Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali: Hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda semua peristiwa, seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.
Penyesalan
Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali: Hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda semua peristiwa, seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.
Malam Penentuan
: Laylat al-Qadr
bagaimana harus kuhitung malammu, layla
bila seribu bulan selalu gagal
menggenapkan wajahmu
aku membuka halaman-halaman
kudus, mengeja ayat-ayat memanggil namamu
atau memejamkan mata atau menangkap suara-suara
hening menggumamkan nama-nama
Tuhan dalam hitungan-hitungan zikir
yang rahasia, layla
suatu hari di sepuluh penghabisan
aku bertanya-tanya
engkaukah sebenarnya Wajah itu, layla
mungkinkah Ramadhan hanya sumbu waktu
untuk meledakkan cahayaMu
di dada-imanku yang penipu
mungkinkah aku diciptakan
untuk menjadi punguk buruk rupa
yang merindukan cerlang bulan
seperti dada pendosa mendambakan
lembut Wajah Tuhan
maka datanglah, layla, datanglah
ke dalam diriku
dalam terang atau sembunyi-sembunyi
hajarlah seluruh jiwaku
dengan cahaya seribu bulanmu
layla, barangkali tak ada yang lebih kurindkan
selain perjumpaan ulat-diri dengan Engkau
Tuhan yang akan membisikkan kalimat
mengubah aku menjadi kupu-kupu taqwa
di penghujung Ramadhan yang rahasia
demi waktu dan semua tentangmu, layla
izinkan aku menangis di dadaMu
tanpa suara, dekaplah aku
sedetik saja
: maka hidupku akan sempurna
Fahd Djibran
10 Penghabisan, Ramadhan 1434
Dekade
Hari ini, 19 Juni 2013, menandai satu dekade perjalanan saya sebagai seorang penulis. Sepuluh tahun yang lalu, 19 Juni 2003, waktu itu masih kelas 2 SMA, saya menerbitkan buku pertama saya berjudul Kucing. Tidak mirip sebuah buku, sebenarnya. Sebab pada waktu itu, nyatanya Kucing terlalu absurd untuk disebut sebagai buku yang utuh. Ia hanya berisi kumpulan puisi, cerpen, sketsa, prosa, SMS, dan apa saja yang bisa saya tuliskan tanpa tahu bentuknya—jenisnya. Belum ada buku semacam itu sebelumnya, dan belum ada penerbit gila yang berani menerbitkan buku yang lebih mirip “tong sampah” pikiran dan perasaan.
Untunglah saya bertemu Irfan AmaLee, waktu itu editor Penerbit Mizan. Kakak kelas saya sewaktu mondok di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Setelah nekat menerima tantangannya untuk menerbitkan buku dan diberi waktu satu bulan, saya menyerahkan Kucing yang di-print menghabiskan uang saku saya untuk setengah bulan. Dengan tangan gemetar, saya menyerahkan naskah itu sambil berharap mendapat pujian, tentu saja, meski tidak yakin. Saya tidak berpikir buku itu akan laku atau tidak? Untuk siapa buku itu dituliskan? Apa segmentasi pembacanya? Bagaimana strategi pemasarannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sama sekali tak terlintas dalam benak saya waktu itu. Pokoknya saya menulis dan mudah-mudahan punya kesempatan untuk diterbitkan; Entah bagaimana lagi setelahnya.
Sepuluh hari sejak kejadian itu, status saya sudah berubah menjadi penulis. Amatir, tentu saja. Irfan AmaLee membantu menerbitkan Kucing secara indie di bawah penerbit yang saya tahu sebenarnya “pura-pura”, namanya MagnumOpusProject. Tapi saya tidak mau menjadi penulis yang pura-pura. meskipun buku saya hanya dicetak 10 eksamplar pada cetakan pertama, saya berusaha untuk menjadi penulis sungguhan. Paling tidak, waktu itu, saya berusaha “berakting” menjadi penulis sungguhan. Demi buku pertama itu: Saya buat posternya, saya buat blognya, saya sablon kaus bergambar cover buku saya, saya ceritakan pada sebanyak mungkin orang...
Waktu terus berjalan dan tanpa terduga Kucing terus dicetak, disukai dan mendapatkan banyak pujian. Orang-orang mulai mengenal saya. Saya mulai punya acara “bedah buku” sendiri dan sesekali membubuhkan tandatangan pada buku yang saya tulis itu—untuk seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sebagian orang memasukkan saya dalam daftar penulis yang buku berikutnya akan mereka tunggu atau penulis yang menginspirasi mereka. Saya bangga luar biasa, tentu saja, tetapi sekaligus khawatir dan malu. Khawatir karena kalau saya berhenti menulis artinya saya akan segera dilupakan. Malu karena saya hanyalah penulis amatir yang sebenarnya ragu tentang apa yang dituliskannya sendiri.
Maka saya bertekad untuk terus belajar. Bagi saya, berkarya adalah belajar. Pada saat karya saya dipuji atau laku atau menginspirasi pembaca, itu bonus dari kerja-kerja menyenangkan yang saya lakukan. Pada saat karya saya dikritik atau dihina atau tidak laku, ya... tak usah sakit hati. Namanya juga belajar, kan?
Hari demi hari berlalu. Tanggal dan bulan-bulan berguguran dari kalender. Tanpa terasa, sejak buku pertama itu, kini telah genap 10 tahun saya menulis. Lebih tepatnya, 10 tahun saya belajar menulis. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, sekarang saya sudah memiliki lebih dari 15 buku yang tersebar di berbagai penerbit besar berskala nasional. Selain buku-buku, saya juga punya ratusan artikel, cerpen, puisi, prosa dan tentu saja ribuan tulisan gagal lainnya yang tersimpan di komputer atau catatan pribadi saya. Status sebagai penulis terus saya bawa sejak 10 tahun lalu dan kini telah memberikan saya banyak hal—yang tak pernah saya rancang sebelumnya: Rumah, kendaraan, karir, perjalanan-perjalanan, eksperimen-eksperimen, pertemuan-pertemuan, beasiswa, dan tentu saja... pembaca setia. Tak ternilai harganya!
10 tahun berlalu sudah banyak yang berubah dari gaya menulis saya, tentu saja. Tema, warna, dan posisi saya di hadapan teks juga telah berubah. Kadang-kadang saya tertawa membaca tulisan-tulisan lama saya, sambil bertanya-tanya mengapa saya begitu bodoh waktu menuliskannya? Di waktu yang lain, saya tercenung bahkan tercengang, mengapa dulu saya lebih cerdas, lebih lihai daripada sekarang? Tapi waktu, seperti teman, telah membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang—dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Inilah sepuluh tahun itu, baru saja berlalu. Bukan waktu yang panjang, tapi juga tidak pendek. Masih banyak yang harus saya kerjakan untuk terus belajar dan “berakting” menjadi penulis. Kini, saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang paling ingin saya tuliskan sejak 10 tahun lalu. Sebuah novel, barangkali. Mudah-mudahan bisa segera saya selesaikan dalam waktu dekat dan terbit tahun ini juga. Sesuatu yang saya janjikan layak untuk Anda tunggu; Mudah-mudahan tidak mengecewakan.
Akhirnya, saya menikmati semua ini. Benar-benar menikmatinya. Menulis buat saya bukan untuk menjual buku, bukan juga untuk pergi ke pesta—seperti kata Chairil Anwar. Bagi saya, menulis adalah panggilan jiwa. Semacam takdir lain saya sebagai manusia. Sesuatu yang digambarkan Charles Bukowski sebagai sesuatu yang datang tanpa diminta, keluar dari hatimu dan dari pikiranmu dan dari mulutmu dan dari muntahmu... ia melesat dari jiwamu seperti sebuah roket! (...that comes unasked out of your heart and your mind and your mouth and your gut... it comes out of your soul like a rocket!)
Saya mungkin bukan penulis terbaik di Indonesia, tapi saya masih 26 tahun. Itu motto saya dalam menulis. I am not the best writer in Indonesia, but I am still 26 years old. Silakan tafsirkan sendiri maksudnya. :)
Terima kasih untuk semuanya. Benar-benar semuanya.
so you want to be a writer?
—Charles Bukowski
if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.
unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.
if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,
don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,
don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.
if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.
if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.
if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.
if you have to wait for it to roar out of
you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.
if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.
don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,
don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with self-
love.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.
unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.
unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.
when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in you.
there is no other way.
and there never was.
FAHD DJIBRAN | Tangerang Selatan, 19/06/2013
*Gambar diambil dari sini.
Sebelum Gelap
Aku membayangkan situasi yang mungkin akan menghapus senyum dari wajahmu, aku membayangkan tangis anak kita yang menjerit pilu di dadamu: Laki-laki macam apa aku jika saat itu benar-benar tiba dalam hidup kita?
Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
Anytime you whisper my name, you'll see
Where every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most
What are words
If you really don't mean them
When you say them
What are words
If they're only for good times
Then they're done
When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone
And I know an angel was sent just for me
And I know I'm meant to be where I am
And I'm gonna be
Standing right beside her tonight
And I'm gonna be by your side
I would never leave when she needs me most
What are words
If you really don't mean them
When you say them
What are words
If they're only for good times
Then they're done
When it's love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we're gone
Anywhere you are, I am near
Anywhere you go, I'll be there
And I'm gonna be here forever more
Every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most
I'm forever keeping my angel close
FAHD DJIBRAN | 27/05/2013
*Lagu: Chris Medina - What Are Word (2011)
*Gambar diambil dari sini.
Terjatuh
Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh.
***
Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.
FAHD DJIBRAN | 22/05/13
PS. Cerita ini terisnpirasi dari komposisi musik teman saya, Kate Grealy, penyanyi asal Australia, berjudul Nothing’s As it Appears. Saat ini Kate sedang sakit di Jogja. Semoga lekas sembuh, Kate.
Lagu: Kate Grealy – Nothing’s As it Appears
Gambar diambil dari sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)







