Fahd Djibrna's Journal

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Tak Sempurna: Sebuah Novel


Sejak pertangahan 2012, saya dan Bondan Prakoso & Fade2Black (Bondan, Tito, Eza, dan Arie) berencana membuka awal tahun 2013 dengan karya baru: Sebuah novel kolaborasi fiksi-musikal berjudul Tak Sempurna. Kenyataannya, mengerjakan karya ini tak semudah yang dibayangkan. Kami gagal menyajikannya tepat di awal tahun. Sebab ternyata kami memerlukan waktu lebih untuk sejumlah riset, diskusi panjang, dan persiapan-persiapan penting lainnya. Di tengah kesibukan masing-masing, kami terus berkonsentrasi pada karya ini, kami ingin karya ini “maksimal”, meski kami juga tahu sulit menjadikannya “sempurna”. Syukurlah kini semuanya sudah selesai; Tinggal selangkah lagi, novel itu akan segera rilis pada Februari 2013.

Ada yang istimewa dalam perjalanan kami mengerjakan karya ini. Kami mengerjakannya dengan spirit yang lebih kuat, juga dengan visi yang lebih sejalan. Mungkin karena hubungan kami sudah menjadi lebih matang lagi, bukan sekadar saling kenal. Kami berjalan beriringan sebagai teman, atau sahabat, dalam pengertian yang sesungguhnya. Kami tidak hanya berhubungan dalam hal kreativitas, tapi hingga hal-hal lain yang lebih personal. Misalnya, di sela-sela diskusi, kami bisa bercerita tentang keluarga, anak-anak, repotnya mengurus rumah, atau curhat soal persoalan masing-masing. Yang lebih istimewa, kedekatan itu merambat ke aspek yang lebih kompleks dalam kehidupan masing-masing kami: Menyenangkan mengetahui bahwa istri kami juga jadi saling kenal, anak-anak kami bertemu dan bermain, dan lebih banyak lagi. Jangan tanya soal Eza, dia memang belum menikah, tapi tentu jadi Om paling keren bagi anak-anak kami.

Dua setengah tahun lalu ketika mulai mengerjakan Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM), kami baru saling mengenal. Sejujurnya, proses kreatif dilakukan dengan nuansa yang agak rikuh. Sebagai seniman yang berkarya di dua wilayah yang berbeda, kami masih saling membaca satu sama lain, scanning. Tapi syukurlah ternyata HBDM menjadi pembuka yang manis untuk proyek-proyek kreativitas kami berikutnya. Dengan berbagai kekurangannya, buku itu diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat, menjadi best-seller di toko-toko buku besar, membuat kami bangga dan tersenyum lebar. Ini rahasia: HBDM sebenarnya belum menggambarkan gagasan dan perasaan kami seutuhnya—ia hanya kepingan-kepingan cermin yang merefleksikan hal-hal yang berserakan di otak dan hati kami.

Tak Sempurna lebih mewakili kami sebagai individu. Ia memuat gagasan dan perasaan kami yang lebih utuh dan jujur tentang banyak hal. Juga harapan dan kegelisahan-kegelisahan. Untuk mengungkapkan semua itu, kami memilih dunia sekolah sebagai “medan bercerita”. Ya, boleh jadi kami meminjam sekolah sebagai sudut pandang untuk melihat dunia yang lebih luas. Bagi kami, sekolah adalah dunia yang sangat kompleks—miniatur kehidupan manusia. Kita bisa melihat banyak aspek penting kehidupan dari sana: Hubungan antar-manusia, anak-anak, keluarga, orangtua, birokrasi, politik, agama, masyarakat, harapan, kekecewaan, masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya. Jadi, meskipun kami bercerita tentang “sekolah” atau “anak sekolah”, sesungguhnya kami sedang menceritakan sesuatu yang lebih luas lagi.

Novel kami bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sekalipun dari kalangan tokoh-tokoh agama. Di kota itulah sekolah menjadi sekadar tempat “penitipan anak” bagi orangtua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orangtua yang tak peduli pada mereka. Juga ajang adu gengsi. Sementara itu, di tengah semua kekacauan sistem pendidikan, rekrutmen tenaga pengajar yang penuh kecurangan, dan kurikulum pendidikan yang berantakan, anak-anak ini masih ditekan dengan beban pelajaran yang kelebihan muatan, tugas-tugas, les panjang persiapan ujian, try out, ujian nasional, dan seterusnya.

Something has gone very wrong with our school! Itu kalimat kuncinya. Sudah bisa diduga, tentu saja, anak-anak seperti apa yang dihasilkan kehidupan kota semacam itu—sistem pendidikan semacam itu? Kami terkejut mendapatkan sejumlah fakta mengerikan dalam riset sederhana yang kami lakukan: Ratusan pelajar tewas setiap tahunnya akibat tawuran dan overdosisi obat-obatan terlarang. Para pelajar melakukan seks bebas sesering pesta minuman keras, aborsi di mana-mana, pembunuhan dan pemerkosaan sulit dihitung jumlah pastinya. Ya, semua itu dilakukan pelajar, remaja Indonesia di bawah usia 18 tahun! Anak-anak masa depan yang gelisah dan putus asa, tapi tak pernah diperhatikan! Ana-anak yang dibuang, ditekan, dibebani, untuk kelak dicaci-maki dan disalahkan!

Di novel tersebut, kami meminjam sudut pandang seorang remaja biasa untuk bercerita berbagai hal tentang dirinya. Namanya Rama. Dia menceritakan banyak hal tentang sekolah dan segala hal yang bersinggungan dengannya. Dari hal-hal yang bisa kita bayangkan hingga hal-hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Dari harapan hingga kekecewaan. Semua tentang sekolah. Semua tentang kehidupan mereka—anak-anak bangsa: Miniatur bagi kehidupan kita sesungguhnya!

Saya tak akan menulis lebih panjang lagi. Jika ingin tahu detilnya, tentu Anda semua harus membaca ceritanya. Kami sudah tidak peduli lagi cerita itu akan melahirkan “pro” atau “kontra” di tengah masyarakat. Kami hanya menceritakan kenyataan yang kami tangkap apa adanya. Lagi pula, sebuah karya, ketika sudah dilemparkan ke hadapan sidang pembaca, sepenuhnya menjadi milik pembacanya. Tugas kami sudah selesai, itu dia: Kami sudah menuliskannya menjadi sebuah cerita sederhana—yang barangkali memang tak sempurna. Namun dari cerita itu, kami berharap sesuatu: Semoga pikiran dan perasaan kita terbuka, ada jutaan anak-anak Indonesia yang harus kita perhatikan dan selamatkan masa depannya!

Bagaimana kisah ini dituliskan? Kami tetap menyebutnya fiksi-musikal. Kami tak peduli pada genre, sebenarnya. Seperti jika saya menulis atau jika Bondan Prakoso & Fade2Black menulis dan menyanyikan lagu. Bisa apa saja namanya. Tapi mungkin novel ini memang dituliskan dengan cara yang tidak biasa. Bacalah sambil mendegarkan lagu-lagunya. Cerita dan lirik-lirik lagu yang terdapat di dalamnya merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Inilah yang disebut kolaborasi, sebuah karya yang dirancang dan dilahirkan dengan spirit saling melengkapi!

Akhirnya, kami mempersembahkan novel ini untuk orang-orang terkasih di sekeliling kami, adik-adik kami para pelajar di seluruh Indonesia, juga Rezpector sejagat raya! Mari akhiri semua kebodohan untuk menjadi generasi Tak Terkalahkan—


Kau yang di sana, yang berjiwa lemah,
Mendekat padaku! Raih tanganku!
Karena ku di sini pantang menyerah,
Bersatu kita kuat, bersama kita hebat
dan tak kan terkalahkan!

Respect & Unity For All, RUFA,
Fahd Djibran – Bondan Prakoso & Fade2Black


Tak Sempurna: Sebuah Novel
Fahd Djibran feat Bondan Prakoso & Fade2Black
Tebal: 240++ halaman
Harga: Rp. 46.000,-
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Pre-Order Edisi Tandatangan: Kurniaesa, Bukukita, Bookoopedia
Tersedia di toko-toko buku nasional seluruh Indonesia mulai pertengahan Februari 2013.
Continue Reading...

Hidup ‘Kan Baik-baik Saja

Belum usai rasa syukur saya karena ratusan doa berdatangan—bahkan dari mereka yang belum saya kenal—setelah posting saya berjudul TIGA, saya merasa ulang tahun pernikahan saya dan Rizqa tahun ini benar-benar berbeda sekaligus istimewa: Tuhan mengirim begitu banyak cinta, kebahagiaan dan keberkahan!

Pagi ini saya dan Rizqa mendapat kado istimewa dari sahabat kami, Fiersa Besari. Pagi-pagi sekali ketika saya buka dinding Facebook saya, Fiersa menulis: “Untuk Bung Fahd Djibran dan istri tercinta, smoga suka ;)” diiringi sebuah tautan ke kanal Soundcloud miliknya. Saya segera membukanya, mendengarkannya, dan: Oh Tuhan, ini lagu indah yang sederhana tetapi luar biasa!

Terima kasih Bung Fiersa, kamu selalu mengagumkan! Saya sampai tak tahu lagi harus berkata apa. Dan pagi-pagi sekali, kamu telah berhasil membuat mata Rizqa berkaca-kaca mendengarkan lagumu! Seperti rencanamu, kami berdua tersenyum sepanjang mendengarkannya, dengan rasa hangat memenuhi dada.

Tentang lagu Fiersa yang indah itu, saya ingin kalian turut mendengarkannya. Judulnya Hidup ‘Kan Baik-baik Saja.



Cerita kita tak semanis dongeng
Atau bagai drama sinetron cengeng
Kau bukan artis, ku bukan pujangga
Namun kisah ini sangat berharga

Hingga rambutmu memutih
Hingga perutku membuncit
Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Menikmati hujan sambil berdendang
Berpegang tangan saat senja datang
Senyumanmu membuat nyali ciut
Jangan bersedih, kau jelek jika cemberut

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat
Hati ini tak kan pernah tua

Gara-gara Fiersa, tiba-tiba saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu. Judulnya Pengakuan, silakan baca sambil mendengarkan lagu Fiersa (lagi) :)

Pengakuan
: Untuk Rizqa

Demikianlah, Sayangku, sejak jatuh ke dalam lubang-hitam cinta dalam matamu, sejak itu pula aku mengubah semua rencana dan cita-citaku—

Aku hampir tak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan, tentang apakah ia cukup bergengsi atau bisa menghasilkan banyak uang: Aku tak lagi membayangkan kesuksesan melulu tentang hal-hal yang demikian besar sekaligus mewah.

Barangkali aku ingin jadi musisi: Aku ingin menciptakan lagu-lagu yang tak akan pernah habis kau nyanyikan sepanjang hidupmu. Aku akan bahagia mendengarnya, Sayangku: Suara kecilmu menyanyikan lagu-laguku di dapur, di kamar, di ruang makan, di halaman belakang—sementara aku yang belum mandi memetik gitarku sambil tersenyum memandangmu menjemur pakaian, menyeduh kopi atau membersihkan lemari.

Demikianlah, Sayangku, sejak aku jatuh cinta pada caramu berjalan, atau caramu mengantuk, atau caramu menggigit bibir bagian bawahmu, juga rambut-rambut halus yang tak begitu rapi di belakang lehermu, sejak itu pula aku selalu ingin punya mesin perekam dalam retina mataku—

Aku ingin menyimpan semua gambar tentangmu: Saat di rumah, saat liburan dan jalan-jalan, atau saat anak pertama kita menikah dan anak kedua kita diwisuda. Aku akan memasang lagu-lagu favorit kita menjadi suara latar video-video kita. Dan untuk bagian-bagian yang tak ingin aku lupakan sepanjang hidupku: Aku ingin membuatnya dalam gerak lambat. Aku akan selalu berbahagia merekamnya, Sayangku: Terutama saat aku merekam videomu dari belakang, mengabadikan langkah-langkah kakimu yang jenjang memapah langkah-langkah kecil anak pertama kita yang sedang belajar berjalan.

Dan sejak aku jatuh cinta pada bagaimana caramu membaca, Sayangku, sejak itu pula aku belajar menulis—

Demikianlah aku mencintaimu dengan caraku yang sederhana: Sehingga ketika kau tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika akupun menjadi penulis paling berbahagia di dunia.

Ah, gara-gara semua ini, saya jadi ingin mengumpulkan catatan-catatan saya tentang perasaan agar bisa diarsipkan, syukur-syukur dibukukan. Kelak kalau sudah tua, atau kapanpun saat hubungan kami perlu diperbaiki, saya ingin membacanya bersama-sama Rizqa.


Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini
Hidup kan baik-baik saja

Salam baik,
Fahd & Rizqa

Baca juga: TIGA (Sebuah Catatan Sederhana).
Continue Reading...

Pemenang Lomba Review Revolvere Project

Dear All,

Setelah membaca seluruh review, sejujurnya kami jadi sangat kebingungan. Bagaimana menentukan pemenang lomba ini jika semua review bagus? Ah, saat membacanya satu per satu, kami senang bukan main. Kami tak pernah menyangka karya kami akan diterima dan diapresiasi dengan cara begitu beragam—sekaligus kaya. Kami juga membaca semua kritik dan saran yang sangat penting dan berguna bagi pengembangan karya kami berikutnya.

Setelah menimbang-nimbang, kami akhirnya bersepakat: Ini lomba review Revolvere Project. Artinya, yang di-review haruslah semua unsur yang terdapat dalam Revolvere Project, baik fiksi, musik, dan visualnya. Kalau boleh jujur, sayangnya, beberapa di antara review yang sebenarnya sangat bagus, melupakan unsur-unsur itu. Beberapa review yang sebenarnya sangat bagus itu terlanjur terjebak pada pembahasan “isi” atau “tema” tulisan Revolvere Project dengan agak mengabaikan unsur musik dan visualnya.

Maka, dengan senang hati, berikut kami umumkan para pemenang untuk ketiga kategori yang kami buat dalam lomba review Revolvere Project:

Review Terbaik
Dodi Iswandi Mauliawan | Tembakan Pengingat Keselarasan: Review Karya Revolvere Project ke-3

Review Pilihan Juri
Ila Rizky Nidiana | Review Revolvere Project – Kau yang Mengutuhkan Aku

Review Favorit
Sinta Novizah | Review Revolvere Project (Fahd-Fiersa-Futih)

Kami ucapkan selamat dan terima kasih kepada para pemenang. Silakan mengirimkan biodata singkat berisi nama, alamat, dan nomor kontak ke e-mail revolvereproject@yahoo.co.id atau ke fahdisme@yahoo.co.id. Hadiah akan kami kirimkan segera ke alamat masing-masing. :)

Akhirnya, terima kasih kepada semua yang sudah mengikuti lomba review ini. Tak ada penghargaan yang layak kami berikan kecuali dalam bentuk karya selanjutnya—yang mudah-mudahan lebih baik lagi. Tunggu saja.

Salam Kreativitas,
Fahd Djibran
Futih Aljihadi
Fiersa Besari

Continue Reading...

Hiduplah Dengan Mulia, Gloria!

Sajak berikut ini merupakan terjemahan sekaligus interpretasi bebas saya terhadap lagu Viva la Gloria (Little Girl) milik Green Day pada album mereka 21st Century Breakdown (2009).

Sejak pertama kali mendengarkan lagu ini, saya jatuh cinta pada pendengaran pertama. Seperti lagu dan lirik-lirik lainnya yang kebanyakan ditulis Billie Joe Armstrong, lagu dan lirik Viva la Gloria memiliki pesan yang kuat dan indah yang dibalut dalam harmoni dan entakan musik punk-rock khas Green Day.

Tidak banyak orang yang ngeh pesan-pesan penting di balik lagu-lagu Green Day, sebab barangkali mereka sengaja membiarkan pendengar atau pengapresiasi karya mereka menafsirkannya sendiri. Sejak pertama kali memutuskan menjadi fans mereka pada tahun 2001-2002, ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya selalu ingin suatu saat orang tahu kedalaman pesan yang mereka sajikan di lirik-lirik lagu mereka. Sekarang, inilah yang saya bagi: viva la gloria, sebuah ungkapan dalam bahasa Italia yang juga berarti "hiduplah (dengan) mulia!" atau dalam istilah bahasa Arab sering kita temukan sebagai "'isy kariiman!".

Selamat menikmati, tentu saja. Sebelumnya, saya sajikan video musiknya terlebih dahulu, silakan dilihat dan didengarkan. Video ini merupakan documentasi live concert mereka di Tokyo, Jepang, Awesome as F—k (2010)—



Hiduplah Dengan Mulia!



Hei Gloria,

Apakah kini kau
membiarkan dirimu berdiri
tegak di tubir jurang
seperti kami yang senja
memandang jauh matahari terbenam
: sungguh, cerita tentang
masa muda yang abadi
adalah lanskap kebohongan

Lihatlah,
bekas-bekas luka di kulitku
membuktikan semuanya
tahun-tahun yang terus
akan menjadi saksi

bacakanlah doa-doamu
nyalakanlah api semangatmu—
Kita akan memulai sebuah perjuangan
: keyakinan sebagai pejuang yang tangguh,
itulah yang kami tunggu darimu

Hei Gloria,

perhatikanlah,
inilah sebabnya
mengapa kini kami berdiri
di gigir jurang perjuangan
hidup kami (yang hancur)
dihabiskan demi cinta
pada masa muda
yang kami kira abadi

Gloria, hiduplah dengan mulia!

(Aku melihatmu)
Meledakkan namamu
jadi graffiti di tembok-tembok
(aku melihatmu)
membiarkan hidupmu jatuh
jadi pecahan-pecahan kaca
yang menyayat semangat dan keberanianmu
: aku bisa mendengarmu
menjerit bagai manusia-manusia
yang patah hati

(Gloria, jangan biarkan dirimu tersesat)
Di manakah kau kini, Gloria?
Kau kira bisa menemukan ‘rumah’
pada luka-luka pertarungan dan senjata?
Bisakah kau membuat tempat tidurmu
bagai anak muda yang ceria
di antara kepul asap dan puing-puing
sisa kehancuran masa mudamu?

(Dialah yang menghantamkan
buku-buku jari hidupnya
ke musim dingin
bagai deru angin musim gugur
yang lenyap menjadi gelap;
Dialah penyelamat para pendosa;
Dialah amsal yang telah menjatuhkan
dirinya sendiri ke dalam lubang luka masa remaja
: maka jangan padamkan nyala apimu!)

Gloria, hiduplah dengan mulia!
Jangan padamkan keyakinmu,
kau tak perlu kehilangan sikap baikmu—
(Kau tak perlu mengulangi kesalahan kami,)
Kau tak perlu merasakan lagi
badai November penghabisan,
yang tersebab olehnya,
kami kehilangan rasa bangga

Gloria, hiduplah dengan mulia!
Maafkanlah aku
manusia sakit hati yang gagal—
Berilah kami harapan, bagai musim-musim
yang akan selalu kami kenang
: jangan padamkan semangatmu
—kobarkan perjuanganmu sendiri

Kelak, Gloria, ceritakanlah pada kami
hidupmu yang penuh cahaya
menaungi malam-malamu yang ceria

Maka Gloria,
Apakah sesungguhnya (cinta) yang abadi?
(Cinta yang dengan tulus memberimu
kesempatan untuk tumbuh)—
Membiarkanmu menceritakan
kisah hidupmu sendiri!

:::::::::

Lirik asli:

Viva La Gloria!

Hey Gloria

Are you standing close to the edge
lookout to the setting sun
the brink of your vision
: eternal youth is
a landscape of the lie

The cracks of my skin can prove
as the years will testify

Say your prayers and light a fire
We're going to start a war
: your slogan's a gun for hire
it’s what we waited for

Hey Gloria,

This is why we’re on the edge
the fight of our lives been drawn to
this undying love

Gloria, Viva La Gloria!

You blast your name
in graffiti on the walls
falling through broken glass that’s
slashing through your spirit
: I can hear it like a jilted crowd

Gloria, where are you Gloria?
You found a home
in all your scars and ammunition
You made your bed in salad days
amongst the ruin
ashes to ashes of our youth

(She smashed her knuckles into winter
as autumns wind fades into black
She is the saint on all the sinners
the one that's fallen through the cracks
: So don’t put away your burning light)

Gloria, where are you Gloria?
Don't lose your faith
to your lost naiveté
Weather the storm and don’t look
back on last November
when your banners were burning down

Gloria, viva la Gloria!
Send me your amnesty down
to the broken hearted
Bring us the season
that we always will remember
: Don’t let the bonfires go out

So Gloria,
Send out your message of the light
that shadows in the night

Gloria, where’s your undying love?
Tell me the story of your life!


Fahd Djibran | Serpong, 13/1/2012
Continue Reading...

#YGYM dan 10 Besar API 2011

Hari ini saya dapat kabar bahwa buku saya "Yang Galau Yang Meracau" masuk 10 besar nominasi peraih Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2011 untuk dua kategori (buku non-fiksi terbaik dan sampul buku non-fiksi terbaik 2011).

Saya tidak berharap menang, sampai di sini saja sudah harus sangat bersyukur. Terima kasih atas dukungan dan apresiasinya selama ini, sahabat Ruang Tengah. Saya sudah sangat berbahagia karena karya saya dibaca, tambah bahagia karena kini buku tersebut best-seller dan dihargai orang, jika terpilih menang: semata-mata karena Tuhan melebihkan nikmatnya buat saya, hambanya yang bebal dan kurang ajar.

Bagi yang ingin memberi dukungan, silakan klik link ini. Saya tidak akan meminta apalagi memaksa. Kalau memang baik dan layak, pilihlah. Jika tidak, mudah-mudahan buku itu tetap bermanfaat.

Itu saja :-)
Continue Reading...

Racauanku [Review oleh DK Alamsyah]

Review oleh Devy Kurnia Alamsyah


Hueekkkk…

Semua yang kutelan tadi menyembur semua. Aneka warna. Tak perlu pula kudeskripsikan apa saja yang sudah kumakan tadi siang. Cukup aku saja yang menatap nanar sembari mengatur napas dan mengeluarkan yang tersisa. Jika masih ada.

Mataku berair. Ada satu kelesat tak menyenangkan di setiap lendir, lalu aku lontarkan kembali ke mulut jamban. Tak perlu pula aku jabarkan lagi apa yang keluar tadi siang.

Aku heran. Tubuh ini, akhir-akhir ini, tak lagi bisa diprediksi iramanya. Apa yang dikecap lidah terasa pahit. Apa yang masuk ke perut keluar kembali tak lama kemudian. Ada apa ini? Dua minggu makan tak teratur, kadang tanpa tidur, membuat potensi penyakit singgah sungguh tak terukur.

Ini pula yang terjadi. Tadi. Saat aku sedang membaca “Yang Galau, Yang Meracau!” bagian pertama halaman duapuluhtiga yang kebetulan pula menorehkan kalimat “ada mual yang mendesak perutku” saat itu pula aku berlari sembari memegang mulutku yang terasa penuh. Tampaknya, kalimat itu jadi penyebab lambungku berkontraksi. Mungkin juga tidak. Tapi tak perlu pulalah berulang-ulang kuceritakan apa yang kukeluarkan tadi siang.

Ya, tadi siang aku membeli beberapa buku di Kota Karbon book fair yang entah kapan bisa ada di Kota Tercinta. Itu buku Fahd Djibran yang kini masih kubaca. Ada Sebelas Patriot Andrea Hirata. Lalu tiga buku sejarah tentang “pemberontakan” M. Natsir, tentang pertumbuhan koran di Sumatera Westkust dan satu buku dari Frances Gouda yang mengatakan Indonesia merdeka karena Amerika. Itu buku yang akan menyusul untuk dibaca.

Beberapa saat sebelumnya, ketika aku tengah menunggu bus ke arah Senayan, seorang bocah berbaju kumal menepuk pundakku. Ia sepertinya berumur sekitar sepuluh atau duabelas tahun. Kurang lebih. Ia menatapku dengan sorot mata menghiba. Ia lalu menaikkan tangan kanannya sembari membalikkan telapak tangan sehingga aku bisa melihat tak ada apapun di tangannya.

“Kak, boleh minta empatribu ga? Aku lapar. Belum makan dari tadi.”

Aku mengurungkan niatku untuk naik bis. Aku teringat nazarku beberapa waktu lalu. “Tunggu sebentar ya,” aku melihat sekitar. Tak ada warung makan.

Bocah itu menelisikku dengan seksama. Tangannya sudah tak terangkat. “Aku lapar, Kak.”

Bocah itu mengulang lagi perkataannya. “Oke, kamu sini. Ikut aku,” aku menggenggam tangannya lalu membawanya ke satu titik. Aku melihat ada orang menjual ketoprak pas di pangkalan taksi yang argonya tertulis tarif lama.

Bocah itu malah melepaskan tanganku dengan kencang.

“Kenapa? Kamu lapar ‘kan? Sini aku beliin ketoprak.”

Bocah itu menggeleng. “Uangnya saja Kak.”

Aku terdiam. Tadi dia kelaparan kenapa sekarang sudah kenyang saja?

“Aku uangnya saja, ‘Kak. Sudah kenyang.”

Aku tak tahu apakah ia menolak tawaranku karena tak mau bohong suka ketoprak, atau dia memang jujur lebih memilih uangnya daripada makanannya. Aku melihat ke matanya. Bocah itu mulai salah tingkah. “Aku ga akan kasih kamu uang. Tapi kalau kamu mau makan, aku beliin itu ketoprak.” Entah kenapa, nada yang keluar dari mulutku seakan terdengar mengancam.

“Uang saja, ‘Kak.” Bocah itu bertahan.

“Sekali lagi aku tawarkan, atau tidak sama sekali. Aku ga suka dibohongi, kamu bilang tadi lapar, aku kasih makan kamu malah menolak. Mau atau tidak?” aku kembali memastikan sembari melihat Kopaja yang mendekat.

Bocah itu menggeleng.

“Ya sudah. Aku ga akan kasih kamu uang.” Aku pun naik ke dalam Kopaja sambil memandangi bocah itu yang terdiam di pinggir trotoar entah sedang memikirkan apa.

Itu yang terjadi satu jam sebelum aku membeli “Curhat (Tuan) Setan” itu. Dua jam sebelum aku makan siang dan tiga jam sebelum mual-mual. Empat jam sebelum aku membaca buku itu sepanjang Semanggi-Depok. Lalu catatan ini aku tulis sepuluh jam setelah aku selesai membaca halaman delapanpuluhdelapan.

Entah kenapa, Fahd selalu bisa membuatku merinding membaca tulisannya. Buku itu berbicara—walaupun di beberapa bagian terlihat samar kopiannya dan pengeditan kata-katanya masih belum sempurna—tentang kegalauanku. Tentang apa yang selama ini sibuk berkelindan di kepala. Ini buku berbahaya! Tidak untuk dibaca oleh segelintir orang. Buku ini harus dibaca banyak orang. Buku ini berbahaya!
Membaca Fahd, aku seperti membaca Shawni yang menggunjingkan “kegilaan” Tuhan dalam bukunya “The Madness of God”. Aku seperti membaca gulungan doa Rabi’ah al Adawiyah—orang yang ingin menyiram neraka dengan air dari bejana yang ia bawa dan membakar surga dengan obor yang ia bawa supaya tak ada lagi yang beribadah karena takut terkena api neraka dan hanya beribadah untuk mendapat hadiah surga. Ia berbicara tentang Hannah Arendt—orang yang mengatakan tentang banality of evil. Ia juga menyinggung Soren Kierkegaard. Aku seperti membaca Julia Kristeva yang berbicara tentang dunia abjeksi—dunia yang terisi dengan ambiguitas moral—dunia yang penuh kebohongan. Entah mungkin ia akan menyinggung Friedrich Nietzsche sehabis ini sembari membawa obor di siang hari dan berteriak lantang: “Tuhan telah mati! Tuhan telah mati! Kita yang membunuhnya!”

Entahlah. Aku belum selesai membacanya. Aku baru sampai halaman delapanpuluhdelapan. Tapi ada satu bagian yang terus membuat pikiranku berpetualan menembus waktu—seakan ingin mengulang kembali. Rewind. Bagian itu tentang “Al-Quran yang dibakar!”. Aku merenung lama di sini. Ada kebenaran di sana. Lagi-lagi, ada virus ihsan di sana. “Kita yang membakarnya. Kita yang membakar Al-Quran. Kitalah yang menelantarkannya!” Mungkin begitu ucap Nietzsche jika hari ini masih hidup.

Ah, begitulah Fahd. Aku kembali teringat bocah tadi siang.

Aku kembali teringat nazarku menjelang ujian pra-tesis.

Aku jadi berpikir, kenapa untuk sebuah kebaikan, kita harus menunggu setiap keinginan untuk lebih tercapai baru melaksanakan apa yang selama ini dinazarkan. Jika keinginan tak tercapai maka nazar batal. Bukankah Epikurus pernah mengatakan, “berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan hari ini, karena bukankah apa yang telah kau dapatkan selama ini adalah bagian dari keinginanmu terdahulu.” Jadi, lakukanlah kebaikan itu. Jangan tunda-tunda kebaikan. Lakukan saja. Lihat apa yang terjadi. Itu kalimat yang sepertinya buku itu lontarkan ke mukaku.

Aku berhenti di halaman delapanpuluhdelapan.

Selepas magrib, aku pun keluar hendak mencari makan. Di tengah jalan aku berpapasan dengan seorang tua renta yang berjalan tertatih memapah tubuh ringkihnya. Tongkat yang menopang tangannya menjadi kaki ketiga baginya. Ia berhenti di setiap toko sembari mengatakan “lapar”.

Aku melihat sekilas ke arah perempuan renta itu. Ia balas menatapku. Belum sempat ia menengadahkan tangannya aku sudah berlari terlebih dahulu. Lihat, Fahd, aku akan melaksanakan kebaikan itu. Aku tak mau kejadian tadi siang berulang seperti pada bocah itu. Aku tak mau kalah lagi. Aku harus berhasil kali ini. Aku berlari ke arah penjual somay terenak di sepanjang Margonda. Aku belikan sebungkus.

Perempuan renta itu berjalan terseok. Ia masih menyempatkan menyinggahi toko-toko, dan mengatakan hal serupa. Aku meminta si penjual agak bergegas membungkus itu somay, karena hujan mulai rintik. Setelah membayar aku berlari ke arah perempuan itu.

“Aku tahu nenek lapar. Ini aku kasih somay buat nenek, dimakan ya,” ujarku. Plong rasanya. Seperti inikah rasa senangnya melakukan kebaikan itu?

Tapi, ada yang aneh di tatapan nenek itu. Ia tak mengucapkan terima kasih. Ia bahkan tak mau memegang plastik berisi somay itu. Ia malah membuka tasnya. “Nenek sudah kenyang.”

“Tapi, tadi…” aku mulai bingung. “Ya, sudah nenek bawa saja untuk anak cucu nenek,” sambil berusaha memasukkan sebungkus somay ke dalam tasnya yang sempit.

“Nenek tinggal sendiri. Ga ada yang akan makan somay ini. Uangnya saja.”

Aku mulai merasa aneh, bukan pada si nenek, tapi pada tubuhku. Aku mulai mual. Aku mulai menggesakan tanganku memasukkan somay ke tas si nenek. Sempit. Aku harus menggeser beberapa benda. Aku terbelalak melihat isi tas si nenek. Aku tertawa. Aku menatap si nenek itu tak percaya. Ragam pertanyaan berkelindan.

Tiba-tiba ada sesuatu yang melesak dari lambungku. Aku memegang kembali mulutku. Aku permisi. Aku mencari-cari tempat di mana aku bisa menenangkan perutku.

Si nenek itu berjalan pelan. Ke arah tukang somay. Aku sudah tak tahan. Aku bekap mulutku. Aku lalu berlari ke kamarku tak mengindahkan si nenek yang kembali menengadahkan tangannya sembari berkata “lapar” ke orang yang sedang makan somay.

Tak perlu pulalah kucerita apa saja yang tercampak di atas keramik tadi.[]


Depok, 5 Juli 2011

*Terima kasih, Fahd. Aku belajar banyak hari ini.

Sumber dari sini.
Continue Reading...