Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label nongkrong. Show all posts
Showing posts with label nongkrong. Show all posts

Penyesalan


Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali: Hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda semua peristiwa, seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.

Continue Reading...

Launching #NovelTakSempurna



UNDANGAN TERBUKA

Dear All,
Dear Rezpector Se-Indonesia,

Setelah melahirkan dan membesarkan buku HBDM, Hidup Berawal Dari Mimpi, sekitar dua tahun lalu, kami mengerti bahwa kerja belum selesai. Sama sekali belum. Masih banyak yang harus dilakukan dalam kerja besar memberi inspirasi bagi generasi muda bangsa ini. Tapi kami senang sudah memulainya.

Kami senang buku itu diterima dengan baik dan tanpa diduga mampu menginspirasi—bahkan mengubah hidup—banyak pembacanya. Ada banyak cerita para pembaca HBDM yang membuat kami terharu. Salah satunya seorang anak yang memutuskan untuk “berdamai” dengan kedua orangtuanya setelah bertahun-tahun “tak akur”. Kami tak menyangka bahwa dia, setelah membaca HBDM, memutuskan untuk berbicara kepada kedua orangtuanya, meminta maaf, berpelukan, menangis bersama, dan meruntuhkan segala benteng kesalahpahaman yang bertahun-tahun terus dibangun dan dipertahankan dengan ego masing-masing. Juga banyak cerita hebat lainnya yang membuat kami yakin bahwa kami harus meneruskan sesuatu yang sudah kami mulai…

Maka awal tahun 2013, dengan penuh kebanggaan kami persembahkan sebuah karya kolaborasi kedua: TAK SEMPURNA. Sebuah novel yang bercerita ihwal gelap-terang dunia pendidikan kita. Seperti terhadap HBDM, kami memperlakukan novel Tak Sempurna bukan sekadar sebuah buku--yang dijual untuk kelak dibaca dan dilupakan. Ia adalah kami, gagasan dan perasaan kami, yang menyamar dalam bentuk sebundel kertas dan menyelinap ke ruang-ruang baca banyak orang untuk menanamkan prinsip-prinsip yang kami yakini: kebaikan, perubahan, inspirasi, dan pencerahan.

Kini, kami mengundang siapapun kalian, termasuk Rezpector di seluruh Indonesia, untuk bersama-sama hadir dan memberi restu atas kelahiran karya kolaborasi kami yang kedua. Kami mengundang Anda semua untuk hadir dalam acara peluncuran novel Tak Sempurna yang akan diselenggarakan pada:

Waktu: 22 Maret 2013
Tempat: Function Room Gramedia Matraman Jakarta
Jam: 19.00 WIB s/d selesai

Tentu kami akan senang jika kita bisa bertemu dalam acara itu. Jika pertemuan kita kelak merupakan doa dan dukungan yang dirayakan, kita akan merayakannya dengan penuh sukacita. Sampai bertemu. Segera!


Salam baik,

FAHD DJIBRAN, BONDAN PRAKOSO & FADE2BLACK



Continue Reading...

[INFO] KEEP CALM AND STOP VIOLENCE

[INFO] Saat ini, bersama-sama ICIP, saya sedang keliling 10 kota dan 10 kampus untuk mengampanyekan gerakan mahasiswa tolak kekerasan—untuk Indonesia yang lebih baik. Dalam acara itu kita banyak sharing dan diskusi seputar isu kekerasan di Indonesia. Di setiap kota dipilih 35 mahasiswa terbaik untuk mengikuti workshop dan mereka ditantang untuk membuat proposal kampanye/program “tolak kekerasan”. Proposal terbaik akan diberi dana hibah Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk mengimplementasikan gagasannya. Selama dua hari workshop, peserta juga diberikan fasilitas lain seperti uang transport, sertifikat, t-shirt, workshop-kit, voucher belanja buku, dan lainnya.

Sejak September 2012 kami sudah ke Jakarta (Univ Paramadina), Bandung (UNPAR), Bogor (IPB), Depok (UI), Garut (UNIGA), dan Cirebon (IAIN Cirebon) untuk berkarya bersama mahasiswa-mahasiswa terpilih. Kini, tinggal 4 kota lagi tersisa: Semarang, Solo, Yogya, dan Surabaya.

Kalau kamu mahasiswa aktif dan tertarik untuk ikutan program ini, silakan kirim e-mail ke: kotak.icip@yahoo.com (CP: Nana) dan tunggu follow up berikutnya dari kami. Tentu saja, mudah-mudahan kita bisa bertemu, berdiskusi, berteman, dan bersama-sama melakukan sesuatu yang positif bagi bangsa dan negara ini. Segera kirim e-mail, beritahu teman dan sahabat, dan catat jadwalnya:

(1) 10-11 November 2012: Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang
(2) 19-20 November 2012: Universitas Sebelas Maret, Surakarta
(3) 1-2 Desember 2012: Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(4) 8-9 Desember 2012: Universitas Airlangga, Surabaya

Sampai jumpa segera di tempat dan tanggal-tanggal itu. Segera! :)

Salam baik,
FAHD DJIBRAN

*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

[Acara] Bandung 04/08/12

Dear teman-teman yang di Bandung,

Mungkin ini jawabannya: Buat teman-teman Bandung yang selama ini nagih agar saya bikin acara di Bandung. 4 Agustus besok, saya diundang Mujahidin untuk bicara soal kewirausahaan kreatif. Karena saya senang menulis, saya akan bicara soal penulisan kreatif.

Apa yang berbeda dari tema-tema serupa yang juga dibicarakan banyak orang lain? Mungkin saya akan bicara soal CREATIVE WRITHINK, hal yang sudah saya geluti sejak lama. Karena panitia acara menginginkan temanya berkaitan dengan kewirausahaan, saya juga akan bicara soal menulis dan kaitannya dengan entreprenership itu. Tapi jangan bayangkan saya akan bicara: Menulislah maka kamu akan kaya atau menulislah agar kamu kaya. Saya tetap pada pendirian saya: Let the money follow your creativity. Ah, ya, saya tidak mau kita merendahkan kemuliaan kita dengan mengejar-ngejar makhluk bernama uang. 

CREATIVE WRITHINK: Let The Money Follow Your Creativity
Sabtu, 4 Agustus 2012 Pukul 09.00-12.30 WIB
Auditorium Masjid Raya Mujahidin
Jl. Sancang No. 6, Bandung
Phone/Fax. (022) 7316865
Contact Person: Sani (081320142618)
Acara Terbuka Untuk Umum


Saya berharap kita bisa bertemu di acara itu. Sampai jumpa di dunia nyata. :)

Salam baik,

Fahd Djibran
Continue Reading...

Sampai Jumpa di Dunia Nyata!


Ini mungkin semacam "jadwal pertemuan" dengan sejumlah orang di sejumlah tempat, yang bisa saya penuhi atau tak sampai untuk saya penuhi. Toh kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi besok. Tetapi setiap pertemuan akan selalu menghasilkan sesuatu, bisa baik bisa juga buruk, tetapi tetap akan bermakna.

Jika kita bisa bertemu di salah satu ruang-waktu di bawah ini, saya akan sangat berbahagia.

1. Sabtu, 3 Desember 2011
Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang
Pukul 10.00 s/d selesai
“Kata dan Kita”

2. Sabtu, 3 Desember 2011
Toko Buku Togamas, Supratman, Bandung
Pukul 16.00 s/d selesai
“Yang Galau Yang Meracau”

3. Sabtu, 3 Desember 2011
Pesta Buku Bandung (IKAPI)
Landmark, Braga, Bandung
Pukul 19.00 s/d selesai
“Creative Writhink”

4. Minggu, 4 Desember 2011
Kampus FISIP UNPAD, Jatinangor
Pukul 10.00 s/d selesai
“Yang Muda Yang Berkarya”

5. Kamis, 8 Desember 2011
Togamas Sidik Jari, Denpasar, Bali
Pukul 19.00 s/d selesei
“Fiksi Lintas Media”

6. Jumat, 16 Desember 2011
Gramedia Matraman, Jakarta
Pukul 19.00 s/d selesai
“Grand Launching HIDUP BERAWAL DARI MIMPI”

7. Sabtu, 24 Desember 2011
Warung Kopi, Cianjur
“Creative Writhink”

SAMPAI JUMPA DI DUNIA NYATA! :)
Continue Reading...

#YGYM dan 10 Besar API 2011

Hari ini saya dapat kabar bahwa buku saya "Yang Galau Yang Meracau" masuk 10 besar nominasi peraih Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2011 untuk dua kategori (buku non-fiksi terbaik dan sampul buku non-fiksi terbaik 2011).

Saya tidak berharap menang, sampai di sini saja sudah harus sangat bersyukur. Terima kasih atas dukungan dan apresiasinya selama ini, sahabat Ruang Tengah. Saya sudah sangat berbahagia karena karya saya dibaca, tambah bahagia karena kini buku tersebut best-seller dan dihargai orang, jika terpilih menang: semata-mata karena Tuhan melebihkan nikmatnya buat saya, hambanya yang bebal dan kurang ajar.

Bagi yang ingin memberi dukungan, silakan klik link ini. Saya tidak akan meminta apalagi memaksa. Kalau memang baik dan layak, pilihlah. Jika tidak, mudah-mudahan buku itu tetap bermanfaat.

Itu saja :-)
Continue Reading...

Namamu


Namamu
Untuk Rizqa


telah kusebut namamu, dalam
doa selepas sembahyang
malam, kau tak perlu tahu
apa yang kuucapkan
semuanya sudah kulupakan
sebab yang kita ingat-ingat
akan kita harap-harapkan
sementara aku tak ingin
doaku cuma jadi harapan—

ia harus ikut bangun pagi
saat aku bangun pagi
ia harus berkeringat
saat aku bekerja
hingga menetes
menjadi sujud yang lain
membangunkan bumi yang tua dan penidur
untuk menumbuhkan
pohon-pohon mengingat namamu
meneduhkan terikmu
melindungi malammu

tak jauh dari sana
akan kubangun sebuah rumah
dengan tanganku sendiri
dan kau boleh memilih warnanya
apapun yang membahagiakanmu
sementara aku mulai mencicil
lemari, TV, kulkas, mesin jahit,
halaman belakang tempat anak-anak kita
bermain atau berlarian sambil tertawa,
juga sebuah sofa, tampat kita
duduk berdua menyaksikan semuanya
menjelma cerita indah yang akan kita rekam, dalam
foto-foto yang akan kita abadikan di album
kenangan yang tak akan terlupakan

dan apabila aku terlalu tua
untuk tetap bersamamu
juga anak-anak kita,
doaku tak akan pernah menjadi tua
sebab ia tak pernah kuingat
untuk tak membuatnya
terperangkap dalam waktu
seperti aku
: kapanpun akan bersamamu

barangkali memang hanya namamu
hanya namamu,
yang kusebut, dalam
doaku yang sederhana
sangat sederhana


Denpasar, Oktober 2011

*Ilustrasi foto oleh Futih Aljihadi.
Continue Reading...

REVOLVERE PROJECT: LAGU SATU



Kau Yang Mengutuhkan Aku
—Revolvere Project

Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.

Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.

Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.

“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”

Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.

“Kamu mau menginap?” tanyamu.

Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?

“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”

Aku mengangguk. Kita sudah sampai.

Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.

Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

“Aku memilih yang kedua,” kataku.

“Aku juga,” katamu. Tersenyum.

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”

Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.

“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.

“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”
Nanyikan lagu kesukaan kita
Percepat laju roda
Ku tak peduli dengan mereka
Asal kau di sini

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

Tak bosan-bosan
aku ucapkan tiga kata itu
Aku tak pernah merasa lengkap
Sampai kau datang

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

…dan dunia seakan membenci kita
Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri
…dan aku melihat segalanya
Saat aku melihatmu
Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.

Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.

Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.

Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.
Bertahanlah,
sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku...


*Download video high-resolution-nya di sini.

Sekilas tentang Revolvere Project


Revolvere Project merupakan sebuah project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. Project ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus. Tema-tema yang diangkat project ini merupakan tema-tema sederhana di keseharian namun berusaha dilihat melalui sudut pandang yang berbeda; untuk meninjau ulang maknanya dan memperdalam perannya dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia biasa yang seharusnya luar biasa. :)

Dibentuk pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Aljihadi (seniman visual). Untuk berinteraksi, silakan kunjungi page Facebook kami atau kirim e-mail ke revolvereproject@yahoo.co.id

Kami di Revolvere Project akan sangat senang jika Anda tergerak untuk menghadiahkan video ini kepada orang-orang istimewa dalam hidup Anda. Jika berkenan, mohon disebarkan juga link-link karya ini kepada seluas mungkin audiens; teman, sahabat, saudara, kolega, orang-orang terkasih di sekeliling Anda. Kami juga akan sangat berterima kasih jika Anda me-review karya ini di blog, facebook, atau di manapun.
Continue Reading...

Wajah Sang Guru

Mengenang Syaikh Ahmad Sahibul Wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom)*

~

Apakah yang paling tak bisa ditahan seorang laki-laki? Hasrat, demikian jawab seorang Sufi. Sesuatu yang mendesak-desak keluar, bagai majikan yang mencocok hidung-kerbau budaknya yang tak kuasa menolak dan mengelak. Tapi kebanyakan, si budak membiarkan dirinya digiring, membiarkan dirinya memasuki surga semu: mata tersesat dalam mata, bibir pada bibir, menghirup bau ranum buah khuldi yang pas di genggaman, menyusuri halus punggung hingga lekuk panggul, membiarkan sekujur tubuhnya berkeringat—dengan napas yang memburu. Setelah sampai pada puncaknya, ada sedikit rasa lega dan bahagia. Sisanya penyesalan.

Itulah yang sering dialami Badri. Penyesalan yang menyesakkan, setelah basah kuyup berkeringat di atas ranjang pelacuran. Ia tahu apa yang dilakukannya keliru. Maksiat hebat. Dosa besar. Tetapi ada sesuatu yang tak bisa ia tolak: bau buah dada remaja. Berkali-kali ia menyatakan taubat, berkali-kali pula ia tersesat: kembali ke jalan yang tak semestinya.

Batinnya sesungguhnya berontak. Setiap hari ia dihantui penyesalan dan rasa gelisah.

“Aku mau taubat, Juk.” Katanya suatu pagi pada Juki, sahabatnya.

“Aku sudah mendengarnya seratus kali.” Jawab Juki. Agak sinis.

“Kali ini aku serius.”

“Aku sudah mendengarnya seratus kali.” Juki bahkan tak menatap mata Badri.

“Juk, dengarkan aku. Aku benar-benar ingin bertaubat. Apa yang harus kulakukan? Siapa yang harus aku temui?”

Juki terdiam. Bukankah telah puluhan kali ia mendatangi para guru? Tapi nampaknya kali ini berbeda, pikirnya. “Ada seorang guru,” jawab Juki kemudian, “kita bisa menemuinya.”

Badri mengangguk mantap. Harapan memancar dari matanya.

Ada keraguan di wajah Juki. Ia memperhatikan wajah sahabatnya itu. Lelaki ini, kata Juki dalam hati, bukan orang jahat. Ia sudah mendatangi banyak guru mengaji, ia melaksanakan semua yang disarankan: laku dan dzikir. Maka, jangan heran: Shalatnya tak pernah terlewat. Puasa ia lakukan, bahkan yang sunat. Ia juga berderma. Ia baik pada sesama. Tetapi, entah mengapa, ia tetap tak bisa menahan syahwatnya pada wanita. Ia berkelana dari satu rumah pelacuran ke rumah pelacuran lain, ia habiskan malam di ranjang-ranjang kemaksiatan…

“Jadi siapa guru itu?” pertanyaan Badri menarik Juki dari lamunan.

“Seorang manusia ikhlas.”

“Manusia ikhlas? Apakah ia seperti guru-guru lain yang kita temui selama ini?”

Juki terdiam sejenak. “Ikutlah denganku, kau akan tahu.” Jawabnya. Singkat.

***

Hari yang telah direncanakan untuk menemui sang guru telah tiba. Badri tak melihat sesuatu yang istimewa dari guru yang ia temui kali ini. Kecuali senyum Sang Guru yang tampak begitu tulus. Sesuatu yang entah bagaimana caranya bisa melegakan hatinya, melapangkan kegelisahannya.

Juki memperkenalkan Badri pada Sang Guru dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Juki menceritakan semuanya. Semuanya.

Badri terlihat sangat malu. Tetapi sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Badri tampak bingung. Ini tak biasa, batinnya. Biasanya guru-guru yang ia temui akan terperangah kaget mendengar cerita tentang petualangannya menjajal ranjang-ranjang pelacuran. Sebagian mereka menggeleng-gelengkan kepala. Sebagian lain langsung memarahinya.

Ada yang berbeda dengan guru yang ia temui hari ini. Ia tampak tenang-tenang saja. Justru tersenyum, mengangguk-angguk.

“Tidak apa-apa.” kata sang guru tiba-tiba. Jelas kalimat itu mengherankan. Guru macam apa ini? Batin Badri berontak. “Tidak apa-apa,” kata sang guru mengulangi, “asal jangan di hadapan saya.” Sang Guru menutup kalimatnya dengan senyum.

Ada yang aneh dari kalimat terakhirnya. Syarat yang jelas akan mudah dipatahkan. Bukankah tak mungkin Badri melakukan maksiat di hadapan Sang Guru?

“Guru,” Badri akhirnya berbicara, “Saya berjanji tidak akan melakukannya di hadapan Guru. Saya tidak akan. Tapi, apakah tidak ada amaliah yang harus saya lakukan atau doa yang harus saya baca? Saya benar-benar ingin bertaubat, Guru.”

Sang guru tersenyum. “Tidak apa-apa, asal jangan di hadapan saya.” Katanya sekali lagi.

Lalu Sang Guru membacakan beberapa kalimat dzikir, mengajarkannya pada Badri. Dzikir yang relatif pendek. Kontras dengan apa yang selama ini biasa ia dapatkan dari guru-guru lainnya. Badri diminta menghafalnya, lalu mengamalkannya. Badri setuju.

***

Beberapa minggu kemudian, Badri kembali dijerang keinginan luar biasa untuk menyalurkan hasratnya. Ia begitu gelisah. Dua sisi berperang dalam hatinya. Tapi toh ia memilih melepaskan hasratnya. Ia memilihi sisi buruk. Ia kalahkan suara-suara baik dalam dirinya, ia melangkah menuju tempat pelacuran terbaik di kota tempat tinggalnya. Entah untuk keberapa kalinya.

Ia tak bisa menghentikan imajinasinya: kerling manja wanita, bau rambut habis keramas, ritzluiting yang terbuka setengah, betis yang bau lotion. Ada sesuatu yang mendesak-desak dari dalam dirinya. Meluap-luap dari pikirannya. Sesuatu yang tak bisa ia tahan.

***

Malam itu, ketika jam dinding menunjukkan angka 10, ia tengah menunggu seorang wanita yang “dipesannya” di atas ranjang sebuah hotel yang ia pesan. Beberapa detik yang lalu, ia baru selesai menyisir rambutnya. Mematut diri memperbaiki penampilannya.

Pada saatnya, wanita itu datang menampakkan diri dari balik pintu. Wangi parfum seketika menguar mengisi sudut-sudut ruangan. Ah, begitu cantik dia, pikir Badri.

Bak Cassanova, Badri segera membimbing wanita itu ke atas ranjang. Ia tatap wajahnya. Ia hirup bau rambutnya. Tak ada yang bisa menghentikan semua ini, batinnya.

Sejenak sebelum ia membuka pakaiannya, tiba-tiba ia teringat nasihat Sang Guru: “Tidak apa-apa, asal jangan di hadapan saya.” Kalimat itu seolah-olah menggema dalam batin dan pikirannya. Entah apa yang terjadi, kalimat itu seketika memenuhi ruang kesadarannya.

Tidak apa-apa, asal jangan di hadapan saya. Kalimat itu menggema dalam dirinya. Seketika, wajah Sang Guru tampak jelas dalam ruang kesadarannya. Senyum itu, gestur itu, batuk itu, bau surban itu, entah bagaimana memenuhi seluruh ruang kesadarannya. Ia tak bisa melepaskan wajah Sang Guru dari pikirannya.

Batinnya seketika terguncang. Ia dijerang rasa gelisah luar biasa. Ia harus memenuhi syarat itu, menepati janjinya: Ia tak akan melakukannya di hadapan Sang Guru.

Malam itu, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Ia meminta wanitanya untuk pulang. Ia membayar sebagaimana seharusnya. Beberapa saat kemudian, ia juga pulang.

***

Di waktu yang lain, hasratnya sudah memuncak di ubun-ubun. Seorang wanita cantik sudah duduk di pangkuannya. Tawa kecil wanita itu menjilat daun telinganya. Ia tinggal membaringkan wanita itu di ranjang, lalu menuntaskan semuanya. Tetapi, lagi-lagi, ia ingat nasihat itu: Tidak apa-apa, asal jangan di hadapan saya.

Di sanalah, lagi, ia melihat senyum Sang Guru. Tatap mata Sang Guru. Ada sesuatu yang membuat napasnya tertahan, memaksanya menghentikan semuanya. Ia kembali mengurungkan niatnya.

***

Tiga kali, sekian kali, entah mengapa wajah Sang Guru selalu hadir setiap kali Badri akan melakukan maksiatnya. Tak bisa lepas.

Akhirnya, ia meneguhkan niatnya—ia memutuskan: inilah saatnya untuk berhenti. Kali ini bukan hanya rasa sesal yang keluar dari dirinya, ada sesuatu lain yang menrik-nariknya. Cahaya yang menyejukkan hatinya, “Aku tak bisa melakukannya di hadapan wjahmu, wahai Guru,” katanya.

***

Demikianlah ia “diajarkan”. Dan ia menemukan taubatnya.

“Dan sungguh, perempuan itu (Zulaikha) telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya ia tidak melihat ‘tanda’ dari Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba kami yang terpilih.” (QS Yusuf [12]:24)

~

Serpong, 6 September 2011

Fahd Djibran


*Kisah yang saya ceritakan ini fiksi. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata mengenai karamah Abah Anom yang menyadarkan salah satu muridnya, dengan cahaya wajah beliau. Diceritkan oleh salah satu murid Abah Anom. Allahummagfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu… Bila berkenan, kirimkanlah Al-Fatihah untuk beliau.
Continue Reading...

“Fiksi-Musikal”: Sebuah Proses


Sebelumnya, saya tidak tahu apakah istilah yang menjadi judul tulisan ini sudah ada atau belum—lebih-lebih: sudah tepat atau belum sebagai sebuah istilah? Saya tidak tahu pasti. Suatu hari, tiba-tiba saya terpikir dan ingin menggunakan istilah tersebut untuk menyebut bentuk tulisan yang sedang saya kerjakan. Fiksi-musikal? Aha! Istilah yang menurut saya seksi dan tepat untuk menunjukkan apa yang sedang saya kerjakan. Seolah-olah sayalah satu-satunya manusia yang hidup di atas muka bumi, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang penemu!

Tapi, apakah ia sungguh benar-benar baru? Saya ragu. Tepatnya, saya tidak tahu. Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa sudah tak ada lagi yang benar-benar baru (original) di dunia ini. Demikianlah, sebagaimana manifesto para empu postmodernisme: sub sole nihil novum, tak ada yang baru di bawah matahari, kan?

Ternyata benar saja. Ketika saya cari-cari, “fiksi-musikal” atau dalam bahasa Inggris “musical fiction” bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Apakah saya kecewa? Tentu saja tidak. Justru saya senang. Ternyata ada genre tersebut dalam dunia penulisan kreatif. Begini definisinya: Musical fiction is a genre of fiction in which music is paramount: both as subject matter, and through the rhythm and flow of the prose; that is, music is manifested through the language itself.

Sebentar. Sebentar. Ternyata, kalau melihat definisinya, apa yang saya bayangkan tentang “fiksi-musikal”, agak berbeda dengan definisi tersebut. Dalam benak saya, bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam “fiksi-musikal” cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif. Nah, itu yang saya maksud. Ha!

Untunglah saya menemukan Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, yang memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai “the edgy relationship between music and the written words”. Asyik, kan? Itu dia yang saya maksud. Lebih lanjut, DeCurtis memberikan penjelasan lebih asyik lagi: “Words are long-standing symbols of permanence. Music ultimately is ephemeral, evaporating into your unreliable memory once you’ve heard it. In taking music as their inspiration, writers seek to capture some of that immediacy, that spirit of the moment, and hold it still for their reader’s pleasure.” (Sawyers, June Skinner (Ed.) (2005). The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

***

Tanpa saya rencanakan secara sadar, ternyata saya sudah menulis dengan logika kreatif “fiksi-musikal” sejak lama, mungkin sejak project Karena Bertanya tak Membuatmu Berdosa: I Care, I Share di tahun 2009. Waktu itu saya membuat sejumlah esai dengan menggunakan lirik-lirik lagu Iwan Fals sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan tulisan yang saya buat. Ada yang masih ingat? Hehehe. Selanjutnya, di buku Yang Galau Yang Meracau (2011) pun saya melakukan hal yang sama, meski tidak pada keseluruhan tulisan. Pada beberapa cerita dan prosa, saya sertakan lirik-lirik lagu yang berhubungan dengan konteks yang sedang saya ceritakan. Atau memang sengaja saya menampilkan lirik lagu Karena tokoh dalam kisah yang sedang saya ceritakan memang menyanyikannya. Because promotion is not a crime, silakan baca buku tersebut supaya lebih jelas. Hehehe.

Ya, begitulah, saya merasa asyik menulis dengan format demikian. Seolah-olah saya menceburkan konteks cerita saya pada lirik dan musik yang bersesuaian dengannya. Atau sebaliknya, saya seolah sediakan "panggung" cerita bagi lirik dan musik yang menari-nari dalam kepala saya. Bagi saya, itu asyik. Saya menemukan dan merasa tulisan saya lebih hidup… Saya juga merasa pesan-pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca dapat disampaikan secara asyik dengan medium musik/lirik yang saya sertakan dalam cerita-cerita saya. Terserah deh, bagaimana enaknya menangkapnya. Saya juga bingung bagaimana menjelaskannya. Pokoknya begitu deh. :)

Nah, sejujurnya sekarang saya lagi deg-degan. Sebentar lagi, seperti saya pernah sampaikan jauh-jauh hari, saya akan meluncurkan karya "fiksi-musikal" pertama saya. Karya ini, merupakan kolaborasi saya dengan grup musik hebat Bondan Prakoso & Fade2Black. Mudah-mudahan, ini akan menjadi karya yang asyik dan keren. Mudah-mudahan kelak kalian akan suka dan menemukan sensasi dan pengalaman baru dalam membaca cerita. Saya tidak akan menceritakan banyak hal tentang karya ini, takutnya malah jadi spoiler. Pokoknya, buat saya, mengerjakan karya yang satu ini benar-bener berbeda, special, istimewa... well, mudah-mudahan ini menjadi salah satu magnum opus (karya besar) saya, ya. Tunggu saja, waktunya akan segera tiba! Insya Allah akan kami rilis bulan puasa, biar berkah. :)

***

Sebab kreativitas membuat pecandunya menjadi terus-menerus mabuk, saya tidak puas sekadar membuat karya "fiksi-musikal" yang terperangkap dalam lembar-lembar kertas buku. Saya merasa bentuk “fiksi-musikal” ini akan jauh lebih menarik kalau diwujudkan ke dalam bentuk yang lebih luas. Itulah yang mendorong saya membuat sebuah karya eksperimental dalam bentuk fiksi-musik-video yang saya upload ke Youtube beberapa bulan yang lalu. Saya bingung menjelaskannya, silakan langsung saja di lihat di sini, ya!

Dalam karya tersebut, saya berkolaborasi dengan sebuah band dari label Goodfaith, namanya Lovarian. Saya menggunakan lagu mereka yang berjudul “Perpisahan Termanis” untuk saya racik-ulang menjadi sebuah bentuk baru. Hasilnya, tanpa diduga, karya tersebut mendapatkan sambutan yang cukup baik. Sampai sekarang saja sudah ditonton oleh lebih dari 4.500 orang! Namun, sejujurnya, karya tersebut punya dua kelemahan mendasar. Pertama, musik latar awal bagi pengiring ceritanya masih “tempelan”, artinya karya tersebut tidak murni saya kerjakan bersama Lovarian. Musiknya saya ambil “tanpa izin” dari musik instrumen film Endless Love (tapi, tenang, di bagian akhir saya tuliskan kok sumbernya dari mana. Hehe). Kedua, visual yang menjadi latar belakang teks ceritanya juga masih merupakan stock picture bebas yang saya peroleh dari internet.

Belajar dari kelemahan itu, akhirnya saya memutuskan untuk membuat karya yang lebih “baik” dan tidak hanya bekerjasama dengan musisi. Ternyata saya juga harus bekerja sama dengan seniman visual. Kemudian, saya juga harus mengajak si musisi untuk membuat musik latar bikinan sendiri yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan karya tersebut.

Akhirnya, inilah yang membuat saya terisnpirasi mebuat sebuah project baru bernama REVOLVERE PROJECT. Project ini terdiri dari penulis, musisi, dan seniman visual yang berkolaborasi menciptakan sebuah karya bersama. Beruntung saya bertemu dengan Fiersa Besari, musisi kreatif asal Bandung, serta Futih Aljihadi, adik saya sendiri, yang seorang seniman visual sekaligus fotografer. Bertiga, kami sudah mulai bekerja sejak dua bulan lalu mengerjakan sebuah karya fiksi-musik-visual yang mudah-mudahan bakal asyik dan menarik. :)

Nah, kenapa namanya REVOLVERE PROJECT? Begini, revolusi (revolutia, perubahan) berasal dari dua kata: revoltaire dan revolvere. Revoltaire berarti menyingkirkan hal-hal yang lama/buruk. Sedangkan revolvere berarti ‘memutar kembali’ menuju arah yang lebih baik; perubahan menuju kesadaran yang lebih baik. Ketika seseorang melakukan revoltaire, belum tentu ia melakukan revolvere. Sementara sebuah revolvere pasti terlebih dahulu dimulai dengan serangkaian tindakan revoltaire. Singkatnya, hasrat perubahan (revolusi) tanpa revolvere hanyalah dendam pada masa lalu yang meledak tidak produktif. Revolvere Project merupakan sebuah project hibridasi fiksi-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang “lain”. Project ini mengajak pembaca-pendengar-penikmatnya berinteraksi dan mengakrabi sebuah karya melalui rasa, telinga, dan mata sekaligus. Revolvere Project hadir bagai pistol kesadaran yang siap menembak-jatuh mereka yang banal, hipokrit, arogan, naif, dan angkuh! :D

Keren, kan? Tapi itu bahasa promosi. Nanti kita lihat saja bagaimana karya yang dihasilkannya? Saat ini, kita perlu bukti. Bukan janji-janji. Kami akan buktikan. Mudah-mudahan bagus. Hehehe.

Jadi apa yang saya bicarakan sejak tadi? Ya, silakan kalian simpulkan sendiri deh! Yang jelas, jika mau tahu fiksi-musikal versi saya, ada satu hal yang harus kalian lakukan dan dua hal yang harus kalian tunggu: bacalah buku Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan, sambil menunggu dua hal: (1) buku fiksi-musikal pertama saya hasil kolaborasi bareng Bondan Prakoso & Fade2Black dan (2) upload video pertama Revolvere Project! :)

Sekian dan mari terus berkarya dan berkreativitas. :)

Salam,

Fahd Djibran


*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Undangan Launching Buku YGYM


Dear all,

Hadirilah!

Launching buku
YANG GALAU YANG MERACAU

Panggung Utama PESTA BUKU JAKARTA
Istora Senayan, Jakarta
Minggu, 3 Juli 2011
Pukul 15.30-18.00

GRATIS! :)

Buat yang penasaran sama bukunya,
silakan saksikan video-blog (vlog) berikut ini:




Download juga soundtracknya dari BFDF.
Temukan link downloadnya di sini.

Baca curhat-pengantarnya juga di sini.


Salam,
Fahd Djibran
Continue Reading...

BFDF: Musik Sebagai Medium Kebaikan!

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, buku terbaru saya Yang Galau Yang Meracau memiliki dua soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan oleh BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung. Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan. Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri (klik judul lagunya untuk men-download).

Ya, namanya BFDF. Sebuah band indie beraliran punk asal Bandung. BFDF adalah akronim dari nama empat personel mereka: Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Mereka mendeklarasikan BFDF sebagai band punk pada tahun 2008 dengan album pertama mereka Declaration of Punk Era dan album kedua As Luck Would Have It. Saya suka lagu-lagu mereka. Kalau didengarkan, lagu-lagu BFDF selalu mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat, namun memuat lirik-lirik yang selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam.

Bagi saya, BFDF selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya. Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Mari kita simak liriknya:

God’s Existence
Music & lyrics by: BFDF



They didn’t trust Him,
No one would save them
They just wanted to be free
With no responsibility—

Does this mean although they regret it
that now they lost?

They came with anger to make them feel stronger
Did they feel better to hate their maker?

In this time I believe
they’re the ones who are lost!


Well, they didn’t trust it
The God’s existence
Had no-faith in Him
The One and Only
The Only One to Pray to
The Only One to Ask
The One Who Could Save Them
They just didn’t trust

Reff:
They can’t turn back time they have lost
When they still had a chance
to pray and faith in Him
They regret it but it’s too late
And scream and cry are things they do

In this time they believe
they’re the ones who are lost


Well, when fantasy is dead
Nothing’s on your mind
You start to be buried underground
Those lips can’t say a word
But your hands and feet will speak
They’re the witnesses of your life

Well, life seemed too short to live you think
Now it’s been wasted
You wish that you could be reborn
And you scream so loud

Reff:
I wanna go home
I’ve regretted all
I’ve done so please give me a chance
So take me home, take me home
And that kind of words is probably screamed
By all people like you!

In this time you believe
You’re the one who is lost

Terkapar Sendiri
Music & lyrics by : BFDF



Kutahu ku akan mati
Kutahu ku akan pergi
Darahku takkan mengalir lagi
Dan takkan pernah bisa kembali

Dan kini semuanya telah terjadi
Aku terlahir ke dunia ini
Berharap nanti saat aku mati
Membawa sesuatu yang berarti

Bridge:
Sesak, penat, di dalam ruang hampa
Ku terkapar sendiri di dalamnya
Ada dua makhluk-Nya kan bertanya
Jawaban yang kan tentukan selanjutnya

Reff:
Arogansi manusia seakan takkan mati
Dahaga nafsu membuat tak terkendali
Menyesal di sana takkan mungkin berarti
Karena semua yang kumiliki kan bersaksi

Oh ya, terakhir, ini hal menarik yang harus saya kasih tahu. Seluruh personel BFDF adalah alumni pesantren. Mereka masing-masing mondok minimal 6 tahun di pesantren. Mereka nggak cuma jago main musik, tapi juga kalis ngomongin agama dan spiritualitas. Bagi mereka, musik mereka adalah medium untuk menebar kasih sayang dan kebaikan dengan cara mereka sendiri. Asyik, kan? :)

Sudah mendengarkan lagunya dan membaca liriknya? Bagaimana menurut kalian? Yuk, kita diskusikan. :)


Continue Reading...

#indonesiajujur: Ihwal Kepalsuan

Kisah Al dan Ibunya, Siami, di Surabaya memang menampar kesadaran kita.

Lalu kita dibuat sadar bahwa kejujuran telah roboh dari bangunan kesadaran kolektif masyarakat kita. Bagaimana mungkin secara bersama-sama orang-orang dibuat membenci dan mengkhianati nilai yang selama ini kita yakini bersama sebagai sesuatu yang penting sekaligus sakral, kejujuran? Ah, kita tahu kejujuran memang teramat penting sekaligus sakral untuk diperjuangkan, ditegakkan kembali. Maka Al dan Siami seolah menjadi momentum yang tepat untuk mengembalikan kejujuran yang entah hilang kemana. Mungkin inilah yang menggerakkan kita untuk membuat sebuah gerakan sosial dalam rangka mengembalikan nilai luhur kejujuran.

Bagi saya, untuk menjadi bangsa yang jujur, pertama-tama kita harus mengakui bahwa kita memang suka berbohong. Untuk kemudian melakukan serangkaian kerja penyadaran dan perbaikan untuk menjadi lebih baik—barangkali “lebih jujur”. Kalaupun kita tidak bisa menjadi “manusia jujur”, lebih-lebih “bangsa jujur”, paling tidak kita bisa tetap setia menyunggi kejujuran sebagai sesuatu yang penting sekaligus sakral: membela orang yang jujur, mencintai orang jujur, dan menjadikan mereka sebagai teladan. Bukan memusuhi atau menganggapnya “lebay” atau “irasional”. Itu saja, bagi saya, barangkali sudah cukup sulit.

Dengan mengakui kita suka berbohong, sesungguhnya kita sekaligus “sadar” untuk mengaku bersalah dan menanggung konsekuensi dari kesalahan-kesalahan. Bukan hanya membela dan mengkampanyekan kejujuran. Toh, nyatanya, manusia Indonesia yang paling banyak bohongnya pun—barangkali salah satu dari kita—bisa dengan gagah berani mengikuti kampanye ini dan menunjuk hidung wali-wali murid yang mendemo Siami di SDN Gadel sebagai “kehilangan rasa kemanusiaannya”, “tak punya hati nurani”, dan seterusnya. Sama persis seperti koruptor yang bisa dengan gagah berani mengatakan bahwa korupsi itu “haram”, “dosa”, “keji”, pada siapa saja—tanpa melakukan kerja penyadaran dan perbaikan bagi dirinya sendiri.

Ya, inilah ajakan saya: mari mengaku kalau kita juga pernah berbohong, tentang hal-hal kecil atau hal-hal besar, mengaku bahwa sewaktu sekolah kita pun pernah menyontek dan kadang-kadang membenci teman yang tak mau memberikan contekannya. Sebelum membuat masyarakat dan bangsa yang jujur, mari bekerja untuk diri kita sendiri. Paling tidak, mari bersikap jujur pada diri sendiri.

Saya ingin berbagi sebuah tulisan. Prosa tersebut sebenarnya bukan tulisan baru saya. Saya menulisnya di tahun 2009 dan terdapat dalam buku saya berjudul Curhat Setan. Ada sesuatu yang membuat saya tergerak untuk membagikan tulisan tersebut. Saya ingin mengajak kita semua jujur bahwa kita toh memang suka berbohong. Lantas, pertanyaannya, bisakah kita bekerjasama untuk berusaha tidak berbohong lagi—sekaligus tidak menciptakan situasi-situasi yang "memaksa" orang lain untuk berbohong?

Selamat membaca. Semoga Tuhan melindungi kita dari kebohongan-kebohongan dan kejujuran-palsu yang terkutuk!


Fahd Djibran

Penulis buku Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan (2011)


:::::


Bohong


Kau pernah berbohong? Aku pernah. Bahkan mungkin sering. Bila kau tanyakan pada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kealpaan, bukan? Dan kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar.

Ibu melarangku bermain di sawah. Sejujurnya dengan alasan yang tak bisa kuterima dan tak sepenuhnya kumengerti. Tetapi teman-temanku semuanya main di sawah; memburu layang-layang atau sekadar menyusuri pematang. Dan aku terkucil karena berhari-hari menolak ajakan mereka bermain ke sana. Aku teguh pada apa yang dipesankan ibu padaku, tetapi pilihan itu adalah pilihan yang (me)sulit(kan). Sungguh.

“Ah, banci!” kata temanku mengejek.

“Tapi Ibu melarangku bermain di sana!”

“Ayolah, ibumu nggak akan tahu, kan?”

Ya, ibu memang tak akan tahu sekalipun aku tak menyelinap keluar untuk bermain lumpur di sawah. Ibu tak pernah ke mana-mana selain di rumah. Maka kuputuskan untuk melampaui “batas” yang ibu buat untukku. Diam-diam, aku menyelinap keluar, dan memandang sawah yang terbentang. Seorang teman menarik lenganku, “Ayo kita mencuri tomat!” katanya.

Mencuri? Aku baru saja melakukan kesalahan pertama, haruskan kesalahan kedua segera menyusul? Rupanya memang begitu. Sekali pintu kesalahan terbuka, pintu lainnya begitu menggoda. “Aku tak ingin mencuri tomat!” bantahku tetapi setengah berlari mengikuti temanku si pencuri tomat. “Ayolah, sekali saja,” katanya sambil terus berlari menarik lenganku, menyunggingkan senyum mengejek di ujung bibirnya—seperti seseorang yang berkata, kau bukan laki-laki pengecut, kan?

Lalu dengan dada yang berdebar, aku pun mencuri tomat.

***

Setelah itu, berkali-kali aku menembus sawah, berkali-kali aku mencuri tomat. Dan kini kami harus pulang melewati batas senja karena kami ketahuan oleh paman penjaga petak tomat ketika sedang berusaha mencuri buah-buah miliknya: kami harus menghadapi sidang susila di depan gubuk paman penjaga tomat!

“Oh, jadi kalian yang suka mencuri tomat!?” bentaknya pada kami. Dadaku berdebar hebat. Andai saja bisa kuakali waktu, aku ingin menolak ajakan temanku dulu untuk melanggar pesan ibu. Andai saja bisa kuputuskan nadi waktu.

“Bukan, bukan, Paman. Kami bukan pencuri. Kami hanya mengambil tomat-tomat yang busuk untuk bermain perang tomat.” Salah seorang temanku membela diri. Ia berbohong.

“Ah, alasan!” katanya. “Aku akan melaporkan kalian pada orang tua kalian masing-masing!”

Deg! Tiba-tiba aku sesak napas. Aku tak mau melukai perasaan ibuku. Aku tak mau membuat ayahku malu. Ah, andai saja bisa kuakali waktu. Aku menyesal, sedalam-dalamnya. Ah, tetapi penyesalan hanyalah orang suci yang entah pergi ke mana ia sebelumnya.

Setelah berjanji tak akan mencuri tomat lagi, kami dilepaskan dengan sebuah ancaman; kalau sekali lagi ketahuan mencuri tomat, paman penjaga petak tomat tak akan segan melaporkan kami pada orang tua kami masing-masing.

***

Menjelang azan Isya, kami baru pulang ke rumah masing-masing. Dan Ibu marah padaku.

“Kamu ke mana saja?” tanya ibu.

“Main, Bu,” jawabku agak lesu.

“Main dari mana jam segini baru pulang?”

“Eh… mmm… dari rumah Ruli.” Tiba-tiba aku mendapati diriku menjadi pembohong hebat. Ah, dadaku kembali berdebar tak karuan. Aku bohong lagi pada ibu.

“Kenapa pulangnya malam begini?”

“Eh… mmm… ya main aja. Keasyikan. Aku mau mandi, ya, Bu?”

“Ya.”

Sore itu, aku jadi pembohong hebat. Aku tak tahu apakah bohong semacam itu mendapat dosa yang utuh? Aku tak berbohong, aku hanya tidak mengatakan yang sebenarnya, atau aku hanya mengatakan sebagiannya saja. Aku pikir Tuhan tahu kalau kebohonganku kali ini adalah kebohongan untuk menjaga perasaan ibu, dan kebohongan seperti itu ada sedikit kebaikannya. Tapi, apakah malaikat tahu bahwa kebohongan yang dilakukan untuk menjaga perasaan orang lain harus mendapat diskon karena ada sisi baiknya? Mudah-mudahan malaikat tahu.

Sejak itu, aku jadi terbiasa berbohong. Bahkan aku tak ingat soal apa saja kebohongan yang pernah kulakukan. Hanya, pikirku, kebohongan-kebohongan yang kulakukan cenderung bisa dimaafkan. Misalnya, sewaktu kelas 3 SD, aku berbohong pernah pergi ke Jakarta ketika ibu guru bertanya siapa yang pernah ke Jakarta. Semua teman sekelasku mengacungkan tangan. Kecuali aku. Dengan terlambat aku mengacungkan tangan. Mungkin kebohongan semacam itu dosanya sedikit, ibu gurulah yang sebenarnya salah. Mengapa harus menanyakan hal-hal yang bisa membuat sebagian muridnya menjadi malu? Atau mungkin seharusnya begini: mengapa membuat pertanyaan yang mungkin membuat sebagian muridnya berbohong? Semua murid mengacungkan tangan waktu itu, dan aku tak tahu siapa yang sama-sama berbohong sepertiku?

Tapi rupanya kebohongan tak akan membiarkan kita losos begitu saja. “Zira, ke Jakartanya ke mana?” tanya ibu guru. Ah, aku tak mungkin menjawab tidak tahu, kan? Aku ingat pernah menonton siaran soal Taman Impian Jaya Ancol. Lalu, “Ke Ancol, Bu!” jawabku.

“Wah, aku juga pernah ke sana!” sahut Rendi. “Kamu naik Bianglala, kan?”

“Iya, donk!” jawabku yang semakin fasih berbohong.

“Asyik, ya?”

“Iya!”

Ah kebohongan-kebohongan itu semakin tak bisa kulepaskan dari diriku. Sejak itu aku jadi tahu, kebohongan yang kecil sekalipun, meski sudah didiskon karena kita melakukannya untuk menjaga perasaan orang lain—atau perasaan kita sendiri—tetap bisa jadi besar kerena jumlahnya yang banyak. Kebohongan tak bisa dihentikan. Aku tahu itu setelah aku dan Rendi selesai mengobrol panjang soal Jakarta dan Taman Impian Jaya Ancol yang hanya kulihat di televisi itu.

***

Kali ini aku berbohong. Kebohongan yang kecil, sebenarnya. Tetapi kusadari merupakan bagian lain yang tersambung dengan kebohongan pertamaku dulu. Aku kecewa karena kali ini dadaku sudah tak berdebar lagi ketika berbohong. Apakah aku sudah menjadi pembohong hebat—yang bahkan tak akan terdekesi oleh mesin pelacak kebohongan karena tak ada debar yang istimewa?

Aku tak tahu. Aku hanya kehilangan debar itu. Debar yang membuatku tak bisa tidur semalaman dan memaksaku berjanji tak akan berbohong lagi.

Kau pernah berbohong? Aku sering. Bila kau tanyakan pada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kesalahan-kesalahan, bukan? Dan kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar. Seperti sudah kuceritakan kepadamu.

Bila kau pernah berbohong, pernahkah kau dibohongi? Ah, rasanya kita tak bisa lepas dari kebohongan-kebohongan. Berbohong-dibohongi. Kau bahkan tak tahu bahwa sejak tadi aku membohongimu dengan cerita soal masa laluku, bukan? Apa kau juga pura-pura membaca cerita-ceritaku? Ha!
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Aku juga tak tahu. Semoga Tuhan melindungi kita semua dari kebohongan-kebohongan dan kejujuran-palsu yang terkutuk. Amin.

***

Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

[VLOG] YGYM: Curhat (Tuan) Setan



YANG GALAU YANG MERACAU!
Curhat (Tuan) Setan

Fahd Djibran



Beberapa komentar teman tentang
Fahd dan puzzle-puzzle pikiran dan perasaannya:


“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial
Continue Reading...

Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan

Baca di Goodreads.

Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…

Buku ini dipersembahkan untuk teman-teman yang “galau” dan ingin berbicara pada diri sendiri—secara lebih bebas dan lebih jujur. Tak ada yang lebih kita butuhkan saat berbicara pada diri sendiri selain menjadi jujur dan apa adanya. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur dan manipulatif, pada diri sendiri atau orang lain. Lepaskanlah topeng-topeng, lepaskan prasangka-prasangka buruk, lepaskan kesombongan, rasa benci, dendam, dan iri hati; Sebaliknya, sayangi segenap diri kita, penuhilah ruang kesadaran kita dengan cinta!

Buku ini merangkum sejumlah tema yang barangkali selama ini membuat kita galau: Hidup, cinta, iman, dosa, setan, dan Tuhan. Teman-tema itulah, yang dengan berbagai turunannya, diakui atau tidak, selalu menjadi sentral pemikiran dan perenungan keseharian kita. Pada tema-tema itu kita seringkali dihadapkan pada dilema, semacam situasi tarik-menarik antara dua kutub-diri yang saling bertentangan. Siatuasi itulah yang sering saya sebut sebagai pertem(p)u(r)an, pertemuan di satu sisi pertempuran di sisi lain.

Lagi-lagi, seperti pernah terjadi pada A Cat in My Eyes (2008) dan Curhat Setan (2009), saya tak tahu harus menyebut buku semacam ini sebagai apa. Sejujurnya, saat menuliskannya, saya sama sekali tak memikirkan genre-nya; Entah kumpulan cerita, novel, atau apa? Saya lebih memilih berfokus pada efek pikiran dan perasaan yang akan diterima pembacanya. Seolah-olah saya ingin menghamburkan sejumlah puzzle-pikiran-dan-perasaan untuk sama-sama kita susun menjadi sebuah gambaran yang utuh. Sebab, saya percaya hidup kita juga tidak seperti kisah sinetron, novel, atau film layar lebar yang bergerak dari A ke Z. Bagi saya, hidup bagaikan puzzle yang kita temukan berserakan dan harus kita susun sendiri untuk menemukan maknanya.

Zusammenhang des Lebens, cerita adalah pengorganisasian hidup, kata Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman. Hidup yang tersusun dalam cerita adalah bios, yang berbeda dengan sekadar hidup biologis saja, atau zoe. Filsuf lain dari abad ke-20, Hannah Arendt (1906-1975) pernah berkata, “Karakteristik utama kehidupan khas manusia ialah selalu penuh dengan peristiwa-peristiwa acak yang pada akhirnya bisa diungkapkan sebagai cerita.”

Ya, itulah sebabnya saya menuliskan buku ini sebagai “racau”. Anggap saja begitu. Racau tak butuh aturan. Tak butuh alur atau penokohan. Tak perlu dibaca secara berurutan. Tak butuh keutuhan. Sebab racau, dengan suaranya yang sumbang dan kadang-kadang lepas dari konteks, dengan sudut pandang yang juga seringkali kabur, hanya ingin berbicara secara jujur dan apa adanya.

Oh ya, saya juga menuliskan buku ini lengkap dengan sejumlah lirik lagu yang bersesuaian dengan tema yang sedang dibicarakan. Seperti kisah hidup kita yang entah bagaimana bisa menemukan soundtrack-nya sendiri. Ketika menuliskannya, saya tak bisa lepas dari Youtube. Untuk itu, dengarkanlah lagu-lagunya saat sedang, sebelum atau setelah membaca setiap “racauan” dalam buku ini. Kalau hapal beberapa lagunya, jangan ragu untuk menyanyikannya. :)

Sebagai sebuah kesatuan yang utuh, buku ini juga memiliki dua buah soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung, beranggotakan Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan (silakan download di sini). Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri (klik judul lagunya untuk men-download).

Kalau didengarkan, dua lagu BFDF untuk buku ini benar-benar mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat. Namun, seperti biasa, BFDF selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam di setiap lagu mereka. Ya, tak tertolak, bagi saya BFDF selalu berhasil mengentak kesadaran kita yang sering kacau-galau! (Ini bukan salah ketik. Memang kacau-galau dan bukan kacau-balau. Ha!)

Inilah alasan saya untuk selalu tertarik berkolaborasi dengan BFDF: Mereka selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya (download liriknya di sini). Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Singkatnya, sedikit atau banyak, BFDF dan saya memiliki visi dan semangat yang sama tentang anak muda dan spiritualitas. :)

Sudahlah, selamat menggalau, selamat meracau! Yakinlah, galau pasti berlalu!

“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial


Continue Reading...

[VLOG] Fahd Djibran on CREATIVE WRITHINK



Anda sering disebut-sebut sebagai penulis kreatif, pendapat Anda tentang menulis kreatif?
Menulis kreatif (creative writing) bisa dikatakan sebagai upaya membuat karya tulis yang keluar dari pakem-pakem atau teori-teori menulis yang ada, baik pakem professional, jurnalistik, akademis, maupun teknis normal sastra. Bentuknya bisa apa saja: esai, puisi, cerpen, novel, artikel, atau apa saja. Karena menulis kreatif tidak bisa dipisahkan dari proses berfikir kreatif, maka saya lebih senang menyebutnya sebagai creative writhink. Saya selalu berupaya menghadirkan bentuk tulisan, cara penyampaian, gaya ungkap, eksperimen bahasa, maupun gagasan-gagasan sekreatif mungkin. Out of the box.

Apakah Anda menerapkannya dalam karya-karya Anda?
Ya, saya sudah melakukannya sejak tahun 2007. A Cat in My Eyes boleh jadi merupakan bentuk buku yang aneh. Saya menyebutnya puzzle pikiran. Di dalamnya ada cerpen, puisi, sms, cerita panjang, aforisma, doa, apa saja. Namun saya menghadirkannya dalam satu paket buku dengan penokohan layaknya novel, tetapi saya tak menetapkan alurnya. Saya hanya menyajikan puzzle-puzzle pikiran, pembaca bebas menentukan jalan ceritanya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan Curhat Setan, bedanya proses kreatif Curhat Setan dilakukan di blog yang bisa diketahui seluruh calon pembacanya.

Pada dua karya saya terakhir, Rahim dan Menatap Punggung Muhammad saya juga melakukannya. Rahim boleh dibilang satu-satunya novel di Indonesia yang disajikan dengan sudut pandang orang kedua (kau), di mana pembaca menjadi tokoh utamanya. Di samping itu, Rahim juga berusaha menghadirkan bentuk dongeng-ilmiah. Ia mengajak pembaca memasuki dirinya sendiri, bukan memasuki cerita. Saya memposisikan Rahim sebagai pintu masuk ke pikiran dan perasaan masing-masing Individu. Cara yang sama masih saya gunakan ketika menuliskan Menatap Punggung Muhammad, hanya saja temanya lebih spiritual-religius. Saya ingin menghadirkan “pengalaman Muhammad” dan bukan sekadar “pengetahuan tentang Muhammad”.

Karya Anda selanjutnya?
Saya tengah menggarap dua naskah dalam bentuk yang berbeda juga. Naskah pertama berkolaborasi dengan Bondan Prakoso & Fade 2 Black. Bentuknya fiksi-musikal. Bentuk "fiksi-musikal" ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang "meluaskan" ruang apresiasinya. Dalam “fiksi-musikal” cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah "persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif.
Naskah kedua mungkin kelanjutan dari Curhat Setan, dengan judul yang lain. Belum ditentukan. Sekali lagi saya ingin menghadirkan puzzle pikiran dan interior perasaan melalui karya tersebut.
Continue Reading...

MARI BERGABUNG! :)



Dear All,

Semoga teman-teman semua baik-baik saja. Anggap saja ini semacam “undangan terbuka”. Atau, jika itu terdengar terlalu serius, sebut saja sebagai “ajakan”. Dengan fasilitas baru yang sangat menarik dari Facebook, yang memungkinkan kita semua bisa berinteraksi satu sama lain secara lebih aktif, saya membuat sebuah grup/milis baru. Namanya RUANG TENGAH. Di grup tersebut kita bisa saling bertukar tanya dan cerita. Tentang apa saja; seperti di ruang tengah rumah kita. Ingat project saya Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa: I Care I Share? Mungkin di grup yang baru ini kita bisa melakukan diskusi online lagi secara lebih interaktif daripada di blog saya (http://www.ruangtengah.co.nr) ini. :)

Tapi, saya masih mempertahankan blog ini kok. Saya masih akan tetap memposting tulisan-tulisan yang agak panjang di blog. Sementara di grup ini kita bisa saling bertanya, bercerita, berdiskusi. Tentang apa saja. Dari mulai hal-hal kecil sampai hal-hal besar.

Kenapa saya membuat grup/milis semacam ini? Baiklah saya akan ceritakan. Pendek saja.

Saya melewati masa remaja dengan banyak pertanyaan di kepala. Banyak sekali. Namun, sayangnya, saya tak punya tempat untuk membukakan keran pikiran saya dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya menemukan salurannya. Akhirnya, berbagai pertanyaan menguap dari kepala, sebagian yang lain membusuk, tetapi hari-hari saya selalu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru—bercecabang, menjadi banyak dan semakin banyak lagi. Ingin sekali saya bertanya dan selalu bertanya, tetapi saya tumbuh di lingkungan sebuah pesantren yang tak begitu mendukung tradisi bertanya. Bertanya lebih sering dianggap sebagai tindakan yang tidak benar, salah, bahkan dosa!

Suatu kali saya keluar dari lingkungan pesantren untuk satu keperluan. Dalam perjalanan, saya bertemu dengan orang berbeda agama yang sangat baik dan sopan, sementara saya menemukan teman-teman dan banyak orang di pesantren berperilaku tidak baik dan tidak sopan; saya mulai mempertanyakan apa hubungan antara agama dan kebaikan perilaku seseorang? Apakah surga hanya untuk orang dengan agama tertentu saja, dan itu berarti Tuhan lebih menghargai tindakan buruk yang dilakukan seseorang yang memeluk agama tertentu daripada tindakan baik seseorang yang tidak memeluk agama tertentu? Mungkinkah Tuhan bersikap tidak adil?

Sesampainya di pesantren, saya bertanya pada beberapa guru dan kakak kelas yang saya anggap memiliki pengetahuan yang memadai soal agama. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru disuruh bertobat. Menurut mereka, saya sudah lancang dan berdosa dengan bertanya demikian. Seratus persen saya tak mendapat jawaban apa pun, saya justru mendapat intervensi kesalahan dan dosa dari apa yang saya lakukan. Bukannya kapok bertanya, pertanyaan lain justru lahir di kepala saya; mungkinkah mereka tak sanggup menjawab pertanyaan saya sehingga mereka merasa perlu mempersalahkan seseorang yang mempertanyakan hal yang tidak mereka ketahui? Lagi-lagi Tuhan tak adil, pikir saya; benarkah Dia lebih menghargai ketaatan yang buta daripada ikhtiar menemukan kemantapan keyakinan?

Sejak saat itu, saya selalu membayangkan sebuah dunia yang memperbolehkan kita mempertanyakan apa saja. Tanpa intervensi rasa bersalah atau rasa berdosa, tanpa kekhawatiran etis atau rasa waswas akan dipersalahkan, dan setrusnya. Memang apa salahnya bertanya? Bukankah bertanya merupakan ikhtiar untuk menemukan “yang benar”—mengonfirmasi segala sesuatu agar seperti “seharusnya”? Jadi, bukankah wajar melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam rangka menemukan “yang benar” atau “yang paling benar”? Rasanya tidak ada yang perlu dipersalahkan.

Pada tahun 2006, saya meniatkan diri untuk mengampanyekan kebebasan bertanya—bukan hanya kebebasan berpendapat yang perlu diperjuangkan, kan? Di rumah, di kampus, di tempat bermain, di lapangan bola, di masjid, di pasar, di terminal, di mana saja saya mendorong semua orang untuk berani bertanya … terutama para remaja, saya tahu mereka punya banyak pertanyaan, maka saya mendorong mereka untuk bertanya dan bertanya. Saya melakukan langkah pertama dengan membuat sebuah blog sederhana berjudul ruang tengah (http://www.ruangtengah.co.nr). Di blog itu saya mulai menuliskan hal-hal yang mendorong siapa saja untuk “berani” bertanya. Tentang kesalahan, tentang kebohongan, tentang dosa, tentang apa saja. Lalu tahun 2008 saya menulis A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa, buku yang dituliskan untuk mempertanyakan hal-hal sederhana di sekeliling kita, yang sering kali disepelekan dan diabaikan, tetapi sebenarnya penting untuk ditinjau ulang. Lalu pada tahun 2009 saya menulis lagi Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya. Masih seperti A Cat In My Eyes, namun dengan tingkat pertanyaan yang sedikit lebih kompleks. Hehehe. Di tahun 2009 juga saya membuat “kebebasan bertanya” di blog dengan judul Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa: I Care, I Share. Mungkin ada teman-teman yang masih ingat project itu. Bahkan dua buku terakhir saya Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan (Goodfaith, 2010) dan Menatap Punggung Muhammad (Litera, 2010) juga masih dalam nuansa "dunia bertanya".:)

Lalu, mengapa “ruang tengah”?

Ini amsal yang sederhana, seperti di rumah-rumah kita, ruang tengah adalah ruang di mana kita berani menjadi diri kita sendiri. Ruang tempat segala ego dilepaskan, segala kepentingan dinegosiasikan, segala kebohongan dibukakan, semua masalah diselesaikan, semua cerita dibeberkan, semua yang tertunda dituntaskan. Ruang tengah adalah ruang keakraban di mana segala bentuk identitas melebur jadi satu tanpa harus kehilangan makna dan nilainya masing-masing; ayah menjadi ayah, ibu menjadi ibu, kakak menjadi kakak, adik menjadi adik, dan semua orang tetap menjadi dirinya sendiri tetapi berkumpul bersama saling bertukar tawa-melempar cerita.

Bagi saya, barangkali kita butuh “ruang tengah” untuk berani bertanya dan berbicara apa saja, bercerita apa saja. Bagi saya, barangkali kita butuh “ruang tengah” untuk tak merasa canggung, tak merasa sendiri dan kesepian. Ruang tengah adalah tempat di mana setiap orang dari mana saja—depan, belakang, samping kiri-kanan—bisa berkumpul dan mendiskusikan perbedaan-perbedaan mereka sebagai cerita yang selalu dan terus-menerus istimewa. Karena berbeda membuat kita istimewa!

Nah, sekarang, apa nilai tambah grup ini dibanding project-project saya sebelumnya?

Seperti yang saya ceritakan di awal, dengan fasilitas baru yang ditawarkan Facebook, mungkin di grup/milis ini kita bisa lebih aktif berdiskusi dan melakukan tanya-jawab. Sekadar bertanya atau saling bertukar cerita. Di samping itu, yang menarik lagi, Saya juga sudah berbicara pada teman-teman saya yang psikolog, dosen, ustad, penulis, pengacara, aktivis, desainer, ibu rumah tangga, dan teman-teman lintas profesi lainnya untuk bertukar cerita dan membantu kita memecahkan pertanyaan-pertanyaan kita. Tapi, kita sebenarnya, kita semua bisa saling membantu di sana. Siapapun kita, apapun profesi dan latar belakang kita. Semua kita adalah pemilik ruang tengah. Kau dan aku.

Ah, sudahlah, capek juga nulis panjang. Singkatnya, mari bergabung di Ruang Tengah. Ajaklah teman-teman lain untuk bergabung juga. Caranya, klik link ini dan mulailah bergabung ke RUANG TENGAH. Silakan klik di sini.


Salam hangat,

Fahd Djibran
Continue Reading...

Ask Me Anything!

Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Sejak pertama kali menuliskannya sebagai tagline di buku A Cat In My Eyes, saya selalu suka kalimat itu. Pertanyaan selalu menghidupkan pengetahuan, pengetahuan selalu penting untuk menempa kesadaran, dan kesadaran adalah hal utama yang perlu kita miliki untuk menuju kedewasaan. Jika teman-teman ingin bertanya, silakan kirim e-mail ke fahdisme@yahoo.co.id atau tuliskan di kolom komentar di bawah. Mudah-mudahan saya bisa menjawabnya. Jika saya tidak bisa menjawabnya, mungkin Google bisa melakukannya. :)
Continue Reading...

Fahd Djibran [Wikipedia]


Sumber dari Wikipedia Indonesia.

Fahd Djibran adalah nama pena dari Fahd Pahdepie (lahir di Cianjur, 22 Agustus 1986; umur 25 tahun). Penulis yang dikenal dengan karya-karya kreatifnya serta pemikiran-pemikiran segarnya tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Beberapa bukunya yang telah diterbitkan antara lain A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan (2011), dua buah novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan dan Menatap Punggung Muhammad (2010), serta sebuah karya kolaborasi bersama Bondan Prakoso & Fade2Black dalam bentuk fiksi-musikal, Hidup Berawal Dari Mimpi (2011).

Fahd dikenal sebagai penulis kreatif yang memperkenalkan metode creative writhink (menjadi nominator dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Kreatif Tahun 2009 yang diselenggarakan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional RI). Di samping itu, ia juga meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam bidang penulisan dan pemikiran, antara lain: UNICEF Young Writer Award, DAR!Mizan Unlimited Creativity Award 2006 Sebagai Penulis Terbaik, Juara I MTQ Tingkat Nasional Bidang Karya Tulis Al-Quran, penghargaan Ahmad Wahib Award 2010 dari Yayasan Wakaf Paramadina dan Hivos Foundation, dan lainnya.

Pada tahun 2011, ia mewakili Indonesia dalam program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia yang diselenggarakan Australia-Indonesia Institute, University of Melbourne, dan Islamic Council of Victoria, Australia. Di samping menulis, Fahd juga kerap diundang sebagai pembicara atau narasumber dalam berbagai seminar dan diskusi ilmiah baik di level nasional maupun internasional. Saat ini ia juga merupakan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Novel
  • 2010 - Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan
  • 2010 - Menatap Punggung Muhammad
Buku
  • 2004 - Kucing
  • 2005 - Being Superstar
  • 2006 - Revolusi Sekolah
  • 2006 - Shalawat Cinta Kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW
  • 2007 - Insomnia | Amnesia: Catatan Mahasiswa Insomnia Bagi Bangsa yang Amnesia
  • 2008 - Writing is Amazing
  • 2008 - A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa
  • 2009 - Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya
  • 2009 - Qum!
  • 2011 - Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan
  • 2011 - Hidup Berawal Dari Mimpi (Bersama Bondan Prakoso & Fade2Black)

Antologi
  • 2006 - Selalu Ada Rindu: Antologi Sastra Senja Penyair Cianjur
  • 2007 - Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Umat
  • 2007 - Pemberdayaan Pendidikan Berbasis Umat
  • 2008 - Kesalehan Multikultural: Menelusuri Nilai-nilai Al-Quran dalam Praksis Budaya Lokal
  • 2010 - Pembaruan Tanpa Apologia: Esai-esai tentang Ahmad Wahib

Prestasi dan penghargaan
  • 2011 - Moslem Exchange Program (MEP) - Australia Indonesia Institute (AII)[3] [4]
  • 2010 - Ahmad Wahib Award 2010 - Yayasan Wakaf Paramadina dan Hivos Foundation [5]
  • 2009 - Nominator Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Kreatif - Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional RI
  • 2008 - Pemenang Utama Musabaqah Menulis Kandungan Al-Quran (Tafsir) pada Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional - Kementrian Agama RI dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Nasional
  • 2008 - Pemenang Utama Musabaqah Menulis Kandungan Al-Quran (Tafsir) pada Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Propinsi Jawa Barat - Kanwil Kementrian Agama Propinsi Jawa Barat dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Propinsi Jawa Barat
  • 2006 - Penghargaan Mizan Unlimited Creativity Award Sebagai Penulis Terbaik Tahun 2006 - Mizan
  • 2006 - Pemakalah Terbaik dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional Se-Indonesia (PNMHII) Ke-18
  • 2005 - Penghargaan Mizan Unlimited Creativity Award Sebagai Penulis Pendatang Baru Terbaik Tahun 2005 - Mizan
  • 2004 - Selected as one of 20 Best Writers on UNICEF Young Writer Award - UNICEF
  • 2003 - Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional - Kementrian Riset dan Teknologi RI

Referensi
  1. Sawyers, June Skinner (Ed.) (2005). The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. vii.
  2. Indonesian Muslim leaders to explore Islam in Australia, Antara News.
  3. Tokoh Muslim RI Menelusuri Islam di Australia, Australian Embassy.
  4. Religion is a person’s private domain: Young writers

Pranala luar
  • (Indonesia) Blog Pribadi Fahd Djibran
  • (Indonesia) Fahd Djibran: Sang Lokomotif Industri Kreatif Berbasis Penerbitan
  • (Indonesia) Sivitas Unggulan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
  • (Indonesia) Fahd in My Eyes by Dewi Lestari
  • (Inggris) Religion is a person’s private domain: Young writers
  • (Inggris) Indonesian Muslim leaders to explore Islam in Australia
  • (Indonesia) Tokoh Muslim RI Menelusuri Islam di Australia
  • (Indonesia) Saat SMA, Edarkan Tulisan Sembunyi-Sembunyi
  • (Indonesia) Fahd Djibran: Sang Lokomotif Industri Kreatif Berbasis Penerbitan
  • (Inggris) RI’s young Muslims join Aussie program to explore Islam
  • (Indonesia) 'Rahim' Menginspirasi Wanita Indonesia
Continue Reading...