Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Tak Sempurna: Sebuah Novel


Sejak pertangahan 2012, saya dan Bondan Prakoso & Fade2Black (Bondan, Tito, Eza, dan Arie) berencana membuka awal tahun 2013 dengan karya baru: Sebuah novel kolaborasi fiksi-musikal berjudul Tak Sempurna. Kenyataannya, mengerjakan karya ini tak semudah yang dibayangkan. Kami gagal menyajikannya tepat di awal tahun. Sebab ternyata kami memerlukan waktu lebih untuk sejumlah riset, diskusi panjang, dan persiapan-persiapan penting lainnya. Di tengah kesibukan masing-masing, kami terus berkonsentrasi pada karya ini, kami ingin karya ini “maksimal”, meski kami juga tahu sulit menjadikannya “sempurna”. Syukurlah kini semuanya sudah selesai; Tinggal selangkah lagi, novel itu akan segera rilis pada Februari 2013.

Ada yang istimewa dalam perjalanan kami mengerjakan karya ini. Kami mengerjakannya dengan spirit yang lebih kuat, juga dengan visi yang lebih sejalan. Mungkin karena hubungan kami sudah menjadi lebih matang lagi, bukan sekadar saling kenal. Kami berjalan beriringan sebagai teman, atau sahabat, dalam pengertian yang sesungguhnya. Kami tidak hanya berhubungan dalam hal kreativitas, tapi hingga hal-hal lain yang lebih personal. Misalnya, di sela-sela diskusi, kami bisa bercerita tentang keluarga, anak-anak, repotnya mengurus rumah, atau curhat soal persoalan masing-masing. Yang lebih istimewa, kedekatan itu merambat ke aspek yang lebih kompleks dalam kehidupan masing-masing kami: Menyenangkan mengetahui bahwa istri kami juga jadi saling kenal, anak-anak kami bertemu dan bermain, dan lebih banyak lagi. Jangan tanya soal Eza, dia memang belum menikah, tapi tentu jadi Om paling keren bagi anak-anak kami.

Dua setengah tahun lalu ketika mulai mengerjakan Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM), kami baru saling mengenal. Sejujurnya, proses kreatif dilakukan dengan nuansa yang agak rikuh. Sebagai seniman yang berkarya di dua wilayah yang berbeda, kami masih saling membaca satu sama lain, scanning. Tapi syukurlah ternyata HBDM menjadi pembuka yang manis untuk proyek-proyek kreativitas kami berikutnya. Dengan berbagai kekurangannya, buku itu diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat, menjadi best-seller di toko-toko buku besar, membuat kami bangga dan tersenyum lebar. Ini rahasia: HBDM sebenarnya belum menggambarkan gagasan dan perasaan kami seutuhnya—ia hanya kepingan-kepingan cermin yang merefleksikan hal-hal yang berserakan di otak dan hati kami.

Tak Sempurna lebih mewakili kami sebagai individu. Ia memuat gagasan dan perasaan kami yang lebih utuh dan jujur tentang banyak hal. Juga harapan dan kegelisahan-kegelisahan. Untuk mengungkapkan semua itu, kami memilih dunia sekolah sebagai “medan bercerita”. Ya, boleh jadi kami meminjam sekolah sebagai sudut pandang untuk melihat dunia yang lebih luas. Bagi kami, sekolah adalah dunia yang sangat kompleks—miniatur kehidupan manusia. Kita bisa melihat banyak aspek penting kehidupan dari sana: Hubungan antar-manusia, anak-anak, keluarga, orangtua, birokrasi, politik, agama, masyarakat, harapan, kekecewaan, masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya. Jadi, meskipun kami bercerita tentang “sekolah” atau “anak sekolah”, sesungguhnya kami sedang menceritakan sesuatu yang lebih luas lagi.

Novel kami bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya.

Something has gone very wrong with our school! Itu kalimat kuncinya. Sudah bisa diduga, tentu saja, anak-anak seperti apa yang dihasilkan kehidupan kota semacam itu—sistem pendidikan semacam itu? Kami terkejut mendapatkan sejumlah fakta mengerikan dalam riset sederhana yang kami lakukan: Ratusan pelajar tewas setiap tahunnya akibat tawuran dan overdosisi obat-obatan terlarang. Para pelajar melakukan seks bebas sesering pesta minuman keras, aborsi di mana-mana, pembunuhan dan pemerkosaan sulit dihitung jumlah pastinya. Ya, semua itu dilakukan pelajar, remaja Indonesia di bawah usia 18 tahun! Anak-anak masa depan yang gelisah dan putus asa, tapi tak pernah diperhatikan! Ana-anak yang dibuang, ditekan, dibebani, untuk kelak dicaci-maki dan disalahkan!

Di novel tersebut, kami meminjam sudut pandang seorang remaja biasa untuk bercerita berbagai hal tentang dirinya. Namanya Rama. Dia menceritakan banyak hal tentang sekolah dan segala hal yang bersinggungan dengannya. Dari hal-hal yang bisa kita bayangkan hingga hal-hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Dari harapan hingga kekecewaan. Semua tentang sekolah. Semua tentang kehidupan mereka—anak-anak bangsa: Miniatur bagi kehidupan kita sesungguhnya!

Saya tak akan menulis lebih panjang lagi. Jika ingin tahu detilnya, tentu Anda semua harus membaca ceritanya. Kami sudah tidak peduli lagi cerita itu akan melahirkan “pro” atau “kontra” di tengah masyarakat. Kami hanya menceritakan kenyataan yang kami tangkap apa adanya. Lagi pula, sebuah karya, ketika sudah dilemparkan ke hadapan sidang pembaca, sepenuhnya menjadi milik pembacanya. Tugas kami sudah selesai, itu dia: Kami sudah menuliskannya menjadi sebuah cerita sederhana—yang barangkali memang tak sempurna. Namun dari cerita itu, kami berharap sesuatu: Semoga pikiran dan perasaan kita terbuka, ada jutaan anak-anak Indonesia yang harus kita perhatikan dan selamatkan masa depannya!

Bagaimana kisah ini dituliskan? Kami tetap menyebutnya fiksi-musikal. Kami tak peduli pada genre, sebenarnya. Seperti jika saya menulis atau jika Bondan Prakoso & Fade2Black menulis dan menyanyikan lagu. Bisa apa saja namanya. Tapi mungkin novel ini memang dituliskan dengan cara yang tidak biasa. Bacalah sambil mendegarkan lagu-lagunya. Cerita dan lirik-lirik lagu yang terdapat di dalamnya merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Inilah yang disebut kolaborasi, sebuah karya yang dirancang dan dilahirkan dengan spirit saling melengkapi!

Akhirnya, kami mempersembahkan novel ini untuk orang-orang terkasih di sekeliling kami, adik-adik kami para pelajar di seluruh Indonesia, juga Rezpector sejagat raya! Mari akhiri semua kebodohan untuk menjadi generasi Tak Terkalahkan—


Kau yang di sana, yang berjiwa lemah,
Mendekat padaku! Raih tanganku!
Karena ku di sini pantang menyerah,
Bersatu kita kuat, bersama kita hebat
dan tak kan terkalahkan!

Respect & Unity For All, RUFA,
Fahd Djibran – Bondan Prakoso & Fade2Black


Tak Sempurna: Sebuah Novel
Fahd Djibran feat Bondan Prakoso & Fade2Black
Tebal: 240++ halaman
Harga: Rp. 46.000,-
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Pre-Order Edisi Tandatangan: Kurniaesa, Bukukita, Bookoopedia
Tersedia di toko-toko buku nasional seluruh Indonesia mulai pertengahan Februari 2013.
Continue Reading...

[Video] Seribu Malam Untuk Muhammad

Sila disimak, trailer buku SERIBU MALAM UNTUK MUHAMMAD (a Novel).
Bagi yang belum baca, silakan segera baca bukunya. Bagi yang sudah baca, semoga berbaik hati membuat reviewnya ya.



"Ada banyak nilai universal yang diajarkan Muhammad SAW kepada kita, pengikutnya. Namun terkadang kita gagal untuk menangkap maknanya. Dengan bahasa yang sederhana, namun sangat mendalam, novel ini mengisahkan pencarian seorang anak manusia lintas-iman tentang makna yang patut digali dari nilai-nilai universal yang telah diajarkan sang manusia agung itu." —Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

"Ada banyak cara orang jatuh cinta pada Nabi Muhammad. Dalam buku ini, Fahd Djibran menuturkan bagaimana seorang non-Muslim jatuh cinta kepada kekasih Tuhan itu, yang dikisahkannya lewat sebuah surat kepada mantan kekasihnya. Meski sudah cukup banyak membaca dan mendengar tentangnya, saya memperoleh banyak cerita baru tentang rasul agung itu dalam buku ini. Cinta saya kepadanya pun meningkat berlipat—ya, dia, yang tiap hari menyuapi seorang buta yang tiap kali itu pula menghujatnya, sampai suatu kali Allah memanggilnya dan si buta tak lagi didatangi tamu agung"—Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina

:::::

Sementara jutaan muslim mendambakan perjumpaan dengan Muhammad yang mulia dalam mimpi mereka, mungkinkah seorang pemuda non-muslim yang terpilih? Mungkinkah seorang pendosa bermimpi berjumpa dengan sang manusia maha manusia?

Demikianlah ia mendapatkan pengalaman itu, mimpi yang begitu menyentakkan, sesuatu yang terlampau suci bagi dirinya namun tak sanggup ia tolak.

Sejak malam itulah ia memutuskan untuk melakukan pencarian... Ada sebagian dari dirinya yang terbawa oleh sosok lembut Muhammad yang hadir dalam mimpinya—menjadi semacam getar yang terus-menerus memanggil, berdenyar dalam hatinya, dan ia ingin kembali menemukannya...

Inilah pencarian itu, seribu malam untuk Muhammad.

:::::



Judul : Seribu Malam Untuk Muhammad
Penulis: Fahd Djibran
Genre : Novel
Tebal : 284 Halaman
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978-602-99349-7-7
Jenis Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 35.000
Continue Reading...

Seribu Malam Untuk Muhammad


"Ada banyak nilai universal yang diajarkan Muhammad SAW kepada kita, pengikutnya. Namun terkadang kita gagal untuk menangkap maknanya. Dengan bahasa yang sederhana, namun sangat mendalam, novel ini mengisahkan pencarian seorang anak manusia lintas-iman tentang makna yang patut digali dari nilai-nilai universal yang telah diajarkan sang manusia agung itu." —Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

“Ada banyak cara orang jatuh cinta pada Nabi Muhammad. Dalam buku ini, Fahd Djibran menuturkan bagaimana seorang non-Muslim jatuh cinta kepada kekasih Tuhan itu, yang dikisahkannya lewat sebuah surat kepada mantan kekasihnya. Meski sudah cukup banyak membaca dan mendengar tentangnya, saya memperoleh banyak cerita baru tentang rasul agung itu dalam buku ini. Cinta saya kepadanya pun meningkat berlipat—ya, dia, yang tiap hari menyuapi seorang buta yang tiap kali itu pula menghujatnya, sampai suatu kali Allah memanggilnya dan si buta tak lagi didatangi tamu agung” –Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina

:::::

Sementara jutaan muslim mendambakan perjumpaan dengan Muhammad yang mulia dalam mimpi mereka, mungkinkah seorang pemuda non-muslim yang terpilih? Mungkinkah seorang pendosa bermimpi berjumpa dengan sang manusia maha manusia?

Demikianlah ia mendapatkan pengalaman itu, mimpi yang begitu menyentakkan, sesuatu yang terlampau suci bagi dirinya namun tak sanggup ia tolak.

Sejak malam itulah ia memutuskan untuk melakukan pencarian… Ada sebagian dari dirinya yang terbawa oleh sosok lembut Muhammad yang hadir dalam mimpinya—menjadi semacam getar yang terus-menerus memanggil, berdenyar dalam hatinya, dan ia ingin kembali menemukannya…

Inilah pencarian itu, seribu malam untuk Muhammad.

:::::

Judul : Seribu Malam Untuk Muhammad
Genre : Novel
Tebal : 284 Halaman
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978-602-99349-7-7
Jenis Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 35.000

:::::

FAQ (Frequently Asked Question)

1. Apakah buku ini ada hubungannya dengan buku Menatap Punggung Muhammad (MPM)?
Ya, buku Seribu Malam Untuk Muhammad adalah versi repackage dari buku Menatap Punggung Muhammad (MPM)—dengan penyempurnaan, perubahan kemasan/cover, dan perubahan judul.
2. Apakah buku ini 100% sama dengan buku MPM?
90% sama. Ada perubahan introduksi cerita, beberapa detail yang terlewat di buku sebelumnya, serta yang paling signifikan adalah perubahan cover, judul dan ISBN.
3. Mengapa di-repackage atau di-republish?
Keputusan ini diambil karena penerbitan di edisi sebelumnya kurang maksimal, terutama dari sisi distribusi. Banyak orang yang ingin membaca buku MPM, tetapi distribusi (terutama ke luar Jawa) kurang maksimal. Penerbitan Seribu Malam Untuk Muhammad (SMUM) ini juga sekaligus merupakan jawaban atas kebutuhan tersebut.
4. Mengapa pindah penerbit?
Keputusan untuk pindah penerbit diambil berdasarkan banyak pertimbangan. Selain alasan di atas, buku ini (dalam versi MPM) sudah memasuki cetakan keempat namun daya jangkaunya belum terlalu baik. Posisi stok buku MPM juga sudah habis sehingga dimungkinkan untuk mengalihkan hak penerbitannya ke penerbit lain. Mudah-mudahan, bersama Kurniaesa Publishing buku ini dapat menjangkau masyarakat pembaca yang lebih luas.
5. Mengapa ganti judul?
Pilihan ini diambil berdasarkan berbagai masukan dalam penerbitan edisi sebelumnya (MPM), termasuk dari beberapa pakar. Setelah didiskusikan ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, termasuk beberapa kampus, toko buku, dan kelompok diskusi, kata “punggung” ternyata memiliki konotasi negatif bagi sebagian masyarakat Indonesia—terutama mereka yang tinggal di wilayah Sumatera (Bahasa Melayu). Kata “punggung” biasa diasosiasikan untuk kata-kata umpatan/hinaan. Sehingga, meskipun buku ini tentu tidak bermaksud demikian, lebih baik judulnya diganti. Oleh karena itu, juga untuk alasan penyegaran, dalam edisi baru ini (cetakan keempat) buku ini berubah judul menjadi Seribu Malam Untuk Muhammad.
6. Apakah yang sudah membaca MPM tidak perlu membaca lagi SMUM?
Pilihan ada di tangan pembaca. Seperti disebutkan di atas, perubahan yang terjadi paling banyak hanya 10%. Jika ingin membaca dalam edisi SMUM, dipersilakan. Jika dirasa tidak perlu, terima kasih sudah membaca MPM. :)
7. Apa visi buku ini?
Visi buku ini sederhana. Pertama, buku ini ingin memberikan sudut pandang lain dalam mengenal Muhammad Rasulullah—yang biasanya diceritakan dalam bentuk sirah atau penceritaan langsung mengenai sosok Muhammad. Dalam buku ini Muhammad diceritakan dari sudut pandang tokoh aku, seorang non-Muslim yang memutuskan melakukan pencarian setelah bermimpi berjumpa Muhammad Sang Nabi. Kedua, buku ini hendak menitikberatkan pada ‘pengalaman Muhammad’ (the Muhammad experience) dan bukan sekadar pengetahuan/cerita tentang Muhammad SAW. Ketiga, melalui buku ini mudah-mudahan banyak orang yang semakin tergerak untuk mengenal sosok Muhammad Sang Nabi.
8. Apakah buku ini kisah nyata?
Bukan, ini buku fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata. Pengalaman mimpi, sang kekasih, dan pencarian tentang Muhammad-nya nyata, tetapi kemudian dituliskan dalam bentuk novel/fiksi yang beberapa bagiannya didramatisir atau dikurangi. Kisah-kisah mengenai Muhammad SAW adalah nyata, berdasarkan sumber-sumber rujukan sebagaimana yang disebutkan dalam buku ini. Jadi, secara umum buku ini tidak bisa dikatakan ‘kisah nyata’ meskipun diangkat dari sebuah pengalaman yang nyata.
9. Apakah mungkin seorang non-Muslim bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad?
Ya, ada banyak kesaksian yang membuktikan hal itu. Di samping kemungkinan oposisionalnya bahwa seorang Muslim juga berkemungkinan menjumpai sosok-sosok/simbol suci agama lain dalam dunia mimpi. Berdasarkan diskusi panjang yang sudah dilakukan dengan berbagai tokoh agama, kyai, guru besar dalam bidang agama, memang terdapat keraguan jika ditinjau dari sudut pandang fiqh/syariat (artinya tidak ada teks/nash langsung yang menunjukkan hal tersebut). Namun, dari sudut pandang tasawuf, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Novel ini mengisahkan sebuah pengalaman spiritual, juga Muhammad dalam konteks yang impersonal, jadi dimensi yang diperbincangkan memang dimensi spiritual.
10. Apakah novel ini hanya untuk dibaca kalangan Muslim?
Tidak, meskipun membicarakan sosok Muhammad Rasulullah, novel ini tidak secara spesifik tergolong novel agama. Buku ini dapat dibaca siapa saja (Muslim maupun non-Muslim) yang ingin mengenal Muhammad, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.
Novel ini akan tersedia di toko-toko buku seluruh Indonesia pada minggu kedua bulan Maret 2012. Untuk teman-teman yang ingin membaca buku ini lebih dulu, bisa dilakukan pre-order terbatas (hanya 100 eksamplar). Untuk pembelian pre-order, ada diskon khusus sebesar 15% atau lebih hemat Rp. 5.250,- (harga buku menjadi 29.750,- sebelum ongkos kirim) serta bonus CD eksklusif dan tanda tangan. :)

Silakan lakukan pemesanan ke (klik pada gambar):



Atau ke (klik pada gambar):



Di atas semua itu, selamat membaca! Kita bisa mendiskusikan novel ini kelak setelah teman-teman membacanya, tentu saja. Silakan baca review-review dari pembaca MPM di sini, dan jangan lupa tulisan review/komentar Anda setelah membaca buku ini di sini (klik pada gambar):



Salam,

Fahd Djibran
Continue Reading...

#YGYM dan 10 Besar API 2011

Hari ini saya dapat kabar bahwa buku saya "Yang Galau Yang Meracau" masuk 10 besar nominasi peraih Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2011 untuk dua kategori (buku non-fiksi terbaik dan sampul buku non-fiksi terbaik 2011).

Saya tidak berharap menang, sampai di sini saja sudah harus sangat bersyukur. Terima kasih atas dukungan dan apresiasinya selama ini, sahabat Ruang Tengah. Saya sudah sangat berbahagia karena karya saya dibaca, tambah bahagia karena kini buku tersebut best-seller dan dihargai orang, jika terpilih menang: semata-mata karena Tuhan melebihkan nikmatnya buat saya, hambanya yang bebal dan kurang ajar.

Bagi yang ingin memberi dukungan, silakan klik link ini. Saya tidak akan meminta apalagi memaksa. Kalau memang baik dan layak, pilihlah. Jika tidak, mudah-mudahan buku itu tetap bermanfaat.

Itu saja :-)
Continue Reading...

Kaulah Yang Membakar Al-Quran!

Disclaimer
Tulisan ini semula berjudul Al-Quran yang Dibakar. Pertama kali saya posting untuk merespon rencana pembakaran Al-Quran oleh dua orang pendeta di Florida, AS, Pada 11 September 2010 lalu. Tulisan ini merupakan refleksi saya atas kenyataan keseharian saya sendiri yang jauh dari Al-Quran, tanpa maksud untuk menyerang siapapun (individu maupun kelompok). Tulisan ini juga terdapat dalam buku saya Yang Galau Yang Meracau (Kurniaesa Publishing, 2011) di bawah judul yang sama dengan versi awalnya. Untuk membaca versi lengkap dari cerita-cerita Tuan Setan sebagaimana yang akan Anda baca dalam cerita berikut ini, Anda dapat langsung membaca buku yang saya maksud. Sekarang, saya posting ulang tulisan ini dalam rangka memperingati Nuzulul Quran, 17 Ramadhan 1432 H. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan manfaat yang baik bagi pembaca sekalian. Jika Anda mendapat kebaikan dari tulisan ini, saya mempersilakan untuk menyebarkannya; tentu dengan mencantumkan sumbernya dan tanpa mengubah tulisannya. Semoga bermanfaat. ~Fahd Djibran


Kaulah Yang Membakar Al-Quran!


“Gila!” rutukku sesaat setelah membaca berita pembakaran Al-Quran yang dilakukan dua pendeta di Amerika, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki-ku keluar tanpa kontrol.

“Setan!” aku berteriak sekali lagi.

Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapanku! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Jelas, aku berang mendengar ucapannya. Emosiku naik pitam. Dadaku turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulutku. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”

“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”

Napasku turun naik, mataku memerah, tanganku mengepal. “Terkutuklah kau!” teriakku lantang.

“Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.

Tiba-tiba aku tersentak. Tiba-tiba aku merasa harus menemukan Al-Quran milikku yang entah aku simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Aku terus mencari. Di manakah aku menyimpan Al-Quranku? Aku membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quranku? Aku mulai resah mencari di mana Al-Quranku. Aku ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Aku memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, aku tak menemukan Al-Quranku! Di manakah aku menyimpan Al-Quranku?

“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”

Aku mulai panik dan resah, kemarahanku mulai pudar, ternyata aku tak bisa menemukan Al-Quranku sendiri.

“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Dadaku berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti aku mulai menangis—tetapi aku belum menyerah untuk terus mencari Al-Quranku. Di mana Al-Quranku? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, aku kira itulah Al-Quranku, setelah aku ambil ternyata bukan: Life of Mao. Aku kecewa. Aku terus mencari sambil diam-diam air mataku mulai meluncur di tebing pipi.

“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaranku. Tetapi kini aku tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dadaku. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup aku tahan.

Akhirnya aku menyerah. Aku tak menemukan Al-Quranku di mana-mana di setiap sudut rumahku!

Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatapku dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” Kemudian ia tertawa, “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak mempedulikannya selama ini?”

Aku terus menangis. Dadaku berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dadaku, mendesir gamang ke seluruh persendianku.

Tiba-tiba aku ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quranku ada di situ!

Aku bergegas bangkit dari tubuhku yang tersungkur, aku berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, aku segera ingat di situlah aku menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika aku hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… Aku mendapatkannya: Al-Quranku!

Aku menatap Al-Quranku dengan tatap mata rasa bersalah. Aku mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian aku mendekapnya erat-erat—mengingat masa kecilku belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al-Fatihah… “Astagfirullahaladzhim…” tiba-tiba dadaku bergemuruh, air mataku menderas.

Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.

Aku masih mendekap Al-Quranku, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.

“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau—kalian semua—tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!

“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tak!

“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Al-Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ”

Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!

Aku menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidupku. Aku melacaknya dalam ingatanku yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diriku?

“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!”

Tuan Setan tertawa lepas.

“Maafkan…,” suaraku tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan…,” lalu aku bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.

“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.

Aku mencari masjid; Aku ke mal, ke pasar, ke terminal, ke sekolah, ke mana-mana… Aku ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Aku ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya. Aku masih bergegas dengan langkah yang galau. Aku ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan aku sendiri tak memahaminya? Aku ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya?

Aku terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana?
Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?
Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan ke manakah kiranya aku bergulir
Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah kubuat?

Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!

[KH. Mustafa Bisri, Tadarus]

Aku terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskah aku melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah aku harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah aku kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika aku jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Aku terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?”

Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang telah sengaja membakar Al-Quranmu!”

Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang.


*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Hidup Berawal Dari Mimpi

Judul Buku : Hidup Berawal Dari Mimpi
Penulis : Fahd Djibran feat Bondan Prakoso & Fade2Black
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Halaman : 231 halaman
ISBN : 978-602-993491-5
Tahun Terbit : 2011
Harga : Rp. 39.000,-


Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli itu ironi tragedi
Senang bahagia, hingga kelak kau mati



“Gue berasal dari keluarga sederhana, Fahd. Working class.” kata Bondan, “Gue berproses sejak lama. Gue berjuang dari kecil untuk bisa punya tempat di industri ini. Sumpah, ini semua nggak gampang… tapi kerja keras emang selalu menunjukkan hasilnya. Bareng Fade2Black, nggak kerasa udah 5 tahun sejak 2005. Awalnya kita cuma dianggap band biasa yang kadang dipandang sebelah mata—malah disepelekan. Kita baru bener-bener ngerasain semuanya ‘meledak’ di tahun 2010, di album ketiga. Meskipun di dua album sebelumnya kita juga pernah dapet beberapa penghargaan, nggak bisa dipungkiri lagu Ya Sudahlah jadi momentum penting yang mengubah banyak hal.” cerita Bondan.

“Ya, impian dan kerja keras emang selalu keren! Kalian udah membuktikan semuanya.” kataku, “Bukan cuma musik yang bagus, lirik yang bagus, karya yang bagus, kesuksesan juga soal bagaimana seseorang menjalani dan menjalankan semuanya, kan?”

“Bener banget!” kata Tito, “Kalo boleh digambarkan, perjalanan kita bisa diwakili sama tiga lagu: Hidup Berawal dari Mimpi di album Respect, Waktu di album Unity, sama Ya Sudahlah di album For All. Kita memulai semua ini dari impian, kemudian kita memperjuangkan dan mempertaruhkan impian itu bersama waktu yang terus berjalan… terakhir, saat kerja keras sudah dilakukan, kita hanya ‘menunggu’, tawakal dengan rasa percaya dan cinta, Ya Sudahlah!”

“Ya, Hidup Berawal dari Mimpi!” kata Bondan sambil tersenyum. Eza mengangguk-angguk setuju.

Lalu Tito tersenyum. Arie tersenyum. Aku tersenyum. Semua tersenyum. Entah bagaimana caranya, senyum dan semangat selalu menular!

Baca review HBDM di Goodreads.

Tak sedikit orang yang jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black, saya salah satunya. Tak cukup sampai di situ, saya bukan hanya kecanduan musiknya, saya juga terpukau mendapati lirik-lirik yang kuat dan hebat dari mereka.

Sejak awal, saya tahu, Bondan Prakoso & Fade2Black bukan grup musik biasa yang sekadar “bermusik”, mereka lebih dari itu: musik dan lirik mereka berangkat dari konsep yang kuat, pemahaman yang hebat, serta pilihan ekspresi kreativitas yang tepat. Kemudian saya terpikir untuk mengajak mereka bekerjasama dalam sebuah project literasi. Karya mereka harus “diperluas” daya jangkaunya, bukan hanya bagi pendengar musik tetapi juga bagi pembaca sastra. Saya yakin musik dan lirik mereka harus dinikmati siapa saja dalam “jangkauan” yang lebih luas lagi; Musik dan lirik mereka hebat, tak diragukan lagi.

Ketika saya menawarkan project penulisan “fiksi-musikal” pada Bondan Prakoso & Fade2Black, tak disangka mereka begitu antusias menyepakatinya. “Musisi bukan sekadar penghibur,” demikian kami bersepakat, “Musik adalah karya intelektual yang mewah. Ia tak hanya perlu diperdengarkan di tengah-tengah ingar-bingar penggung, suaranya harus menerobos ke ruang baca, kampus-kampus, perpustakaan, pusat-pusat peradaban.” Kami berjabat tangan, “Penikmat musik sangat penting membaca sastra, sama seperti penikmat sastra penting mengapresiasi musik. Musik dan sastra adalah dua cinta yang tak bisa diceraikan.”

Demikianlah project ini pada akhirnya selesai, sebuah buku fiksi-musikal berjudul HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya.

Apa itu fiksi-musikal? Dalam bahasa Inggris ia disebut musical fiction, sebuah genre dalam fiksi di mana musik menjadi bagian yang sangat penting, baik sabagai bahan utama maupun bagian cerita. Bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam fiksi-musikal cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif.

Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai hubungan tarik-menarik antara musik dan kata-kata tertulis, the edgy relationship between music and the written words. Hal paling penting yang ingin dicapai dalam karya kolaboratif semacam ini adalah “pengalaman-musikal dalam membaca” serta “sensasi imajinatif” saat mendengarkan sebuah lagu”. (Sawyers, June Skinner (Ed.). 2005. The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

Baiklah, tak usah pusing-pusing mendefinisikan dan memahami apa itu fiksi-musikal. Inilah karya fiksi-musikal hasil kolaborasi kami: HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Temukan keunikannya, temukan sensasinya, buktikan bahwa ini bukan sekadar karya biasa. Bacalah.

Terakhir, buku ini dipersembahkan bagi siapa saja: kamu, dia, kita, mereka. Terutama bagi mereka yang percaya pada prinsip respect, unity, dan for all. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi yang bersatu untuk merayakan dan memaknai hidup dengan sikap saling menghormati dan mencintai, much love and respect. Lebih khusus, buku ini dipersembahkan bagi para Rezpector, generasi muda yang percaya bahwa perbedaan bukan halangan untuk merayakan perdamaian dan cinta!

Selamat membaca. Ajaklah sebanyak mungkin teman, sahabat, saudara untuk membaca dan menikmati #HBDM. :)
Continue Reading...

Di Balik Layar #HBDM

Tak sedikit orang yang jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black, saya salah satunya. Tak cukup sampai di situ, saya bukan hanya kecanduan musiknya, saya juga terpukau mendapati lirik-lirik yang kuat dan hebat dari mereka.

Sejak awal, saya tahu, Bondan Prakoso & Fade2Black bukan grup musik biasa yang sekadar “bermusik”, mereka lebih dari itu: musik dan lirik mereka berangkat dari konsep yang kuat, pemahaman yang hebat, serta pilihan ekspresi kreativitas yang tepat. Kemudian saya terpikir untuk mengajak mereka bekerjasama dalam sebuah project literasi. Karya mereka harus “diperluas” daya jangkaunya, bukan hanya bagi pendengar musik tetapi juga bagi pembaca sastra. Saya yakin musik dan lirik mereka harus dinikmati siapa saja dalam “jangkauan” yang lebih luas lagi; Musik dan lirik mereka hebat, tak diragukan lagi.

Ketika saya menawarkan project penulisan “fiksi-musikal” pada Bondan Prakoso & Fade2Black, tak disangka mereka begitu antusias menyepakatinya. “Musisi bukan sekadar penghibur,” demikian kami bersepakat, “Musik adalah karya intelektual yang mewah. Ia tak hanya perlu diperdengarkan di tengah-tengah ingar-bingar penggung, suaranya harus menerobos ke ruang baca, kampus-kampus, perpustakaan, pusat-pusat peradaban.” Kami berjabat tangan, “Penikmat musik sangat penting membaca sastra, sama seperti penikmat sastra penting mengapresiasi musik. Musik dan sastra adalah dua cinta yang tak bisa diceraikan.”

Demikianlah project ini pada akhirnya selesai, sebuah buku fiksi-musikal berjudul HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya.

Apa itu fiksi-musikal? Dalam bahasa Inggris ia disebut musical fiction, sebuah genre dalam fiksi di mana musik menjadi bagian yang sangat penting, baik sabagai bahan utama maupun bagian cerita. Bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam fiksi-musikal cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif.

Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai hubungan tarik-menarik antara musik dan kata-kata tertulis, the edgy relationship between music and the written words. Hal paling penting yang ingin dicapai dalam karya kolaboratif semacam ini adalah “pengalaman-musikal dalam membaca” serta “sensasi imajinatif” saat mendengarkan sebuah lagu”. (Sawyers, June Skinner (Ed.). 2005. The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

Baiklah, tak usah pusing-pusing mendefinisikan dan memahami apa itu fiksi-musikal. Inilah karya fiksi-musikal hasil kolaborasi kami: HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Temukan keunikannya, temukan sensasinya, buktikan bahwa ini bukan sekadar karya biasa. Bacalah.

Terakhir, buku ini dipersembahkan bagi siapa saja: kamu, dia, kita, mereka. Terutama bagi mereka yang percaya pada prinsip respect, unity, dan for all. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi yang bersatu untuk merayakan dan memaknai hidup dengan sikap saling menghormati dan mencintai, much love and respect. Lebih khusus, buku ini dipersembahkan bagi para Rezpector, generasi muda yang percaya bahwa perbedaan bukan halangan untuk merayakan perdamaian dan cinta!

Selamat membaca. Ajaklah sebanyak mungkin teman, sahabat, saudara untuk membaca dan menikmati #HBDM. :)


Salam,

Fahd Djibran – Bondan Prakoso & Fade2Black
Continue Reading...

“Fiksi-Musikal”: Sebuah Proses


Sebelumnya, saya tidak tahu apakah istilah yang menjadi judul tulisan ini sudah ada atau belum—lebih-lebih: sudah tepat atau belum sebagai sebuah istilah? Saya tidak tahu pasti. Suatu hari, tiba-tiba saya terpikir dan ingin menggunakan istilah tersebut untuk menyebut bentuk tulisan yang sedang saya kerjakan. Fiksi-musikal? Aha! Istilah yang menurut saya seksi dan tepat untuk menunjukkan apa yang sedang saya kerjakan. Seolah-olah sayalah satu-satunya manusia yang hidup di atas muka bumi, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang penemu!

Tapi, apakah ia sungguh benar-benar baru? Saya ragu. Tepatnya, saya tidak tahu. Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa sudah tak ada lagi yang benar-benar baru (original) di dunia ini. Demikianlah, sebagaimana manifesto para empu postmodernisme: sub sole nihil novum, tak ada yang baru di bawah matahari, kan?

Ternyata benar saja. Ketika saya cari-cari, “fiksi-musikal” atau dalam bahasa Inggris “musical fiction” bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Apakah saya kecewa? Tentu saja tidak. Justru saya senang. Ternyata ada genre tersebut dalam dunia penulisan kreatif. Begini definisinya: Musical fiction is a genre of fiction in which music is paramount: both as subject matter, and through the rhythm and flow of the prose; that is, music is manifested through the language itself.

Sebentar. Sebentar. Ternyata, kalau melihat definisinya, apa yang saya bayangkan tentang “fiksi-musikal”, agak berbeda dengan definisi tersebut. Dalam benak saya, bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam “fiksi-musikal” cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif. Nah, itu yang saya maksud. Ha!

Untunglah saya menemukan Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, yang memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai “the edgy relationship between music and the written words”. Asyik, kan? Itu dia yang saya maksud. Lebih lanjut, DeCurtis memberikan penjelasan lebih asyik lagi: “Words are long-standing symbols of permanence. Music ultimately is ephemeral, evaporating into your unreliable memory once you’ve heard it. In taking music as their inspiration, writers seek to capture some of that immediacy, that spirit of the moment, and hold it still for their reader’s pleasure.” (Sawyers, June Skinner (Ed.) (2005). The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

***

Tanpa saya rencanakan secara sadar, ternyata saya sudah menulis dengan logika kreatif “fiksi-musikal” sejak lama, mungkin sejak project Karena Bertanya tak Membuatmu Berdosa: I Care, I Share di tahun 2009. Waktu itu saya membuat sejumlah esai dengan menggunakan lirik-lirik lagu Iwan Fals sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan tulisan yang saya buat. Ada yang masih ingat? Hehehe. Selanjutnya, di buku Yang Galau Yang Meracau (2011) pun saya melakukan hal yang sama, meski tidak pada keseluruhan tulisan. Pada beberapa cerita dan prosa, saya sertakan lirik-lirik lagu yang berhubungan dengan konteks yang sedang saya ceritakan. Atau memang sengaja saya menampilkan lirik lagu Karena tokoh dalam kisah yang sedang saya ceritakan memang menyanyikannya. Because promotion is not a crime, silakan baca buku tersebut supaya lebih jelas. Hehehe.

Ya, begitulah, saya merasa asyik menulis dengan format demikian. Seolah-olah saya menceburkan konteks cerita saya pada lirik dan musik yang bersesuaian dengannya. Atau sebaliknya, saya seolah sediakan "panggung" cerita bagi lirik dan musik yang menari-nari dalam kepala saya. Bagi saya, itu asyik. Saya menemukan dan merasa tulisan saya lebih hidup… Saya juga merasa pesan-pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca dapat disampaikan secara asyik dengan medium musik/lirik yang saya sertakan dalam cerita-cerita saya. Terserah deh, bagaimana enaknya menangkapnya. Saya juga bingung bagaimana menjelaskannya. Pokoknya begitu deh. :)

Nah, sejujurnya sekarang saya lagi deg-degan. Sebentar lagi, seperti saya pernah sampaikan jauh-jauh hari, saya akan meluncurkan karya "fiksi-musikal" pertama saya. Karya ini, merupakan kolaborasi saya dengan grup musik hebat Bondan Prakoso & Fade2Black. Mudah-mudahan, ini akan menjadi karya yang asyik dan keren. Mudah-mudahan kelak kalian akan suka dan menemukan sensasi dan pengalaman baru dalam membaca cerita. Saya tidak akan menceritakan banyak hal tentang karya ini, takutnya malah jadi spoiler. Pokoknya, buat saya, mengerjakan karya yang satu ini benar-bener berbeda, special, istimewa... well, mudah-mudahan ini menjadi salah satu magnum opus (karya besar) saya, ya. Tunggu saja, waktunya akan segera tiba! Insya Allah akan kami rilis bulan puasa, biar berkah. :)

***

Sebab kreativitas membuat pecandunya menjadi terus-menerus mabuk, saya tidak puas sekadar membuat karya "fiksi-musikal" yang terperangkap dalam lembar-lembar kertas buku. Saya merasa bentuk “fiksi-musikal” ini akan jauh lebih menarik kalau diwujudkan ke dalam bentuk yang lebih luas. Itulah yang mendorong saya membuat sebuah karya eksperimental dalam bentuk fiksi-musik-video yang saya upload ke Youtube beberapa bulan yang lalu. Saya bingung menjelaskannya, silakan langsung saja di lihat di sini, ya!

Dalam karya tersebut, saya berkolaborasi dengan sebuah band dari label Goodfaith, namanya Lovarian. Saya menggunakan lagu mereka yang berjudul “Perpisahan Termanis” untuk saya racik-ulang menjadi sebuah bentuk baru. Hasilnya, tanpa diduga, karya tersebut mendapatkan sambutan yang cukup baik. Sampai sekarang saja sudah ditonton oleh lebih dari 4.500 orang! Namun, sejujurnya, karya tersebut punya dua kelemahan mendasar. Pertama, musik latar awal bagi pengiring ceritanya masih “tempelan”, artinya karya tersebut tidak murni saya kerjakan bersama Lovarian. Musiknya saya ambil “tanpa izin” dari musik instrumen film Endless Love (tapi, tenang, di bagian akhir saya tuliskan kok sumbernya dari mana. Hehe). Kedua, visual yang menjadi latar belakang teks ceritanya juga masih merupakan stock picture bebas yang saya peroleh dari internet.

Belajar dari kelemahan itu, akhirnya saya memutuskan untuk membuat karya yang lebih “baik” dan tidak hanya bekerjasama dengan musisi. Ternyata saya juga harus bekerja sama dengan seniman visual. Kemudian, saya juga harus mengajak si musisi untuk membuat musik latar bikinan sendiri yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan karya tersebut.

Akhirnya, inilah yang membuat saya terisnpirasi mebuat sebuah project baru bernama REVOLVERE PROJECT. Project ini terdiri dari penulis, musisi, dan seniman visual yang berkolaborasi menciptakan sebuah karya bersama. Beruntung saya bertemu dengan Fiersa Besari, musisi kreatif asal Bandung, serta Futih Aljihadi, adik saya sendiri, yang seorang seniman visual sekaligus fotografer. Bertiga, kami sudah mulai bekerja sejak dua bulan lalu mengerjakan sebuah karya fiksi-musik-visual yang mudah-mudahan bakal asyik dan menarik. :)

Nah, kenapa namanya REVOLVERE PROJECT? Begini, revolusi (revolutia, perubahan) berasal dari dua kata: revoltaire dan revolvere. Revoltaire berarti menyingkirkan hal-hal yang lama/buruk. Sedangkan revolvere berarti ‘memutar kembali’ menuju arah yang lebih baik; perubahan menuju kesadaran yang lebih baik. Ketika seseorang melakukan revoltaire, belum tentu ia melakukan revolvere. Sementara sebuah revolvere pasti terlebih dahulu dimulai dengan serangkaian tindakan revoltaire. Singkatnya, hasrat perubahan (revolusi) tanpa revolvere hanyalah dendam pada masa lalu yang meledak tidak produktif. Revolvere Project merupakan sebuah project hibridasi fiksi-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang “lain”. Project ini mengajak pembaca-pendengar-penikmatnya berinteraksi dan mengakrabi sebuah karya melalui rasa, telinga, dan mata sekaligus. Revolvere Project hadir bagai pistol kesadaran yang siap menembak-jatuh mereka yang banal, hipokrit, arogan, naif, dan angkuh! :D

Keren, kan? Tapi itu bahasa promosi. Nanti kita lihat saja bagaimana karya yang dihasilkannya? Saat ini, kita perlu bukti. Bukan janji-janji. Kami akan buktikan. Mudah-mudahan bagus. Hehehe.

Jadi apa yang saya bicarakan sejak tadi? Ya, silakan kalian simpulkan sendiri deh! Yang jelas, jika mau tahu fiksi-musikal versi saya, ada satu hal yang harus kalian lakukan dan dua hal yang harus kalian tunggu: bacalah buku Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan, sambil menunggu dua hal: (1) buku fiksi-musikal pertama saya hasil kolaborasi bareng Bondan Prakoso & Fade2Black dan (2) upload video pertama Revolvere Project! :)

Sekian dan mari terus berkarya dan berkreativitas. :)

Salam,

Fahd Djibran


*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Korban Tuan Setan Berikutnya: Indra J. Santoso [Galauku Menggagau]

Review oleh Indra J. Santoso

Setan!
Tuhan.
Cinta.

Tiga kata itulah yang mensegmentasikan isi dari buku Yang Galau Yang Meracau (YGYM) karya Fahd Djibran. Oke, oke, aku agak berlebihan. Untuk kata “Setan!” sebenarnya tidak menggunakan “tanda seru”, “Setan”.

Dari semua karya Fahd, aku takluk pada pemikirannya tentang Tuhan dan Muhammad, selalu. Ia dengan mudahnya mendeskripsikan bahkan menarasikan tentang Tuhan dan Muhammad. Karena bagiku, lidahku selalu kelu untuk berkata-kata tentang itu bahkan tanganku enggan menggoreskan tinta untuk mencari arti kata itu-Tuhan dan Muhammad.

Fahd, mengapa engkau selalu mendekati setan untuk mengenal Tuhan?

Aku yakin engkau punya jawaban untuk itu. Setan yang selalu masuk kategori jahat, busuk, bau, menyeramkan, tidak pernah mandi (apa benar?) dan semua imaji kita yang kita gambarkan sendiri. Bagiku setan itu adalah diriku sendiri, sisi iblisku yang selalu tersenyum manis di balik tubuh ini.

Maka bilamana pertanyaan itu dilontarkan untukku, tidak jauh, berarti aku mendekati Tuhan melalui sisi gelapku sendiri. Ya, itu sih aku.

Setelah Mei dan Juni kemarin aku bermelankoli, Juli ini Fahd dan Dee kembali membuatku berpikir dan berimaji melalui YGYM dan Madre.

Fahd, terkadang aku ingin seperti Setan yang kau ceritakan pada judul “Al-Qur’an yang di bakar!”. Sewaktu-waktu aku sempat berpikir untuk membakar Qur’an-ku sendiri. Aku ingin tahu, seberapa jauh aku memiliki iman. Bukan karena takut akan dosa atau neraka yang dijanjikan Tuhan. Seperti kata Cak Nun…

“Andai tidak ada Al-Qur’an kalian tidak mencuri. Itu karena taqwa, karena nurani” – Cak Nun

Ya, aku ingin tahu seberapa jauh nurani dan taqwa-ku bicara bila tanganku yang telah penuh dengan dosa ini membakar kitab sucinya sendiri. Aku ingin tahu. Bila aku tidak merasakan apa-apa, berarti selama ini cuap-cuapku yang membela Tuhan dan agama adalah isapan jempol belaka, munafik.

Galauku ini menggagau. Galauku ini benar-benar berada di lorong gelap tanpa setitik cahaya harapan. Ingin rasanya menghancurkan dinding disamping kiri dan kananku untuk mencari cahaya, namun apa daya, tenagaku tak mampu untuk melakukannya. Aku hanya mampu meraba di dalam kegelapan.

Racauan tak lagi keluar dari bibirku, tubuhku ini ikut meracau, kacau.

Mungkin jalan satu-satunya yaitu dengan membakar Qur’an yang ada dalam genggamanku dengan pematik api yang kubawa, bukankah dengan begitu Qur’an ini memiliki fungsi, benar-benar memberi cahaya padaku dalam kegelapan?

Haha, aku tahu, terkadang kata-kataku terlalu ekstrem atau implisit. Kamu pasti tahu itu.

“Manusia diciptakan untuk bersalah, itulah sebabnya Tuhan menjadi Maha Pengampun” – Fahd Djibran

Semoga mantramu pada cerita “Sisi Gelap” itu benar dan mampu meyakinkanku untuk benar-benar mencoba mencari tahu dan menguji seberapa jauh taqwa dan nuraniku, hehe aku bercanda.

Oke, kembali ke track.

YGYM memiliki kata-kata yang halus, apa adanya dan mudah untuk dicerna. Membaca YGYM aku seolah menemukan diriku sendiri. Aku seolah bercermin. Setan, Tuhan dan Cinta.

Aku melihat setan dalam cerminku. Aku melihat pantulan iblis dalam selimut daging ini.

Tuhan, sebagaimana aku melihat pantulan diriku dalam cermin itu, aku ciptaan-Nya.

Cinta, ah, lagi-lagi tentang cinta. Aku takluk pada kata tak bertulang itu.

Ah ya, selalu saja keluar dari konteks review sebagaimana mestinya bila aku mereview tulisanmu, Fahd. Tulisanmu membuatku curhat, bukan curhat (Tuan) Setan tentunya, he.

Yang pasti, kolaborasi antara Setan, Tuhan dan Cinta dengan soundtrack lagu yang mewakilinya benar-benar manjur sebagai obat kontemplasi. Sederhana saja, aku melihat adanya trias, ada pola hubungan segitiga antara setan, cinta dan tuhan.

YGYM benar-benar mewakili sifat manusia.

Ya, manusia.

Manusia yang selalu takluk, bersujud dan menyembah.. Pada…

Setan
Cinta
dan Tuhan



*4 dari 5. Sama sepertimu yang akan memberikan satu bintang lagi pada Madre untuk di filmkan (aku sangat setuju untuk itu). Aku menahan satu bintang untukmu, untuk Curhat (Tuan) Setan selanjutnya. Ha! :)
Continue Reading...

BFDF: Musik Sebagai Medium Kebaikan!

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, buku terbaru saya Yang Galau Yang Meracau memiliki dua soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan oleh BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung. Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan. Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri (klik judul lagunya untuk men-download).

Ya, namanya BFDF. Sebuah band indie beraliran punk asal Bandung. BFDF adalah akronim dari nama empat personel mereka: Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Mereka mendeklarasikan BFDF sebagai band punk pada tahun 2008 dengan album pertama mereka Declaration of Punk Era dan album kedua As Luck Would Have It. Saya suka lagu-lagu mereka. Kalau didengarkan, lagu-lagu BFDF selalu mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat, namun memuat lirik-lirik yang selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam.

Bagi saya, BFDF selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya. Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Mari kita simak liriknya:

God’s Existence
Music & lyrics by: BFDF



They didn’t trust Him,
No one would save them
They just wanted to be free
With no responsibility—

Does this mean although they regret it
that now they lost?

They came with anger to make them feel stronger
Did they feel better to hate their maker?

In this time I believe
they’re the ones who are lost!


Well, they didn’t trust it
The God’s existence
Had no-faith in Him
The One and Only
The Only One to Pray to
The Only One to Ask
The One Who Could Save Them
They just didn’t trust

Reff:
They can’t turn back time they have lost
When they still had a chance
to pray and faith in Him
They regret it but it’s too late
And scream and cry are things they do

In this time they believe
they’re the ones who are lost


Well, when fantasy is dead
Nothing’s on your mind
You start to be buried underground
Those lips can’t say a word
But your hands and feet will speak
They’re the witnesses of your life

Well, life seemed too short to live you think
Now it’s been wasted
You wish that you could be reborn
And you scream so loud

Reff:
I wanna go home
I’ve regretted all
I’ve done so please give me a chance
So take me home, take me home
And that kind of words is probably screamed
By all people like you!

In this time you believe
You’re the one who is lost

Terkapar Sendiri
Music & lyrics by : BFDF



Kutahu ku akan mati
Kutahu ku akan pergi
Darahku takkan mengalir lagi
Dan takkan pernah bisa kembali

Dan kini semuanya telah terjadi
Aku terlahir ke dunia ini
Berharap nanti saat aku mati
Membawa sesuatu yang berarti

Bridge:
Sesak, penat, di dalam ruang hampa
Ku terkapar sendiri di dalamnya
Ada dua makhluk-Nya kan bertanya
Jawaban yang kan tentukan selanjutnya

Reff:
Arogansi manusia seakan takkan mati
Dahaga nafsu membuat tak terkendali
Menyesal di sana takkan mungkin berarti
Karena semua yang kumiliki kan bersaksi

Oh ya, terakhir, ini hal menarik yang harus saya kasih tahu. Seluruh personel BFDF adalah alumni pesantren. Mereka masing-masing mondok minimal 6 tahun di pesantren. Mereka nggak cuma jago main musik, tapi juga kalis ngomongin agama dan spiritualitas. Bagi mereka, musik mereka adalah medium untuk menebar kasih sayang dan kebaikan dengan cara mereka sendiri. Asyik, kan? :)

Sudah mendengarkan lagunya dan membaca liriknya? Bagaimana menurut kalian? Yuk, kita diskusikan. :)


Continue Reading...

[VLOG] YGYM: Curhat (Tuan) Setan



YANG GALAU YANG MERACAU!
Curhat (Tuan) Setan

Fahd Djibran



Beberapa komentar teman tentang
Fahd dan puzzle-puzzle pikiran dan perasaannya:


“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial
Continue Reading...

Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan

Baca di Goodreads.

Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…

Buku ini dipersembahkan untuk teman-teman yang “galau” dan ingin berbicara pada diri sendiri—secara lebih bebas dan lebih jujur. Tak ada yang lebih kita butuhkan saat berbicara pada diri sendiri selain menjadi jujur dan apa adanya. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur dan manipulatif, pada diri sendiri atau orang lain. Lepaskanlah topeng-topeng, lepaskan prasangka-prasangka buruk, lepaskan kesombongan, rasa benci, dendam, dan iri hati; Sebaliknya, sayangi segenap diri kita, penuhilah ruang kesadaran kita dengan cinta!

Buku ini merangkum sejumlah tema yang barangkali selama ini membuat kita galau: Hidup, cinta, iman, dosa, setan, dan Tuhan. Teman-tema itulah, yang dengan berbagai turunannya, diakui atau tidak, selalu menjadi sentral pemikiran dan perenungan keseharian kita. Pada tema-tema itu kita seringkali dihadapkan pada dilema, semacam situasi tarik-menarik antara dua kutub-diri yang saling bertentangan. Siatuasi itulah yang sering saya sebut sebagai pertem(p)u(r)an, pertemuan di satu sisi pertempuran di sisi lain.

Lagi-lagi, seperti pernah terjadi pada A Cat in My Eyes (2008) dan Curhat Setan (2009), saya tak tahu harus menyebut buku semacam ini sebagai apa. Sejujurnya, saat menuliskannya, saya sama sekali tak memikirkan genre-nya; Entah kumpulan cerita, novel, atau apa? Saya lebih memilih berfokus pada efek pikiran dan perasaan yang akan diterima pembacanya. Seolah-olah saya ingin menghamburkan sejumlah puzzle-pikiran-dan-perasaan untuk sama-sama kita susun menjadi sebuah gambaran yang utuh. Sebab, saya percaya hidup kita juga tidak seperti kisah sinetron, novel, atau film layar lebar yang bergerak dari A ke Z. Bagi saya, hidup bagaikan puzzle yang kita temukan berserakan dan harus kita susun sendiri untuk menemukan maknanya.

Zusammenhang des Lebens, cerita adalah pengorganisasian hidup, kata Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman. Hidup yang tersusun dalam cerita adalah bios, yang berbeda dengan sekadar hidup biologis saja, atau zoe. Filsuf lain dari abad ke-20, Hannah Arendt (1906-1975) pernah berkata, “Karakteristik utama kehidupan khas manusia ialah selalu penuh dengan peristiwa-peristiwa acak yang pada akhirnya bisa diungkapkan sebagai cerita.”

Ya, itulah sebabnya saya menuliskan buku ini sebagai “racau”. Anggap saja begitu. Racau tak butuh aturan. Tak butuh alur atau penokohan. Tak perlu dibaca secara berurutan. Tak butuh keutuhan. Sebab racau, dengan suaranya yang sumbang dan kadang-kadang lepas dari konteks, dengan sudut pandang yang juga seringkali kabur, hanya ingin berbicara secara jujur dan apa adanya.

Oh ya, saya juga menuliskan buku ini lengkap dengan sejumlah lirik lagu yang bersesuaian dengan tema yang sedang dibicarakan. Seperti kisah hidup kita yang entah bagaimana bisa menemukan soundtrack-nya sendiri. Ketika menuliskannya, saya tak bisa lepas dari Youtube. Untuk itu, dengarkanlah lagu-lagunya saat sedang, sebelum atau setelah membaca setiap “racauan” dalam buku ini. Kalau hapal beberapa lagunya, jangan ragu untuk menyanyikannya. :)

Sebagai sebuah kesatuan yang utuh, buku ini juga memiliki dua buah soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung, beranggotakan Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan (silakan download di sini). Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri (klik judul lagunya untuk men-download).

Kalau didengarkan, dua lagu BFDF untuk buku ini benar-benar mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat. Namun, seperti biasa, BFDF selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam di setiap lagu mereka. Ya, tak tertolak, bagi saya BFDF selalu berhasil mengentak kesadaran kita yang sering kacau-galau! (Ini bukan salah ketik. Memang kacau-galau dan bukan kacau-balau. Ha!)

Inilah alasan saya untuk selalu tertarik berkolaborasi dengan BFDF: Mereka selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya (download liriknya di sini). Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Singkatnya, sedikit atau banyak, BFDF dan saya memiliki visi dan semangat yang sama tentang anak muda dan spiritualitas. :)

Sudahlah, selamat menggalau, selamat meracau! Yakinlah, galau pasti berlalu!

“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial


Continue Reading...

RESPECT, UNITY, FOR ALL

Dear All,

Inilah project terbaru saya tahun ini (2011). Kali ini saya melakukannya bersama-sama Bondan Prakoso & Fade 2 Black. Sebenarnya project ini sudah mulai dikerjakan sejak kuarter akhir 2010 lalu, tapi baru tahun ini akan kami jalankan.



I n t r o


Project ini membawa spirit dari tiga kata: respect, unity, for all. Tiga kata ini mungkin sederhana, tapi jika dimaknai jauh lebih dalam, dan jauh lebih dalam, dan jauh lebih dalam, kita akan tahu mengapa ketiga kata itu penting untuk terus-menerus disebarkan dan diaplikasikan dalam keseharian masing-masing kita. :)

Respect bagi kami adalah kata sederhana yang sesungguhnya memiliki makna yang kompleks dan luas. Ia bukan hanya berarti saling mengakui, saling menghargai, atau saling mengormati. Sebab dalam kata ‘saling’ ada peran aktif dari pihak-pihak yang melakukannya, dalam ‘pengakuan’ ada kerendahan hati untuk melihat yang baik dan indah dari ‘yang lain’—sementara itu, dalam kata ‘menghormati’ dan ‘menghargai’ ada cinta, ketulusan, rasa kasih sayang, dan nilai kebaikan yang takterpermaknai. Respect barangkali hanya kata sederhana. Tapi kami percaya, jika setiap orang memaknainya, meresapinya, melakukannya dalam kehidupan masing-masing, betapa cinta kasih dan nilai-nilai kebaikan akan melingkupi kita semua. Terdengar naïf memang, ‘yang baik’ memang selalu terdengar begitu—tetapi kita juga tahu betul bahwa ‘yang baik’ juga selalu indah, terasa sampai ke dalam hati. Tak tertolak!

Unity. Kami menyadari bahwa untuk mengajak orang untuk bersikap ‘respect’ memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, kalau kita semua tergerak melakukan dan menularkan kebaikan-kebaikannya kecil dan sederhana di keseharian kita, bersatu untuk terus-menerus mengupayakan yang baik, kami percaya suatu saat kita bisa menyelesaikan dan membenahi kebobrokan-kebobrokan yang terjadi di sekeliling kita. Persatuan dalam cinta, kasih sayang, dan kebaikan inilah yang kami sebut sabagai: UNITY! Sendirian barangkali sulit mengubah dan mengalahkan kebusukan yang terlanjur jadi raksasa. Tetapi bersama-sama dan bersatu, kami yakin kita semua bisa mengalahkannya! :)

Terakhir, kitalah yang harus menjalankan semua ini. Ini tanggung jawab kita semua. Kau dan aku. Project sederhana ini kami rancang sedimikian rupa agar bisa melibatkan sebanyak mungkin orang dari berbagai kalangan. Ini bukan project Fahd Djibran, Bondan Prakoso, atau Fade 2 Black saja, tapi juga project kalian! Ini impian besar yang membutuhkan bantuan kalian semua, aku dan kamu, kita, untuk mewujudkannya! For All!

Kami membayangkan dunia yang dipenuhi rasa cinta, persahabatan, dan kasih sayang. Kami membayangkan dunia yang penuh senyuman dan sikap saling menghargai. Kami membayangkan sesuatu yang terlalu besar untuk kami wujudkan sendiri. Kami tahu itu. Tetapi kami juga tahu, jika kalian bersedia membantu kami, saling bergandeng tangan dan mengeratkan ganggaman, setidaknya kita punya kekuatan yang lebih besar untuk berusaha mewujudkannya... Kami yakin itu. :)

Apa Bentuknya?

1. Photo Campaign

Bayangkan kalau kita semua mengatakan hal yang sama pada dunia: RESPECT, UNITY FOR ALL! Bayangkan kalau banyak orang mengetahui tiga kata itu dan mulai tertarik untuk mengetahui maknanya, lalu mereka terkesan dan mulai berusaha melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari? Asyik, kan? Yuk, mari sebarkan tiga kata itu pada sebanyak mungkin orang. Berbicara sendirian barangkali tak akan terdengar, tetapi jika 100 atau 1.000 orang mengatakannya, kami yakin tiga kata itu akan mulai mencuri perhatian dan didengar! :)

Kami sadar, yang diucapkan dan didengar selalu gampang dilupakan. Tetapi yang ditulis dan dilihat akan tercetak baik dalam ingatan. Maka, di project ini kita tak perlu berteriak-teriak untuk menyebarkan tiga kata itu, kita bisa mengatakannya lewat gambar! :)

Mari sebarkan virus RESPECT, UNITY, FOR ALL dengan memasang profile picture kalian di FB, twitter, atau lainnya dengan berfoto sambil memegang selembar kertas HVS bertuliskan SALAH SATU KATA dari ketiga kata tersebut. Jika bisa, tulisan di kertas HVS diketik dengan font 'Garamond' ukuran 150. Foto kalian bisa juga disebarkan lewat blog, tumblr, flickr, atau lainnya.

Lihat contoh:



2. Book

Saya bersama-sama dengan Bondan Prakoso & Fade 2 Black juga berkolaborasi menulis sebuah buku. Ini akan jadi bentuk baru yang menggabungkan sastra dan musik dengan gaya yang lebih asyik, sebuah fiksi-musikal! Buku ini direncanakan terbit pada kuarter pertama tahun 2011. Semua proses penulisan sudah dilakukan, tinggal mengemas dan menyempurnakannya. Judulnya masih kami rahasiakan, ini akan jadi kejutan buat kalian semua. Mohon doanya, ya… :)

3. Presentation

Setelah dua hal di atas dilakukan, kampanye foto dan buku, kami berencana melakukan presentasi ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus di seluruh Indonesia untuk menyebarkan spirit RESPECT-UNITY-FOR ALL ini. Kami akan berdiskusi dan mengkampanyekan sikap saling menghormati dan menghargai (toleransi), keterbukaan berpikir (open minded), dialog antar kelompok/golongan, persatuan, dan seterusnya di kalangan anak muda Indonesia. Rencananya project ini akan melibatkan para Rezpectors (fan base Bondan Prakoso & Fade 2 Black) yang tersebar di seluruh Indonesia—dengan keanggotaan lebih dari 3 juta orang. Ayo dukung juga, ya! :)

4. Music

Bondan Prakoso & Fade 2 Black juga akan terus mengeksplorasi spirit ini dalam karya-karya baru mereka yang akan datang. Tunggulah album mereka berikutnya! :)



Join Us!

Terakhir, jika kalian merasa tergerak untuk membantu kami menyebarkan spirit ini, bergabunglah! Kalian di Jakarta, Bogor, Surabaya, Medan, Makasar, Tokyo, London, atau di manapun, peganglah tangan kami dan mari bergerak bersama! Kalian bisa mengikuti photo campaign kami, membaca bukunya, mendengarkan musiknya, atau mengikuti presentasi-presentasi yang akan kami selenggarakan. Mudah, kan? :)

Jika keberatan, tak apa-apa, kami merasa sangat berterima kasih sebab kalian sudah meluangkan waktu untuk membaca briefing sederhana ini. Kalau masih boleh merayu, tersenyumlah: lalu lihat dan rasakanlah dunia tampak begitu berbeda dengan damai dan cinta. :)


Respect, Unity, For All
Fahd Djibran – Bondan Prakoso & Fade 2 Black
Continue Reading...