun ini benar-benar berbeda sekaligus istimewa: Tuhan mengirim begitu banyak cinta, kebahagiaan dan keberkahan!

Pagi ini saya dan Rizqa mendapat kado istimewa dari sahabat kami, Fiersa Besari. Pagi-pagi sekali ketika saya buka dinding Facebook saya, Fiersa menulis: “Untuk Bung Fahd Djibran dan istri tercinta, smoga suka ;)” diiringi sebuah tautan ke kanal Soundcloud miliknya. Saya segera membukanya, mendengarkannya, dan: Oh Tuhan, ini lagu indah yang sederhana tetapi luar biasa!

Terima kasih Bung Fiersa, kamu selalu mengagumkan! Saya sampai tak tahu lagi harus berkata apa. Dan pagi-pagi sekali, kamu telah berhasil membuat mata Rizqa berkaca-kaca mendengarkan lagumu! Seperti rencanamu, kami berdua tersenyum sepanjang mendengarkannya, dengan rasa hangat memenuhi dada.

Tentang lagu Fiersa yang indah itu, saya ingin kalian turut mendengarkannya. Judulnya Hidup ‘Kan Baik-baik Saja.



Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga

Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua

Gara-gara Fiersa, tiba-tiba saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu. Judulnya Pengakuan, silakan baca sambil mendengarkan lagu Fiersa (lagi) :)

Pengakuan
: Untuk Rizqa

Demikianlah, Sayangku, sejak jatuh ke dalam lubang-hitam cinta dalam matamu, sejak itu pula aku mengubah semua rencana dan cita-citaku—

Aku hampir tak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan, tentang apakah ia cukup bergengsi atau bisa menghasilkan banyak uang: Aku tak lagi membayangkan kesuksesan melulu tentang hal-hal yang demikian besar sekaligus mewah.

Barangkali aku ingin jadi musisi: Aku ingin menciptakan lagu-lagu yang tak akan pernah habis kau nyanyikan sepanjang hidupmu. Aku akan bahagia mendengarnya, Sayangku: Suara kecilmu menyanyikan lagu-laguku di dapur, di kamar, di ruang makan, di halaman belakang—sementara aku yang belum mandi memetik gitarku sambil tersenyum memandangmu menjemur pakaian, menyeduh kopi atau membersihkan lemari.

Demikianlah, Sayangku, sejak aku jatuh cinta pada caramu berjalan, atau caramu mengantuk, atau caramu menggigit bibir bagian bawahmu, juga rambut-rambut halus yang tak begitu rapi di belakang lehermu, sejak itu pula aku selalu ingin punya mesin perekam dalam retina mataku—

Aku ingin menyimpan semua gambar tentangmu: Saat di rumah, saat liburan dan jalan-jalan, atau saat anak pertama kita menikah dan anak kedua kita diwisuda. Aku akan memasang lagu-lagu favorit kita menjadi suara latar video-video kita. Dan untuk bagian-bagian yang tak ingin aku lupakan sepanjang hidupku: Aku ingin membuatnya dalam gerak lambat. Aku akan selalu berbahagia merekamnya, Sayangku: Terutama saat aku merekam videomu dari belakang, mengabadikan langkah-langkah kakimu yang jenjang memapah langkah-langkah kecil anak pertama kita yang sedang belajar berjalan.

Dan sejak aku jatuh cinta pada bagaimana caramu membaca, Sayangku, sejak itu pula aku belajar menulis—

Demikianlah aku mencintaimu dengan caraku yang sederhana: Sehingga ketika kau tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika akupun menjadi penulis paling berbahagia di dunia.

Ah, gara-gara semua ini, saya jadi ingin mengumpulkan catatan-catatan saya tentang perasaan agar bisa diarsipkan, syukur-syukur dibukukan. Kelak kalau sudah tua, atau kapanpun saat hubungan kami perlu diperbaiki, saya ingin membacanya bersama-sama Rizqa.


Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Salam baik,
Fahd & Rizqa

Baca juga: TIGA (Sebuah Catatan Sederhana).
Continue Reading...

Tiga

: Rizqa Abidin

Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang, tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku...





Fahd Djibran
25 Desember 2012
 
Continue Reading...

12.12.12

Tidak.

Tidak semua dari kita tersesat. Dan engkau tidak sendirian. Aku bersyukur bisa menemukanmu di sini, di jalan ini, meski gelap dan sunyi: Tapi perjumpaan kita, aku dan kamu, telah membuktikan bahwa kita tidak benar-benar terasing, bukan? Masih ada aku di sini, genggamlah tanganku, semoga membuatmu tenang. Dan kau, perjumpaan denganmu telah membuatku yakin, untuk kesekian kalinya, bahwa aku sedang menempuh jalan yang benar menuju Kebahagiaan. Aku senang bisa mengatakan semua ini kepadamu. Jangan takut lagi: Ada aku di sini.



FAHD DJIBRAN, 12-12-12
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Untitled

Di sini aku. Ya, masih di sini. Pagi sehabis hujan, matahari yang masih enggan dan mozaik-mozaik kenangan.

Jika segala tentangmu memang harus dilupakan, aku ingin melakukannya pelan-pelan. Seperti seorang lelaki yang melepas kekasihnya di stasiun kereta, dengan lambaian dan deru lokomotif yang berjalan perlahan. Maka jika mataku menjadi berkaca-kaca memandang rambutmu yang murung, hingga mengaburkan cara pandangku tentang kenyataan, aku bersedia memejamkannya: Untuk kubasuh pipiku seperti puisi-hujan membasahi tanah-pagi.

Demikianlah aku selalu mencintaimu, jauh, sejauh kepergianmu. Bagai doa yang kupanjatkan setiap hari agar takdir menghancurkan lantai waktu dan Tuhan tak memberiku kesempatan untuk pernah mencintaimu.



FAHD DJIBRAN
[Fiksi pagi. Mungkin akan ada di novel saya nanti]

*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Cerita Pagi



: Rizqa

aku mencintai pagi yang sederhana:
kran kamar mandi terbuka, decit engsel pintu, senyummu
selamat pagi, sayang,” katamu
dan mimpiku semalam
tentang bunga-bunga yang bermekaran
menjadi lebih indah dalam kenyataan

setiap hari aku jatuh cinta pada pertanyaanmu:
teh atau kopi, mimpi apa tadi malam
juga pada rasa sayangmu—yang melampau ruang dan waktu
shalat dulu,” katamu, “hampir setengah enam.

di sanalah cinta menetas setiap pagi, sayangku:
menghadirkan kicauan burung
pada suara AC yang dimatikan
pada jendela kamar kita yang dibuka
pada matamu yang lebih bercahaya
dari semua puisi yang pernah kubaca

assalâmualaikum warahmatullâhi wabarakâtuh
selepas dua salamku, aku mendoakanmu
dengan sungguh-sungguh
semoga Tuhan selalu mengizinkanmu
bangun lebih dulu, setiap hari
menjadi satu tangga menuju surga

selamat pagi, sayang
aku mencintai pagi ini yang sederhana
tanpa koran, TV atau radio
cukup wajahmu, gerakmu, lembut suaramu
maka hariku akan sempurna



FAHD DJIBRAN | 17/10/2012

*Lagu: Bruno Mars - Just The Way You Are (Boyce Avenue acoustic cover)
*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Darul Arqam


Darul Arqam, terima kasih dan maaf, untuk hal-hal yang terkatakan dan takterkatakan. Kini, di sini aku, masih seperti dulu, kepala batu yang selalu meleleh di hadapan semua kenangan tentangmu.


The sea said goodbye to the shore so the sun wouldn't notice
The seaweed wrapped its arms around you

The carpet on my cheek feels like a forest
And I run through the tall trees with your hand chasing me

The books that I keep by my bag are full of your stories
That I drew up from a little dream of mine, a little nightmare of yours

To beat us to take this plunge to forgive and forget
And be a better man, to be a better man, to be a better man

So love me mother, and love me father, and love my sister as well

The cat's silhouette as big as a monster in this concrete jungle,
The streetlights hang in their hats

So make all your last demands for I will forsake you
And I'll meet your eyes for the very first time, for the very last

So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well
So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well

I met a man today and he smiled back at me
Now there are thoughts like these that keep me on my feet, that keep me on my feet.

FAHD DJIBRAN
| 18/07/2012

PS. Tiba-tiba saya ingin menulis tentang Darul Arqam. Sebuah Pesantren Muhammadiyah di Garut, tempat saya belajar sejak kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga kelas 3 Madrasah Aliyah (SMA). 6 tahun saya di sana. 6 tahun yang selalu sulit untuk diceritakan dan dituliskan, berangkali sebab terlalu banyak yang saya dapatkan di sana. Darul Arqam adalah tempat saya tumbuh, bermain dan belajar. Dari semua yang saya mengerti sekarang, kebanyakan fondasinya di bangun di sana. Di sana juga saya pertama kali belajar menulis, di buku catatan yang saya sembunyikan di bawah ranjang. Buku pertama, kedua, dan ketiga saya, Kucing, Being Superstar dan Revolusi Sekolah (dua yang terakhir diterbitkan Mizan dan mendapatkan penghargaan DAR!Mizan Unlimited Creativity Awards sebagai Penulis Pendatang Baru Terbaik dan Penulis Terbaik tahun 2005 dan 2006) ditulis di buku catatan dengan menggunakan tulisan tangan. Di sana saya belajar banyak, termasuk kepatuhan dan ketidakpatuhan: Segala hal yang selalu saya percayai telah secara permanen dan sistemais membentuk diri saya saat ini.

Lagu: Of Monsters and Men – Sloom | Gambar: Foto Darul Arqam dari atas, karya Oki Lutfi.
Continue Reading...

Selamat Ulang Tahun @rizqaabidin


Rizqa adalah alasan paling penting bagi lahirnya sebagian besar karya-karya saya. Saya yang seorang penulis, berhutang banyak hal kepadanya: Inspirasi, semangat, motivasi, juga hal-hal lain yang belum dan tak bernama. Apalagi bagi saya sebagai seorang teman, kekasih, suami: Rizqa bukan hanya memberikan banyak hal kepada saya—dialah yang memberi warna bagi hari-hari saya, kehidupan saya. Barangkali saya berlebihan, tetapi semua ini tersebab apa yang sudah Rizqa berikan pada saya memang berlebihan. Saya merasa layak dan bahagia untuk memberikan semua apresiasi tertinggi dan rasa terima kasih saya kepadanya.

Jika diperhatikan sejak buku pertama saya (Kucing, 2004), selalu ada Rizqa dalam kisah-kisah yang saya ceritakan—hal-hal yang kita alami bersama atau mengenai perasaan saya kepadanya. Untuk menyebutkan beberapa saja, ada dia dalam “Tubuh”, “Everybody’s Happy in His Own Way”, “Cinta, Masa Lalu dan Sepotong Kue Bolu” (A Cat in My Eyes, 2008), “Pergi”, “Lelaki Kecil dan Gugusan Hujan”, “Memoria”, “Desember”, “Marva”, “Bila Sampai Waktuku” (Curhat Setan, 2009), dan hampir pada seluruh bab “Cinta” dalam buku Yang Galau Yang Meracau (2011). Buku yang keseluruhannya tentang Rizqa tentu saja Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan (kelak akan diterbitkan ulang) yang saya dedikasikan secara khusus untuk menemaninya menjalani masa-masa kehamilan putra pertama kami, Falsafa Kalky Pahdepie.

Dalam tulisan-tulisan saya paling belakangan, yang selalu saya posting di blog ini, kisah-kisah mengenai Rizqa dan perasaan saya kepadanya tak pernah berhenti menjadi energi kreatif dalam proses saya berkarya. Kalian bisa membacanya lagi, dan mungkin (turut) merasakannya, seperti misalnya pada Sekarang, Pengakuan, Surga, Kebebasan, dan lainnya.

Kini, Rizqa berulang tahun keduapuluh lima (9/6/2012). Di hari ulang tahunnya, tentu saja saya bukan suami gombal kekurangan modal yang hanya memberinya kado ulang tahun berupa ucapan selamat atau sekadar tulisan. :-) Tetapi saya ingin mendedikasikan posting ini untuk menjadi sebagaian kecil perayaan ulang tahunnya: Selamat ulang tahun, Sayang. Terima kasih telah menjadi dirimu apa adanya. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam lebih dari 20 tahun hidupku: Aku telah terjatuh ke dalam cintamu sejak pertama kali kita bertemu. 

Terakhir, kata-kata sederhana ini selalu ada untuknya. Dan hanya untuknya…


Namamu
Untuk Rizqa


telah kusebut namamu, dalam
doa selepas sembahyang
malam, kau tak perlu tahu
apa yang kuucapkan
semuanya sudah kulupakan
sebab yang kita ingat-ingat
akan kita harap-harapkan
sementara aku tak ingin
doaku cuma jadi harapan—

ia harus ikut bangun pagi
saat aku bangun pagi
ia harus berkeringat
saat aku bekerja
hingga menetes
menjadi sujud yang lain
membangunkan bumi yang tua dan penidur
untuk menumbuhkan
pohon-pohon mengingat namamu
meneduhkan terikmu
melindungi malammu

tak jauh dari sana
akan kubangun sebuah rumah
dengan tanganku sendiri
dan kau boleh memilih warnanya
apapun yang membahagiakanmu
sementara aku mulai mencicil
lemari, TV, kulkas, mesin jahit,
halaman belakang tempat anak-anak kita
bermain atau berlarian sambil tertawa,
juga sebuah sofa, tampat kita
duduk berdua menyaksikan semuanya
menjelma cerita indah yang akan kita rekam, dalam
foto-foto yang akan kita abadikan di album
kenangan yang tak akan terlupakan

dan apabila aku terlalu tua
untuk tetap bersamamu
juga anak-anak kita,
doaku tak akan pernah menjadi tua
sebab ia tak pernah kuingat
untuk tak membuatnya
terperangkap dalam waktu
seperti aku
: kapanpun akan bersamamu

barangkali memang hanya namamu
hanya namamu,
yang kusebut, dalam
doaku yang sederhana
sangat sederhana


Denpasar, Oktober 2011


FAHD DJIBRAN | 9/06/2012

PS: Terima kasih buat kalian semua yang sudah menjadi bagian penting dalam “perayaan kecil ini”. Semoga kita semua hidup dalam cinta yang membuat kita berbahagia.

Continue Reading...

Kuning


Ini sebuah kisah sederhana yang barangkali sudah kita ketahui atau belum kita ketahui—tentang kesungguhan mencintai.


Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things you do,
Yeah, they were all yellow.

I came along,
I wrote a song for you,
And everything you do,
And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done,
And it was all "Yellow."
Chris Martin, vokalis grup musik kenamaan asal Inggris, Coldplay, menuliskan lirik lagu berjudul Yellow (2000) ini untuk Ibunya. Saat itu Sang Ibu sedang menderita kanker dan, karena satu dan lain hal, kulitnya mulai menguning. Mendapati kenyataan itu, Chris yang begitu mencintai ibunya ingin menuliskan sebuah lagu tentang segala sesuatu yang indah di dunia ini—dan berwarna kuning. Ia ingin memberi tahu kepada seluruh dunia bahwa baginya segala hal yang kuning itu indah: Seperti Ibunya.
Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
You know, you know I love you so,
You know I love you so.

I swam across,
I jumped across for you,
Oh what a thing to do.
Cos you were all "Yellow",

I drew a line,
I drew a line for you,
Oh what a thing to do,
And it was all "Yellow."

Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
And you know,
For you I'd bleed myself dry,
For you I'd bleed myself dry.
Setiap kali mendengarkan lagu ini, sejak 12 tahun lalu, selalu ada perasaan hangat dalam hati: Seberapa tuluskah sebenarnya saya sanggup mencintai? Kemudian saya membayangkan dunia yang mendadak tidak ideal bagi kehidupan saya, saat semua hal yang tidak saya inginkan dan saya takutkan mendekat: Bisakah saya tetap membuatnya menjadi indah?

Setiap kali saya ragu, saya kembali mendengarkan lagu ini—
It's true,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine for,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine.
Demikianlah, tidak pernah ada yang benar-benar buruk bagi kita: Selalu ada sisi-sisi yang sebenarnya bercahaya. Hanya tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian saya berpikir lagi, dan lagi, dan lagi: Rasanya sudah selesai saatnya bagi kita untuk murung dan bersedih. Bila kenyataannya dunia memang tak selalu indah, maka kitalah yang harus membuatnya menjadi indah—untuk kemudian memberi tahu semua orang bahwa segalanya bisa menjadi demikian indah jika kita bisa memahaminya.  
Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things that you do.


Fahd Djibran | 1/5/2012

Lagu: Coldplay ~ Yellow (Video: Live in Sydney, 2003)
Continue Reading...